5 Makna Idulfitri yang Harus Kamu Terapkan dalam Kehidupan Sehari-hari!

5 ‘Reset’ Diri beretika Berbicara di Momentum Idul Fitri. Sumber Gambar Adobe Express

Like

“Enggak, itu salah banget. Yang bener gini…”

“Ih, gitu saja enggak bisa sih kamu…”
“Kamu lagi, kamu lagi yang ngrepotin..”
“Payah banget sih parpol pilihanmu, masa ambil kebijakan sebo**h itu..”
 
Kata-kata tersebut, ketika diucapkan ringan banget ya? Tapi coba orang yang mendengarnya, atau orang yang jadi sasaran dari kata-kata tersebut?

Mungkin saat pertama kali mendengar hati akan tersengat sakit. Tapi karena sering, lama-lama hati menjadi tebal, meskipun sebenarnya kita tetap sakit.
 
Jadi, Be-emers sepakat enggak, kalau etika, terutama etika berbicara, adalah sesuatu yang tidak boleh ditinggalkan oleh seseorang.

Mau setinggi apapun ilmu kita, mau seahli apapun kita di bidang tertentu, mau sangat suka kita terhadap sesuatu, maka yang utama harus menyertakan etika ketika berbicara.
 
Etika berbicara ada banyak cara mempelajarinya, termasuk dari buku. Namun kita sebenarnya juga dapat belajar beretika berbicara di momentum idul Fitri setelah puasa.
 

5 Makna Idulfitri yang Harus Kamu Terapkan dalam Kehidupan Sehari-hari!

Berikut adalah cara menerapkan makna Idulfitri yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari!
 

1. Kedisiplinan Menjaga Lisan

Selama puasa hingga idul Fitri, bener enggak, dari berbagai kajian dan nasehat ustadz di berbagai media, kalau kita diminta untuk menjaga lisan? Sebaliknya justru diminta banyak dzikir berdoa, atau minimal diam.
 
Kedisiplinan menjaga lisan hingga Idul Fitri inilah yang melatih kita untuk disiplin menjaga dan mengontrol lidah selama berpuasa. 
 

2. Rasa Syukur atas Nikmat 

Sebenarnya dengan merayakan Idul Fitri kita juga bisa bersyukur atas satu dari sekian nikmat yang diberikan oleh Allah SubbahSubhanahu wa ta'ala (SWT).
 
Antara lain rasa syukur atas kekuatan yang telah diberikan untuk menyelesaikan kewajiban selama bulan Ramadhan.
 
Artinya selesainya kewajiban (puasa dan segala perintahnya) ini, selain kerja keras dari kita juga ada bantuan dari yang Maha Kuasa.
 
Jadi, bukankah mungkin akan lebih bijak jika orang menghargai keahliannya, kepandaiannya, kesukaannya terhadap sesuatu itu, selain dari kerja kerasnya, juga merupakan bagian dari Anugerah yang Maha Kuasa, yang harus disyukuri?

Jadi tidak perlu juga kan, muncul kata-kata, “Ih, gitu saja nggak bisa sih kamu..?”