Dolar Makin Mahal, Begini Cara Menabung Keperluan Haji

Pesawat (Sumber: Freepik)

Pesawat (Sumber: Freepik)


Beberapa waktu terakhir, obrolan soal haji mulai semakin sering terdengar di antara teman-teman pekerja setelah melihat salah satu influencer mengikuti haji plus dengan tabungan dolar. 

Bukan cuma soal kapan ingin berangkat, tapi juga bagaimana cara mempersiapkan dananya di tengah kondisi ekonomi yang makin tidak pasti.

Apalagi sekarang nilai tukar dolar terus naik, harga kebutuhan ikut berubah, dan biaya perjalanan ke luar negeri terasa semakin mahal dari tahun ke tahun.

Seorang teman kantor bahkan sempat berkata sambil melihat aplikasi kurs di ponselnya, “Kayaknya kalau cuma nabung biasa, uangnya malah kalah cepat sama kenaikan biaya haji.”

Kalimat itu terasa cukup nyata.


Meskipun saya sebagai non muslim belum relate, perjalanan ibadah seperti haji terlihat memang bukan rencana jangka pendek.

Banyak teman kantor yang baru mendapat antrean keberangkatan yang tidak tahun kapan setelah membayar DP.

Artinya, dana yang disiapkan hari ini harus mampu bertahan menghadapi inflasi dan perubahan nilai tukar dalam waktu panjang.

Dan dari situ banyak orang mulai belajar satu hal penting: menabung saja kadang tidak cukup, dana juga perlu dijaga nilainya.
 

Simpan Dana Dalam Mata Uang Asing 

Karena biaya perjalanan haji sangat dipengaruhi kurs mata uang asing, beberapa orang mulai mempertimbangkan menyimpan sebagian dana dalam bentuk dolar.

Tujuannya bukan untuk spekulasi atau trading jangka pendek, tetapi lebih ke menjaga daya beli tabungan terhadap kenaikan kurs di masa depan.

Apalagi sekarang dolar terasa naik “gila-gilaan.” Ketika rupiah melemah, biaya tiket pesawat, hotel, dan berbagai kebutuhan perjalanan luar negeri biasanya ikut terdorong naik.

Dengan menyimpan sebagian dana dalam dolar secara bertahap, setidaknya ada usaha untuk mengurangi risiko tabungan tergerus pelemahan rupiah dalam jangka panjang.

Banyak pekerja akhirnya mulai membeli dolar sedikit demi sedikit saat ada sisa bonus, THR, atau penghasilan tambahan.

Nominalnya tidak harus besar, yang penting konsisten.

Karena perjalanan panjang lebih sering dimenangkan oleh kebiasaan kecil yang terus dilakukan.
 

Menyimpan Emas Fisik

Selain dolar, emas fisik juga mulai banyak dilirik sebagai cara menjaga nilai tabungan.

Alasannya sederhana: emas sering dianggap lebih tahan terhadap inflasi dalam jangka panjang.

Ketika kondisi ekonomi tidak stabil, harga emas biasanya ikut naik karena banyak orang mencari aset yang dianggap lebih aman.

Beberapa teman bahkan mulai membeli emas kecil-kecilan setiap beberapa bulan.

Ada yang membeli 1 gram saat gajian, ada yang rutin menyisihkan bonus tahunan untuk menambah simpanan emas.

Menariknya, cara seperti ini terasa lebih ringan secara psikologis dibanding harus langsung menyiapkan dana besar sekaligus.

Karena setiap gram yang terkumpul terasa seperti langkah kecil menuju tujuan besar.

Dan di tengah gaya hidup sekarang yang serba cepat, kebiasaan seperti ini justru mengajarkan kesabaran.