Menyiasati kenaikan harga plastik jadi untung [Freepik, Dok. Pribadi]
Like
Bukan tanpa alasan, sekitar 70 persen bahan baku plaatik berasal dari Timur Tengah. Merujuk Kompas Regional, beberapa wilayah di Indonesia telah mengeluhkan kenaikan harga plastik utamanya kalangan pedagang.
Jawa Barat contohnya, harga kantong plastik melonjak dari semula Rp28.000 menjadi Rp50.000 per kilonya. Nyaris mencapai 50 persen!
Tidak berbeda jauh, kawasan tempat saya tinggal mulai merasakan pula. Harian Tangsel menyebut harga plastik yang awalnya Rp35.000 per kilogram, kini telah merangkak naik menjadi Rp45.000. Pedagang makanan seperti tahu yang mengandalkan plastik untuk membungkus dagangannya mulai resah dibuatnya.
Menelaah Plastik, Membantu versus Jalan Buntu
Ilustrasi plastik ibarat dua sisi pedang; satu sisi membantu pedagang sekaligus bisa jadi peluang [Freepik]
Sebagai anak muda, saya sudah lama meminimalisir penggunaan plastik. Ketika akan ke supermarket, saya membawa tas kain dari rumah menyesuaikan berapa banyak barang belanjaan yang alan dibeli. Namun, lifestyle ini belum konsisten dilakukan semua orang.
Satu sisi para pedagang membutuhkan plastik untuk usaha, di sisi lain plastik menjadi bumerang bagi lingkungan.
Masih terpatri dalam ingatan saya kala masyarakat Tangerang Selatan mengamuk karena sampah menumpuk di area Pasar Ciputat sana. Petugas kebersihan mendadak seperti makhluk gaib, hilang entah ke mana. Mau bagaimana, mereka juga bingung sampah ini mau dibuang ke mana.
Melansir laman Walhi, volume sampah di Tangerang Selatan sini mencapai sekitar 1.000 ton per hari sepanjang kurun waktu 2025-2026!! Dari jumlah itu, sampah rumah tangga adalah yang paling mendominasi.
Produksi sampah yang berbanding terbalik dengan tempat pembuagannya. TPA Cipeucang sebagai tempat pemrosesan sampah terbesar di Tangsel hanya sanggup menampung 300–400 ton per hari. Overload capacity membuat tempat pembuangan ini bahkan sempat ditutup untuk sementara. Akibatnya bisa ditebak, sampah menggunung di berbagai sudut.
Sambil menyesap segelas kopi (yang notabene gelasnya juga dari plastik) saya merenung: bagaimana caranya kita semua bersatu melihat sampah yang berbau menyengat ini menjadi sesuatu yang bermutu? Sampah jadi uang misalnya?
Mengurangi Jumlah Sampah Plastik, Tukarkan ke Bank Sampah!
Meminimalisir sampah plastik jadi untung ada caranya. Bisa dimulai dari rumah [Dok. Pribadi]
Setiap minggu, ibu dan adik saya jadi bersemangat memilah sampah berdasarkan jenisnya. Sampah plastik bekas makanan kucing, botol, dan dus bekas pengiriman paket ditaruh dalam wadah terpisah.
"Jangan dibuang, bisa disetor ke bank sampah. Nanti jadi duit," jadi mantera mama ketika matanya melihat saya mau lempar gelas plastik ke tempat sampah.
Portal Data Kota Tangerang Selatan mencatat awal 2022, bank sampah di Tangerang Selatan mencapai 333 unit yang tersebar di 7 kecamatan. Pada 2019, bank sampah di RW 04 Kelurahan Pondok Pucung, Pondok Aren bahkan menukarkan sampah yang disetor masyarakat menjadi tabungan Emas Pegadaian. Menguntungkan ya!
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.