Film Tinggal Meninggal: Tentang Gema dan Suara yang Tidak Pernah Didengar

Gema, tokoh utama dalam film Tinggal Meninggal (Sumber: Canva dan IMDb)


Pernahkah kamu berada diantara keramaian dengan suara percakapan soal percintaan, suara mesin penggiling kopi, nyanyian selamat ulang tahun, atau kadang terdengar suara keluh kesah pada skripsinya yang belum kunjung selesai?

Atau, berada diantara rekan kerja yang selalu update tentang berita apapun, melempar lelucon yang selalu diulang tapi entah mengapa selalu lucu untuk diceritakan kembali, dan teriakan mengeluh atas revisi kerjaan yang tidak kunjung diterima atasan?

Tapi untuk kamu, semua suara itu terasa lewat begitu saja. Ramai, tapi seakan jauh. Kamu yang hadir diantara mereka, lebih memilih memperhatikan interaksi yang tumbuh di dalam ruangan itu. 

Sama seperti Gema, yang tumbuh tanpa rasa kasih sayang cukup dari kedua orang tua nya membuat Gema mempunyai keunikan yang berbeda dari teman lainnya.

Camen atau disebut dengan Cacat Mental menjadi bagian dari jati diri Gema semenjak Sekolah Dasar. Ejekan, pengabaian, dan minimnya kasih sayang membuatnya tumbuh sebagai anak yang lebih sering berdialog dengan dirinya sendiri. Kebiasaan yang dibawa hingga dewasa, menjadikan salah satu cara agar Gema bisa bertahan.


Dari titik inilah, film Tinggal Meninggal membawa kita untuk masuk lebih dalam dan memahami kesepian, perhatian, kematian lewat sudut pandang yang tidak biasa.

Tentunya, Kristo Immanuel Sang Sutradara membuat film ini dengan Dark Comedy, Drama sampai breaking the 4th wall bawain kesan yang melekat banget di hati.

Baca Juga: Cari Kegiatan Seru Pas Tahun Baru? 10 Rekomendasi Film Untuk Nobar Bareng Teman!


Tumbuh Tanpa Tempat Pulang

Tumbuh tanpa kehadiran emosional orang tua membuat Gema belajar satu hal terlalu cepat, yaitu perhatian bukan sesuatu yang datang dengan mudah.

Gema harus “melakukan sesuatu” untuk bisa dilihat dengan orang sekitarnya. Keunikannya dalam berpikir, justru berubah menjadi bahan ejekan. Sejak kecil, ia terbiasa berbicara sendiri, tenggelam dalam pikirannya, dan memproses dunia dengan caranya sendiri. Sayangnya, lingkungan tidak pernah memberinya ruang untuk itu.

Film ini tidak menyalahkan Gema atas kebohongannya. Justru sebaliknya, Gema mengajak penonton bertanya, sampai sejauh apa seseorang bisa pergi demi merasa diakui?

Dari kematian kucingnya, keluarga, hingga dirinya sendiri, semua kebohongan Gema bukan lahir dari niat jahat, melainkan dari kekosongan yang lama dibiarkan hingga terlalu susah untuk dipulihkan.

Ketika akhirnya teman-temannya mulai peduli, perhatian itu terasa seperti candu dan terlalu berharga untuk dilepas.

Film Tinggal Meninggal dengan halus mengingatkan bahwa kematian bukan dan tidak seharusnya menjadi alat untuk menarik perhatian.

Validasi yang datang dari rasa iba hanya meninggalkan luka baru, baik bagi yang ditinggalkan maupun bagi yang mencarinya. Kesepian yang tidak diurus sejak awal bisa tumbuh menjadi keputusan-keputusan yang memprihatinkan.