Ilustrasi orang sedang melaksanakan salat Idul Fitri (Sumber gambar: https://www.pexels.com/id-id/foto/orang-orang-masyarakat-rakyat-manusia-11573493/)
Kalau kamu perhatikan lebih detail, segala sesuatu yang terkait dengan hari raya umat Islam, pastilah puncaknya adalah salat. Hari Raya Idulfitri, ada salat Idulfitri, begitu pula Idul Adha.
Ada juga hari raya pekanan, yaitu: hari Jum'at. Ini juga ada salat Jumat berjamaah di masjid, meskipun wajibnya bagi laki-laki. Bagi yang perempuan, boleh kok ikut salat Jumat, tetapi hukumnya memang tidak sewajib laki-laki.
Dicermati seperti itu, berarti hari raya ini memang bukan untuk hura-hura, apalagi huru-hara, sedangkan Hera adalah kakak ipar saya. Hari raya adalah menjadi bentuk penghambaan diri kepada Allah.
Bersyukur atas segala nikmat dari Allah yang sangat luar biasa dan sampai sekarang tidak ada orang yang bisa menghitungnya dengan detail, meskipun punya kalkulator murah.
Nikmat Allah yang begitu banyak itu disyukuri dengan cara salat. Sebab, salat adalah ibadah yang betul-betul diperintahkan Allah tanpa melalui malaikat Jibril. Nabi kita yang langsung menerimanya saat peristiwa Isra Mikraj.
Makanya, menjadi hal yang sangat aneh. Orang berduyun-duyun datang ke masjid ikut peringatan Isra Mikraj. Ramai sekali suasana dalam masjid, tetapi setelah peringatan selesai, bubar dengan sendirinya.
Besoknya, ketika waktu salat berjamaah lima waktu, malah tidak hadir. Malah masjid kembali sepi. Ini bagaimana, ya? Terus semalam peringatan Isra Mi'raj apa yang bisa diambil? Hanya kuenya? Hanya minumannya?
Sama sekali tidak memahami esensi dari peringatan tersebut. Hanya memenuhi undangan, hanya ikut-ikutan ramai.
Hari Raya Sekarang
Sesuai dengan pengumuman dari pemerintah, bahwa hari raya Idulfitri jatuh pada tanggal 21 Maret 2026. Hanya selang sehari setelah tanggal lahir saya. Yah, untuk kamu tahu saja, sih. Tidak perlu dicatat, cukup dihafalkan, ya! Hari raya Idulfitri memang sebagai syiar Islam. Memang sebagai syiar dakwah. Menunjukkan bahwa umat Islam ini besar dan bisa berkumpul dalam satu jamaah banyak.
Oleh karena itu, pelaksanaan salat Idulfitri lebih baik di tanah lapang atau di tempat yang sangat luas. Tujuannya agar bisa dilihat kekuatan kaum muslimin ini.
Mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan, tua muda, remaja (kalau laki-laki) dan remaji (kalau perempuan), tumpah ruah dalam satu tempat luas demi melaksanakan salat Idulfitri.
Salat tersebut hukumnya memang sunah muakkad. Artinya sunah yang sangat ditekankan pelaksanaannya. Jadi, sebisa mungkin memang hadir untuk salat, kecuali orang yang sakit keras, terbaring di rumah sakit, atau sudah meninggal dunia. Yang terakhir, memang sama sekali tidak bisa, lah yauw!
Nah, berkumpulnya satu jamaah umat Islam, maka ada berbagai pakaian yang dikenakan. Berbagai warna, merek, harga, bekas atau tidak, dan dicuci dengan pakai deterjen apa.
Biasanya, momen Idul Fitri, terutama pas salatnya adalah kesempatan untuk pamer baju baru. Kapan lagi, ya, ada kesempatan untuk mengenakan baju baru?
Ketika salat Idulfitri mengenakan baju baru memang di satu sisi bisa sebagai tanda syukur kepada Allah. Menghadap bupati atau gubernur saja harus mengenakan baju yang terbaik, apalagi ini untuk menghadap Allah.
Tidak mungkin bukan seorang perempuan menghadap bupati atau gubernur mengenakan baju daster saja? Meskipun daster itu bisa diartikan kepanjangannya jadi cerdas dan pinter, tetapi kata teman saya, makin bolong, makin bagus.
Oh, daster yang seperti itu tentu bagus dikenakan di depan suami saja. Bagi suami, istrinya tidak ada aurat lagi sama sekali. Namun, untuk penampilan di luar, terutama salat Idul Fitri, harus memilih outfit yang terbaik juga.
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.