Raup Pahala dan Keutamaan di Bulan Dzulhijah dengan Melakukan Puasa Ini

Sapi kurban/Pexels.com


Bulan Dzulhijah adalah bulan yang ditunggu-tunggu kaum muslim. Dua hari raya yang dilakukan oleh kaum muslim, salah satunya adalah Iduladha. Iduladha ini dilakukan pada bulan Dzulhijah. Yang paling kita ingat adalah penyembelihan hewan kurban setiap tanggal 10 Dzulhijah dan 3 hari setelahnya.
 
Awal Dzulhijah kemarin, emak saya berkata ingin puasa. Beliau sahur sendiri dengan makanan yang ada. Saya sendiri baru tahu kalau keinginan emak itu beliau wujudkan.

Ketika hendak mengajak makan siang, emak menyatakan kalau beliau berpuasa. Kata emak,"Puasa di bulan Dzulhijah akan menghapus dosa setahun yang lalu."
 
Perkara puasa Dzulhijah bisa menghapus dosa yang telah lalu memang sudah sering didengar dan masyarakat kita sudah banyak yang mengetahui hal itu.

Namun, masih banyak juga yang belum mengamalkannya. Alasannya, bayar puasa saja belum kelar, bagaimana mau puasa sunnah di bulan Dzulhijah.
 

Tradisi dan Sunnah Berpuasa di Bulan Dzulhijah

Teman-teman mungkin sangat paham tradisi yang dilakukan oleh masyarakat kita. Ketika memasuki bulan Dzulhijah, masyarakat melakukan persiapan.

Ada yang mempersiapkan dana untuk membeli hewan kurban, belanja makanan untuk menyambut tamu, dan puasa sebelum tanggal 10 Dzulhijah. 
 
Ada dua puasa yang sering diamalkan oleh masyarakat kita, yang pertama puasa tarwiyah (8 Dzulhijjah) dan kedua puasa Arafah (9 Dzulhijjah).

Dua puasa ini dianggap sunnah sangat utama yang dikerjakan menjelang Hari Raya Idul Adha. Mengutip dari Rumaisho.com, syaikh Albani menyatakan kedhoifan hadits berikut ini.

"Puasa pada hari tarwiyah akan mengampuni dosa setahun yang lalu. Sedangkan puasa hari Arafah akan mengampuni dosa dua tahun.” Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh dan Ibnu An Najjar dari Ibnu ‘Abbas. 
 
Di atas adalah dalil yang menyatakan kedhoifan puasa tarwiyah, puasa pada tanggal 8 Dzulhijah. Jika ada yang mengatakan boleh berpuasa 8 Dzulhijah, maka dia telah menyelisihi sepakat para ulama) (Al Majmu’ Al Fatawa,1: 250-251). 
 
Dalil yang banyak beredar di masyarakat seringkali dianggap shahih dan mengandung kebaikan sehingga banyak yang mengamalkannya. Dalam anggapan masyarakat dengan dalil tersebut berikut keutamaan yang diperoleh, maka anggapan 'Apa salahnya dilakukan saja puasa'.


Inilah yang harus diperhatikan oleh seorang muslim bahwa perkara ibadah memang harus jelas dalil dan kesholihannya. Lalu, manakah yang harus kita amalkan?

Dikutip dari Rumaisho.com, selama bulan Dzulhijah, ada yang dinamakan puasa menjelang Iduladha dengan dalil yang shahih.

Dari Ibnu Abbas, rosulullah bersabda,"Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).”

Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satu pun.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad). Hadists ini dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani.