Komunitas olahraga (Sumber: Freepik)
Like
Di awal mulai olahraga, saya merasa semuanya baik-baik saja jika dilakukan sendiri.
Saya hanya tinggal ke GBK, pasang earphone, lalu fokus menyelesaikan target hari itu. Tapi lama-lama saya sadar, menjaga konsistensi olahraga ternyata jauh lebih sulit dibanding memulainya.
Ada hari ketika rasa malas datang ke GBK. Kadang pekerjaan membuat capek, cuaca tidak mendukung, atau tubuh terasa ingin goler-goleran saja di tempat tidur.
Di titik itu, semangat olahraga perlahan mulai turun. Dan ternyata, banyak orang mengalami hal yang sama.
Komunitas Olahraga Membuat Tidak 'Lonely'
Beberapa waktu terakhir, saya mulai melihat semakin banyak komunitas olahraga bermunculan seperti running club, padel, tenis, badminton dan lain sebagainya.Menariknya, orang datang bukan hanya untuk olahraga, tetapi juga untuk mencari suasana yang lebih menyenangkan.
Ketika olahraga dilakukan bersama orang lain dengan ketertarikan yang sama, ternyata rasanya berbeda.
Ada energi yang muncul karena melihat orang lain juga berusaha menyelesaikan latihan mereka.
Kadang hal sederhana seperti diajak ikut lari pagi, saling menyemangati, atau sekadar ngobrol setelah olahraga, bisa membuat saya lebih termotivasi untuk datang lagi.
Olahraga Jadi Lebih Konsisten karena Ada Rasa “Tidak Enak”
Lucunya, salah satu alasan komunitas efektif membuat orang rajin olahraga adalah karena muncul rasa “tidak enak” jika tiba-tiba menghilang.Kalau olahraga sendiri, kita bisa dengan mudah berkata: “Besok aja deh.” "Nanti sore saja deh" dan lain sebagainya.
Tapi, ketika sudah punya komunitas, biasanya ada teman yang bertanya: “Besok ikut, kan?”
Hal kecil seperti itu ternyata cukup membantu menjaga konsistensi.
Karena pada akhirnya, banyak orang bukan kurang mampu olahraga, tetapi sulit menjaga rutinitasnya sendirian.
Ria Theresia Situmorang
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.