3 Cara Mengatur Dana Darurat, Meskipun Terjadi Krisis Ekonomi Akibat Perang

Sumber gambar: Editing pribadi

Like

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Ya, saat ini dunia memang dilanda suatu konflik yang cukup besar. 

Ini bukan cinta segitiga, melainkan justru konflik bertiga. Antara Amerika Serikat (AS) dan Israel, melawan Iran.

Dua lawan satu. Satu lawan dua. Satu ditambah satu sama dengan dua. Sekadar mengingatkan saja lirik lagu waktu masih kecil. 

Kalau kita lihat di berita-berita yang muncul, entah di media sosial maupun televisi nasional, eh, masih adakah yang suka menonton televisi, konflik sudah cukup mengerikan. 

Jika ada orang berbalas pantun, lalu bilang "cakep", maka ini berbalas rudal. Masa mau dibilang "cakep" juga? Yang ada bukan "cakep", melainkan "capek". Tinggal dibolak-balik saja kata-katanya. 


Terjadi perang, pastilah timbul korban jiwa. Entah itu memang tentara pihak lawan yang terkena maupun orang yang tidak bersalah.

Bahkan, perang seperti itu bisa mengakibatkan korban jiwa di kalangan hewan, contohnya: semut. Coba, kira-kira berapa banyak semut terbunuh dalam perang ini? 

Efek selanjutnya, perang bisa memunculkan krisis, terlebih krisis ekonomi. Mau kamu dari Fakultas Ekonomi yang biasanya mahasiswinya cakep-cakep itu atau dari fakultas lain, tetap bisa terkena krisis ekonomi ini. 

Baca Juga: Mitigasi Musibah Kebakaran: Antisipasi dengan Dana Darurat


3 Strategi Mengatur Dana Darurat Meskipun Krisis Ekonomi Akibat Perang

Konflik di Timur Tengah yang terjadi di bulan Maret 2026 ini telah memicu ketegangan geopolitik. Dampaknya memang cukup signifikan pada ekonomi global.

Apalagi terkait ancaman penutupan jalur perdagangan vital seperti Selat Hormuz. Penutupan selat ini jelas berbeda dengan penutupan pintu pagar kost ketika kamu pulang malam.

Selat Hormuz yang menjadi jalur perdagangan minyak dunia bisa memicu kenaikan harga energi/BBM. Selain itu bisa mempengaruhi volatilitas nilai tukar mata uang. 

Kalau sudah begitu, apalagi jika sampai nanti BBM naik, maka yang diperlukan adalah dana darurat. Dana cadangan. 

Ibarat pemain sepakbola, ada pemain inti, ada pemain cadangan. Yang repot adalah ketika kita bukan menjadi pemain inti, bukan pula pemain cadangan, tetapi malah menjadi pemain pengganti cadangan. 

Nah, menyangkut dana darurat ini, apa yang perlu dipersiapkan? Bagaimana strateginya? Bagaimana polanya? Dan, bagaimana polinya? Oh, kalau yang terakhir bahas poli itu adanya di rumah sakit. 

Baik, mari kita coba simak 3 strategi dalam mengatur dana darurat ini. 


1. Likuiditas Dana Darurat Mesti Meningkat

Ketika kita memiliki uang kas maupun setara kas, maka pastikan sebagian besar dana darurat dalam bentuk yang sangat likuid. Artinya ini mudah dicairkan, tanpa perlu lewat freezer sebelumya.

Bentuk yang likuid itu seperti: tabungan biasa atau reksa dana pasar uang.

Ketika benar-benar terjadi krisis ekonomi akibat tekanan geopolitik, maka disarankan untuk meningkatkan dana darurat menjadi 12 hingga 18 bulan pengeluaran bulanan. 

Ini untuk mengantisipasi atau menghadapi kemungkinan hilangnya pendapatan atau lonjakan biaya hidup. 


2. Nilai Dana Darurat (Safe Haven) Mesti Terlindungi

Konflik bisa memicu pelemahan mata uang seperti rupiah terhadap dolar AS. Saat ini sampai menembus Rp16.800+ per awal Maret 2026. Selain itu, ada juga lonjakan harga emas. 

Menyikapi hal ini, maka alokasikan sebagian dana darurat ke emas, bisa berupa fisik maupun digital. Kita tahu, emas adalah aset yang paling aman saat konflik geopolitik. Harga emas cenderung meningkat saat krisis.


3. Evaluasi Ulang dan Hemat Pengeluaran

Sekarang ini di bulan suci Ramadan memang cenderung pengeluaran meningkat. Ya apa ya? Kalau pilihannya "ya atau ya", masa memilih "atau"?

Pengeluaran meningkat di bulan Ramadan karena sesuatu yang tadinya tidak ada, sekarang diada-adakan, apalagi ketika memasuki buka puasa.

Okelah, jika itu memang dibutuhkan, tidak masalah. Namun, jika menerima THR, lalu harus membeli baju baru tiap lebaran, padahal baju-baju lama masih bagus, maka ini yang dinamakan pemborosan.

Dana untuk kebutuhan yang harus ada dan cenderung untuk gengsi itu, bisa dialihkan ke dana darurat. Disimpan untuk kebutuhan lain yang mungkin lebih penting di kemudian hari.

Lebih baik, tahan dan antisipasi. Termasuk juga hindari utang yang ujung-ujungnya adalah konsumtif. Hanya demi memuaskan yang sesaat, membuat beban jadi makin berat.

Terlebih pinjol yang biasanya orang akan menyesal di kemudian hari itu. Batasi pengeluaran, jalin komunikasi yang erat dengan keluarga agar bisa berhemat dan memperbesar dana darurat.