Bukan Cuma Keringat: Komunitas Olahraga Bisa Jadi Penyelamat Semangat

Gabung Komunitas Olahraga, Sumber Gambar: Editing Pribadi


Katanya, beli sepatu baru itu tidak usah mahal-mahal. Toh, ujung-ujungnya tempatnya memang di bawah dan akan diinjak-injak juga.

Kan tidak ada orang yang beli sepatu mahal, terus ditaruhnya di kepala toh? Ketika ditanya, kok ditaruh di kepala? Masa jawabannya, "Saya tidak tega barang semahal ini ditempatkan di bawah!"

Nah, meskipun sepatu mahal itu sebenarnya terjangkau bagi yang mampu, adanya sepatu yang baru memang menjadi suatu semacam semangat bagi yang akan berolahraga cukup berat. 

Mungkin tadinya sepatunya lapar alias menganga terus. Kini, sudah ada uangnya, sudah tarik dari ATM, bahkan tarikannya fantantis karena pernah ikut pertandingan tarik tambang, saatnya membeli sepatu baru. 

Cari sepatu yang bermerek terkenal. Ini sudah niat yang hangat penuh semangat. Saatnya olahraga, bukan rebahan saja, apalagi terus teringat kenangan bersama mantan yang kini sudah dianggap lenyap ditelan kuburan.


Langkah Awal Unggah di Media Sosial Berharap Viral

Gaya hidup dengan berolahraga bisa semakin termotivasi karena adanya media sosial. Minat untuk menjadi viral dan terkenal pun makin sedap terbayang di akal.


Jadilah, mengisi konten-konten dengan segala hal yang berhubungan dengan olahraga. Contohnya itu tadi, beli sepatu olahraga baru. Dipamerkan berkali-kali. Mulai dari beli di toko atau beli lewat online, unboxing, saat dipakai pertama kali, dan seterusnya. 

Saking barunya, setelah dipakai, pas sudah di rumah, langsung dilap. Pokoknya tidak boleh ada debu, kuman, bakteri, maupun virus yang menempel di sepatu tersebut. Enak saja mereka ikut nempel? Ikut bayar saja tidak, masa ikut nebeng? 

Tidak hanya sepatu, tetapi juga dilengkapi dengan outfit olahraga. Kalau perlu yang mereknya terkenal, kalau perlu lagi yang belum pernah dipakai orang lain sama sekali. Eits, maksudnya outfit yang belum pernah dibikin? 

Outfit yang keren, sepatu yang bikin beken, memang membuat olahraga jadi tampak dahsyat, Men! Ditambah dengan makan makanan sehat, tanpa terlalu banyak gula, garam, meskipun harganya juga tidak terlalu sedikit. 

Tidak apa-apa, demi viral, dompet memang harus dibuat cukup tebal. Demi terkenal, uang banyak harus ditambah agar makin beranak. 


Mulai Muncul Masalah Klasik: Motivasi Olahraga Naik Turun

Siapa sih di antara kita yang motivasinya selalu naik tidak pernah turun? Pastinya tidak ada yang seperti itu. Namanya manusia, selalu ada yang naik dan turun.  

Demikian pula dengan olahraga. Awalnya semangat 45, mungkin ini diartikan tetap semangat, meskipun di dompet cuma tersisa uang 45 ribu. 

Semangatnya pertama kali olahraga menggebu-gebu. Intinya, sudah terpatri dalam jiwa dan raga, motivasi untuk jadi orang sehat dan kuat. 

Nyatanya, hem. Teori sebatas teori, praktik sebatas cuma puluhan detik. Besoknya, sudah mulai malas. Apalagi sekarang hujan turun sudah semakin sering mengalun. Membuat semangat olahraga tak lagi jadi anggun. 

Ada apakah gorengan? Maksudnya, ada apakah gerangan? Rupanya, hal itu terjadi karena kita kebanyakan punya sendiri. Lebih jelas lagi, sendi yang dimaksud adalah sendirian. 

Pada dasarnya, olahraga sendirian memang akan mudah bosan. Sebabnya, tidak ada penyemangat, penggerak dan motor, yang digabungkan menjadi motor penggerak. 

Termasuk dalam hal ini tidak ada yang mengingatkan. Endingnya, jadi kalah telak dengan kasur dan rebahan. Tadinya mau ada perubahan, eh, ternyata yang muncul malah perebahan. 


Pentingnya Bergabung dalam Komunitas Olahraga

Hidup sendirian itu memang tidak enak. Ini terjadi karena kita adalah makhluk sosial. Sebutan itu terus melekat pada diri kita, meskipun kita mungkin sering membolos ketika pelajaran ilmu-ilmu sosial. Masih ingat? 

Oleh karena itu, berolahraga yang benar tidak cuma menyiapkan outfit, sepatu, peralatan, termasuk HP untuk validasi sosial, tetapi juga akan lebih bagus lagi jika lewat komunitas olahraga. 

Saat Be-emers bergabung dalam sebuah komunitas olahraga, maka ada teman seperjuangan, muncul rasa “tidak sendirian”. Ditambah dengan dorongan sosial positif. Tidak kalah pentingnya adalah lebih konsisten dan termotivasi.

Hal-hal yang seperti itu tidak bisa tidak dapat dikaitkan dengan psikologi perilaku. Saat kita sudah punya teman dalam satu komunitas olahraga, maka ada rasa tanggung jawab sosial untuk datang.

Muncul juga rasa "nggak enak" kalau sampai absen tidak ikut olahraga bareng. Ketika mau bolos, timbul rasa malu, tidak hanya pada diri sendiri, tetapi juga pada teman-teman dalam komunitas olahraga tersebut.

Rasa seperti itulah yang justru menyelamatkan semangat olahraga kita. Seseorang akan lebih tenang, kuat, dan semangat jika bersama orang lain.  

Seiring semakin aktifnya Be-emers dalam komunitas olahraga, akan membuat Be-emers jadi lebih disiplin. Bisa lebih percaya diri, kesehatan mental atau mental health jadi lebih baik. 

Jangan lupa, networking jelas bertambah, dong! Dengan demikian, bisa membuka peluang kerja/bisnis yang tentunya bisa menghasilkan cuan bagi Be-emers. Asyik apa asyik nih?