Berolahraga secara berkelompok menjadi salah satu obat untuk mengusir kesepian. Sumber: Bisnis Indonesia
Ku dibunuh ku terbunuh
Dibunuh sepi
Sepi sepi
Be-emers, lirik di atas meruakan penggalan dari lagu berjudul ‘Terbunuh Sepi’ yang dibawakan oleh band Slank pada 1994. Lebih dari 30 tahun kemudian, kita makin menyadari bahaya dari kesepian.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2025 melaporkan bahwa 1 dari 6 orang di dunia terdampak kesepian. Dampak signifikan terjadi pada kesehatan fisik dan kesejahteraan akibat kesepian, khususnya kesepian kronis, memicu respons fisik lebih lanjut seperti peningkatan hormon stres, berkurangnya waktu dan kualitas tidur, serta menurunnya imunitas.
Stella Vania, seorang psikolog klinis mengungkapkan bahwa dalam berbagai penelitian, kesepian dapat meningkatkan faktor risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, arthritis, dan gangguan alzheimer.
Tidak hanya itu, kesepian dapat memincu munculnya gangguan kecemasan, depresi, serta pemikirian untuk menyakiti diri dan mengakhiri hidup. Laporan WHO, tuturnya, menyebutkan bahwa kesepian berhubungan dengan sekitar 100 kematian tiap jam, dan lebih dari 871.000 kematian tiap tahun.
“Data ini menurutnya, menjadi alasan kuat mengapa kesepian menjadi salah satu perhatian utama bagi WHO,” ucapnya dikutip dari Majalah Utusan edisi April 2026.
Kesepian dalam Sebuah Hubungan
WHO mendefinisikan kesepian atau loneliness sebagai rasa sakit yang muncul dari kesenjangan antara koneksi sosial yang diharapkan dan realitasnya.Koneksi atau keterhubungan sosial adalah cara-cara bagaimana orang terhubung dan berinteraksi dengan orang lain. Sebaliknya, kesepian adalah pengalaman emosional ketika tidak terpenuhinya kebutuhan seseorang akan hubungan sosial yang bermakna.
Meski demikian, kesepian tidak selalu berhubungan dengan kesendirian. Justru kesepian terasa lebih menyakitkan jika seseorang berada dalam sebuah hubungan, tetapi apa yang dirasakan berbeda jauh dengan apa yang diinginkan.
Misalnya, seseorang menginginkan relasi yang hangat, tetapi ternyata pasangannya cuek. Kondisi ini dapat memicu munculnya kesepian.
Penyebab Orang Mengalami Kesepian
Salah satu skala yang sering digunakan untuk mengukur kesepian adalah UCLA Loneliness Scare. Beberapa hal yang menjadi indikator pengukuran dalam skala ini adalah seberapa sering seseorang merasa kurang penemanan, diabaikan, nyambung dengan orang-orang di sekitarnya, merasa ramah dan bersahabat, serta merasa orang bisa merespons balik.Maka Be-emers, kesepian lebih tetang bagaimana kualitas relasi seseorang, dibandingkan seberapa banyak koneksi yang dimiliki. Relasi yang palsu atau sangat kaku sehingga orang tidak bisa menjadi dirinya sendiri juga dapat menumbuhkan perasaan kesepian. Sering kali orang yang mengalami kesepian merasa tidak ada orang yang benar-benar memahami dirinya.
Di sisi lain,kadang penyebab kesepian juga adalah tidak adanya ruang dna waktu untuk keheningan, karena relasi menjadi sesuati yang rutin, kering, dan tidak bermakna. Dengan demikian, kualitas relasi yang berkaitan dengan kesepian bukan hanya relasi kita dengan orang lain, tetapi juga bagaimana relasi kita dengan diri sendiri. Tidak adanya waktu berkualitas untuk diri sendiri juga dapat memicu munculnya kesepian.
Pandangan seseorang tentang dunia dan keyakinan inti yang dimilikinya dinilai lebih berpengaruh pada munculnya rasa kesepian daripada hubungan dengan orang lain. Menurut Stella Vania, salah satu penelitian menemukan bahwa partisipan yang kesepian memandang dunia sebagai ancaman, membosankan, buruk, dan tidak layak untuk dieksplorasi. Seseorang yang kesepian juga sulit menemukan makna dan tujuan dari suatu peristiwa yang ia alami.
Selain hal-hal yang bersifat amat personal tersebut, realitas hidup seperti pindah tempat tinggal, berganti pekerjaan, kehilangan orang terdekat, atau memasuki masa pensiun juga dapat memunculkan rasa kesepian.
Kesepian juga dapat terpicu oleh berbagai perasaan yang berkaitan dengan pengalaman sebelumnya, antara lain merasa terasing, tertolak, atau terabaikan. Kesepian juga berhubungan dengan kurang atau tidak adanya orang yang bisa diandalkan, juga apakah ada kesamaan antara diri sendiri dengan orang lain.
Be-emers, rasa kesepian dapat memengaruhi orang di berbagai lapisan usia, tetapi para remaja dan lansia adalah dua kelompok usia yang paling terdampak kesepian. Perlu diketahui, rasa kesepian juga bisa memunculkan perasaan rendah diri, merasa diri tidak cukup baik, aneh dan sebagainya. Jika tanda-tanda seperti ini berlangsung cukup lama, maka ada baiknya mencari dukungan profesional.
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.