Tips Mengolah Daging Kurban: Enak di Lidah, Aman di Badan

Tips Mengolah Daging Kurban Aman dan Sehat, Sumber Gambar: Editing Pribadi

Tips Mengolah Daging Kurban Aman dan Sehat, Sumber Gambar: Editing Pribadi


Ada sebuah anekdot, tanpa bayi, yang sebenarnya cukup menggelitik. Ini dihubungkan antara kurban dengan poligami. 

Kalau kurban, banyak yang tidak mau padahal mampu. Sedangkan poligami, banyak yang mau padahal tidak mampu. Coba dipikirkan, betul apa tidak anekdot tersebut? Yang bisa menjawab, boleh pulang duluan. Lho

Pada Iduladha, ibadah kurban sudah menjadi satu paket. Setelah salat Iduladha, biasanya dimulai penyembelihan hewan kurban. Ada yang berkurban sapi, ada juga yang kambing.

Untuk unta tidak ada di sini. Sementara itu, ayam tidak boleh untuk berkurban, meskipun saya pernah dengar sendiri ada seorang penceramah yang berpendapat bahwa berkurban ayam itu boleh. Hah? 

Iduladha memang menjadi sebuah perayaan umat Islam. Kalau di Tanah Suci sana, Iduladha yang masuk dalam bulan Zulhijjah ini ada ibadah haji. 


Penyembelihan hewan kurban, biasanya yang disembelih adalah hewan jantan. Tidak boleh ada cacat. Harus berbadan sehat, berpenampilan menarik, tinggi minimal 160 sentimeter. Lho, ini kok malah jadi syarat lowongan kerja, ya? 

Bagi para pekurban, selain pahala yang Insya Allah didapatkan, juga menjadi sebuah berkah tersendiri. Sebab, ada haknya untuk mengambil daging hewan kurban. Sepertiga boleh diambil. Sepertiga untuk hadiah. Sepertiga lagi untuk sedekah. 

Kalau di tempat saya, bagi para pekurban bisa mendapatkan 3 kilogram daging segar dan 1 kilogram tulang yang tentu saja masih ada dagingnya sedikit.

Jumlah sebesar itu sangat lumayan untuk dimasak bersama keluarga, bagi yang sudah berkeluarga. Kalau belum berkeluarga, biasanya bukan kurban hewan, melainkan korban perasaan. 


Cara Mengolah Daging Kurban Agar Hasilnya Menawan

Menu daging pada dasarnya jarang dimakan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Soalnya, daging itu dipersepsikan sebagai makanan yang mahal. Makanya, seringnya makan ikan, tahu, tempe, maupun telur, tentu semuanya bukan yang mentah, dong! 

Setelah menerima daging kurban, maka langkah selanjutnya adalah memasukkan ke dalam kulkas. Lebih utama memang di freezer karena di situlah tempat yang paling dahsyat dan fenonemal untuk menyimpan daging. Wuih, bahasanya! Pakai "dahsyat" dan "fenomenal" segala.  

Dalam kondisi beku, daging akan lebih awet atau tahan lama. Sedangkan pada kondisi lain, hubungan yang beku, membuat perasaan jadi tidak awet atau tahan lama. Siapa lagi tuh? 

Jika sudah ada daging kurban di kulkas, apakah dibiarkan saja? Tentunya tidang dok, aduh salah tulis, tentunya tidak dong! Daging perlu diolah agar nanti dapat dikonsumsi dengan baik. 

Pertama, daging perlu untuk dipersiapkan. Jika mau disimpan di kulkas, jangan dicuci. Apalagi mencucinya di Laut Pantai Selatan. Terlalu jauh. Mau suruh Nyi Roro Kidul cuci daging?  

Kalau daging dicuci sebelum disimpan, maka akan memicu bakteri dan bisa menjadi cepat busuk. Kalau ada kotoran, cukup dibersihkan dengan tisu dapur. Mau tisu merek apapun boleh, mau dapur merek apapun juga boleh. 

Lebih praktis untuk dimakan, daging perlu dipotong kecil-kecil sesuai porsi sekali masak. Jangan juga terlalu kecil, apalagi seukuran anak semut. Kasihan bukan, anak semut tidak salah apa-apa dijadikan ukuran potongan daging? 

Memotong daging usahakan melawan arah serat. Memotong daging secara melintang atau melawan arah serat bertujuan agar teksturnya tidak alot saat dikonsumsi oleh kamu maupun keluarga. Oke? Atau Eko? 

Kedua, daging bisa diempukkan. Caranya adalah dengan daun pepaya atau nanas. Ternyata, Be-emers, enzim papain pada daun pepaya dan enzim bromelin pada nanas sangat berguna dalam hal ini. Keduanya ternyata efektif untuk menguraikan serat protein alot pada daging.

Hancurkan daun pepaya atau haluskan buah nanas. Setelah itu, balurkan secara merata ke permukaan daging. Jangan lupa, diamkan selama 30 sampai dengan 60 menit sebelum daging dicuci bersih dan dimasak. 

Pada tips ketiga ini, khusus bagi kamu yang berkurban kambing atau domba. Sering bukan tercium bau prengus dari kambing atau domba tersebut? Apakah karena mereka tidak pernah pakai deodorant? Kita saja yang ketiaknya dua bisa bau, apalagi mereka ketiaknya empat, ya 'kan? 

Bau prengus itu sebagian besar berasal dari lapisan lemak. Jadi, solusinya adalah buang atau potong sisa lemak pada daging sebelum nanti diolah.

Bau itu juga bisa diatasi dengan memakai bumbu dapur yang kaya rempah. Contohnya: jahe, bawang putih, kunyit, serai, maupun daun jeruk. 

Keempat, kita masuk ke cara memasak daging. Pada tahap ini, mohon hindari suhu yang terlalu tinggi. Ini jelas suhu yang menyangkut panas memasak, ya, bukan suhu yang sering disebut guru itu.

Jika kamu memasak daging pada suhu yang terlalu panas, maka pasti ada konsekuensinya. Daging dapat rusak kandungan nutrisinya dan juga membuatnya keras.

Ada teknik yang namanya 5-30-7 agar bisa juga menghemat gas, meskipun untuk urusan gas ini pernah dulu ada yang semangat di awal, oke gas, oke gas!

Awalnya, rebus daging selama 5 menit. Lalu, jangan lupa matikan kompor setelah tidak dipakai seperti pesan menteri dan tutup rapat panci selama 30 menit. Terakhir, rebus kembali daging selama 7 menit. 

Agar daging terasa nikmat untuk disantap bersama keluarga, mungkin tetangga, rekan kerja, bahkan mungkin mantan, maka dapat diolah dengan berbagai hidangan nusantara. 

Contohnya: gulai atau sop. Olahan ini sangat cocok untuk bagian daging yang mengandung banyak tulang. Sedangkan kalau mau diolah menjadi rendang atau semur, ini mesti dimasak perlahan (slow-cooked). Tujuannya agar bumbu meresap sempurna dan tentu saja daging menjadi super empuk.