Pekerja menyelesaikan pembuatan furniture. Sumber: Bisnis Indonesia
Be-emers, furniture merupakan salah satu komoditas ekspor andalan Indonesia untuk meraih devisa, sehingga para pelaku usaha dari berbagai latar gender, mesti serius mengembangkan bisnis ini.
Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Himki) menargetkan nilai ekspor furniture dari Indonesia mencapai US$6 miliar dalam waktu lima tahun ke depan. Asosiasi itu optimistis mencapai target yang jauh lebih tinggi dari capaian teraktual yakni di kisaran US$2,9 milair hingga US$3,2 miliar.
Diutip dari Himki.id, Ketua Umum Himki, Abdul Sobur mengatakan bahwa potensi pertumbuhan industri furniture di Indonesia masih sangat terbuka. Bahkan menurutnya. Target US$6 miiar itu sebenarnya baru 1 persen dari pasar dunia. Hal ini berarti ruang bagi pelaku industri furniture Indonesia untuk terus bertumbuh masih terbuka lebar.
Nah untuk mencapai target nilai ekspor sebesar US$6 miliar, Himki kemudian melakukan transformasi dalam strategi pemasaran global. Strategi yang dipilih yakni ‘jemput bola’ membangun hub bisnis furniture di berbagai kawasan strategis.
Cara ini cukup revolusioner karena sebelumnya, pelaku usaha lebih bersifat pasif yakni menunggu pembeli di ajang pameran.
Hub yang dimaksud salah satunya adalah pusat informasi dan transaksi. Himki menyatakan, hub ini diracang sebagai pusat yang menghubungkan ribuan anggota Himki dengan calon pembeli, baik secara digital maupun secara langsung atau luring.
Hub yang lain yaitu akselerasi ekspor, di mana pendekatan ini diharapkan mampu mempercepat transaksi ekspor dan membuka akses pasar yang lebih luas. Sementara hub yang ketiga yakni fokus pasar yang tetap menjadikan Amerika Serikat sebagai pasar utama, namun ekspansi juga diarahkan ke kawasan strategis lainnya.
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.