Ingin Jadi Content Creator Umrah, 5 Strategi Mengemas Konten Tanpa Mengganggu Kekhusyuan

Ilustrasi Kreator andal bukan asal rekam, tapi mengambil momen yang sarat cerita [Pexels]


Peluang bisnis Umrah dan Haji di Indonesia sangat besar dan luas, lebih dari sekadar jadi agent. Ada banyak sektor yang bisa dikulik, bikin konten misalnya.
Demikian salah satu insight menarik yang disampaikan Nanik Prasasti S,Pd selaku Customer Care Haji & Umrah Travel Agent dalam acara Youngpremeur Talk bertajuk "Peluang Berkah Usaha Jasa Travel Umrah dan Haji" yang saya ikuti semalam.

Saya merenung. Iya juga ya, di era perkembangan digital seperti sekrang apa saja laku dijadikan konten. Namun, menjadi content creator spesialisasi Umrah tentunya berbeda.

Pasalnya ini bukan pure holiday, orang pergi ke Tanah Suci untuk menghadap Allah. Beribadah, memanjatkan segala hajat dalam kehidupan.


Strategi Mengemas Konten Umrah Tanpa Mendistraksi Ibadah

Peer yang sejatinya harus dipikirkan bukan sekadar boleh tidaknya membuat konten.

Namun, bagaimana caranya seorang content creator mampu menyajikan konten perjalanan ibadah yang berkesan tanpa menghilangkan spirit beribadah jamaah.
 

1. Gunakan Format Konten Silent & Secret Service

Maksudnya gimana? Di sini kkreator diuji untuk membuat konten tanpa rasa travel creator. Lakukan pendekatan low intervention capture dan belajar mengambil momen dari jarak jauh.


Fokuslah pada momen natural misal ketika jamaah sedang berdoa (tanpa close-up wajah berlebihan), langkah pertama melihat Ka’bah, refleksi setelah tawaf. Ekspresi haru (tanpa eksploitasi) karena berhasil menjejakkan kaki di Mekah dengan selamat juga bisa diabadikan.


2. Tidak Sekadar Video, Susun Artefak Spiritual

Kreativitas kreator sangat diuji, yaitu menghadirkan konten yang bukan semata video berjilid. Adakan narasi suara (bisa meminta Voice over pelanggan setelah ibadah usai) plus insight yang dirasakan sepanjang beribadah.

Narasi yang bisa menjadi pembeda:
  • Timeline ibadah + refleksi
  • Quotes doa pribadi
  • Rekaman doa (privat)
  • Ambience destinasi seperti Masjidil Haram dan Masjid Nabawi


3. Jadilah Content Creator Santun

Bagi kamu yang masih merintis karier konten kreator pemula, utamakan tata krama yaitu meminta izin. Minta izin jamaah sebelum dokumentasi, hindari merekam orang lain tanpa izin.

Demi kenyamanan bersama, tinjau ulang repeat shot dan hindari mengarahkan ekspresi ibadah jamaah. Setelah konten jadi, simpanlah sebagai galeri pribadi. Jangan mengunggah momen ke media sosial tanpa izin bahkan menjadikan ibadah sebagai clickbait content.


4. Buatlah Mapping Content Mendalam

Perizinan sudah beres, peralatan merekam konten sudah proper, client sudah di depan mata? Saatnya membuat mapping konten yang akan dibuat di Baitullah. Bisa dengan:

Pre Umrah Story. Alias momen sebelum keberangkatan. Tanyakan klien tujuan spiritual beribadah. Misal hajat tertentu yang ingin dicapai, cerita personal atau momentum hidup yang menjadi 'panggilan' klien berangkat ibadah.

Post Umrah Reflection. Yaitu momen setelah ibadah selesai dan jamaah sudah tiba di Tanah Air. Buat testimoni menyentuh: pengalaman berharga yang dirasakan sepanjang sesi Umrah/Haji, refleksi diri yang didapat sepulang dari Rumah Allah.

Konten seperti ini akan menjadi Digital journey book berkesan sepanjang hidup, bukan random journey footage tanpa makna.