Makan Belut di Atas Peti, Bisnis Street Food Gak Akan Mati!

Ilustrasi street food (Foto: Freepik)

Like

Memiliki hobi mencicipi berbagai jenis kuliner, memberi inspirasi bagi Gita Swarantika untuk membuka food street sebagai pusat wisata kuliner sekaligus tempat berkumpul dan santai bersama teman dan keluarga di kawasan Intermoda BSD, Tangerang.

Gita mengakui bahwa dirinya memang  tidak terampil membuat masakan, tetapi karena hobinya yang senang kuliner, istri dari Abdul Hamid ini memiliki banyak kenalan pelaku usaha yang memiliki berbagai jenis makanan dengan cita rasa nikmat.

Di sisi lain, wanita kelahiran 1983 ini melihat adanya lahan kosong yang sebetulnya dapat dimaksimalkan sebagai pusat kuliner atau food street dengan lokasi yang nyaman dan bersih, khususnya untuk warga di Tangerang.

“Di Pasar Modern Intermoda ini aku lihat ada lahan parkir yang hanya digunakan pagi sampai sore, sedangkan malam hari itu kosong. Kebetulan yang megang lahan parkir dan security itu suami saya. Jadi saya coba berbicara dengan suami, dan mendapat dukungan. Lalu, saya pun mengajukan  kepada pihak Sinarmas untuk memanfaatkan lahan parkir tersebut menjadi Food Street,” ujarnya.


Untuk melakukan proses negosiasi dan pendekatan dengan Sinarmas sebagai pemilik lahan, Gita membutuhkan waktu sekitar 1 tahun hingga akhirnya disepakati untuk menggunakan lahan tersebut. Hal paling utama yang dipertanyakan adalah mengenai konsep, keunggulan, serta sistem kerjasama yang diajukan.

Setelah mendapat kesepakatan, dia pun lantas menyiapkan konsep yang berbeda dari street food lainnya, terutama dengan menghadirkan street food yang bersih, nyaman, dan rapi dengan berbagai menu makanan yang nikmat tetapi tidak membuat kantong bolong.

“Biasanya street food itu kan tendanya beda-beda tergantung dari masing-masing tenant. Di sini kami menyediakan tenda dengan bentuk yang rapi dan seragam sehingga tenant tidak perlu bongkar pasang tenda lagi,” ujarnya.


Awalnya, food street yang diberi nama GS Food Street ini rencananya akan dibuka pada April tetapi karena adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akibat pandemi Covid-19, maka proses pembukaan terpaksa harus tertunda dan baru dimulai pada Juli kemarin.

“Ternyata antusiasme masyarakat terhadap GS Food Street ini cukup besar. Saat proses opening, jumlah pengunjung cukup banyak tetapi kami tetap memberlakukan protokoler kesehatan,” tuturnya.


Saat ini, rata-rata jumlah pengunjung mencapai 200 orang per hari dengan waktu operasi mulai dari pukul 4 sore hingga 10-11 malam sehingga cocok untuk tempat nongkrong dan kuliner di malam hari.


Untuk meramaikan pengunjung, Gita juga menyediakan panggung untuk live music. Selain melalui penjualan langsung, para tenant juga didaftarkan di aplikasi pesan antar makanan sehingga bisa menjadi salah satu cara mendongkrak penjualan.

Guna memudahkan proses pembayaran, para tenant menerima proses pembayaran secara tunai maupun nontunai. Saat ini proses pembayaran dilakukan di masing-masing tenant, tetapi kedepannya Gita tengah merencanakan untuk memfokuskan pembayaran pada satu kasir.

Adapun jumlah tenant yang terdaftar saat ini mencapai sekitar 37 tenant, mulai dari kuliner nusantara, Asia, hingga Barat dengan harga jual mulai dari Rp17.000 hingga Rp35.000. Misalnya Taichan Modus, Seafood 32, Ropang Sekuy, Roti Bakar 4 Sekawan, Ah! My Bowl, Bubur Ayam Cakwe Kang Ndang, Sop Kaki Kambing Bang Yon Kumis 79, dan lain sebagainya.

Pihak GS Food Street sendiri saat ini menyediakan tempat dengan harga sewa sekitar Rp2,5 juta hingga Rp2,7 juta per bulan. Dengan biaya sewa tersebut, para tenant mendapatkan tempat berukuran 6x4, fasilitas air, dan listrik, serta tempat penyimpanan booth/gerobak secara gratis dalam 3 bulan pertama.

Harga sewa tersebut terbilang cukup terjangkau dengan lokasi yang terbilang sangat strategis, berada tidak jauh dari Aeon Mall dan terletak di antara gedung pasar modern dengan stasiun terkoneksi pintu masuk dan keluar. Selain itu, lokasinya juga tidak jauh dari kampus yang berada di kawasan BSD.

“Secara fisik, keberadaan GS Food Street ini diuntungkan, karena pengguna KRL, bus, dan pengunjung pasar modern dapat memanfaatkan pusat jajanan kami. Mudah-mudahan setelah PSBB berakhir jumlah kunjungan akan makin banyak karena memang posisinya yang cukup strategis,” tuturnya.


Saat ini, Gita masih terus memantau perkembangan GS Food Street ini sehingga hampir setiap hari dia mengunjungi lokasi sehingga jika ada keluhan dari tenant bisa langsung segera diatasi. Sebab, sebagai pemilik dan pengelola, Gita merasa bertanggung jawab dengan para tenant.

“Aku enggak hanya berharap lapak terisi, yang penting uang sewa masuk, tapi bagaimana agar tempat ini bisa tetap ramai, dan pedagang pun juga senang,” tuturnya.


Selain di kawasan Intermoda, Gita juga berencana untuk membuka di kawasan lainnya, mengingat cukup banyak tenant yang berminat untuk ikut bergabung bersama di GS Street Food. Hingga saat ini sudah ada sekitar 8 pelaku usaha kuliner yang masuk dalam daftar waiting list.

“Ini menunjukkan bahwa antusiasme pelaku usaha kuliner yang ingin bergabung cukup besar. Tidak menutup kemungkinan aka nada lahan lain yang bisa digunakan untuk membuka GS Street Food di wilayah lainnya,” ujar Gita.


Dia mengatakan bahwa sebetulnya bisnis food street ini memiliki prospek yang cukup besar sebab setiap orang pasti senang makan dan mencoba berbagai macam kuliner. Apalagi, biasanya para pelaku usaha kuliner ini pun selalu mengembangkan inovasi baru yang banyak dicari oleh masyarakat.

“Potensi untuk kuliner food street ini masih sangat besar. Untuk tenda-tenda ala kadarnya saja, banyak pengunjung, apalagi untuk food street yang rapi dan nyaman,” ujarnya.