Gara-Gara Pandemi, Jadi Punya Pabrik Makanan Beku Siap Saji!

18 menu Darmojo Ayam Panggang

Like

Mungkin hampir semua pengusaha merasakan dampak dari pandemi Covid-19. Ada usaha yang hidup segan mati pun tak mampu, bahkan sampai harus tutup, tapi ada juga yang mengalami peningkatan. Salah satunya adalah usaha kami yang terdampak dari pandemi ini.

Usaha kami bergerak di bidang kuliner dengan merk dagang Darmojo Ayam Panggang. Saya dan istri mulai membuka warung makan ini pada akhir tahun 2018 di Surabaya. Pada awal buka, warung makan ini merupakan waktu yang cukup sulit bagi kami, ada hari dimana tidak ada pembeli sama sekali.

Tetapi kami konsisten untuk mempromosikan warung kami baik secara offline maupun online. Hasilnya pada akhir 2019, kami sudah memiliki 3 cabang yang tersebar di Surabaya dan Sidoarjo.

Pada awal tahun 2020, mimpi kami buyar ketika Pandemi Covid-19 mulai masuk ke Indonesia. Untuk menjaga kesehatan konsumen dan karyawan, kami harus mengikuti protokol kesehatan dengan salah satunya menerapkan sistem “Take Away Only”.

Pada saat menerapkan sistem tersebut, penjualan warung makan kami mulai menurun. Puncaknya, ketika karyawan perkantoran mulai menerapkan “Work From Home” dan pelajar/ mahasiswa belajar secara daring, yang kebetulan target pasar kami adalah karyawan perkantoran dan mahasiswa.


Sales kami benar-benar sangat hancur saat itu. Untuk menutup biaya operasional, kami harus merogoh dari tabungan. Sudah sales hancur, bahan rusak pun meningkat. Hal ini karena sales tidak stabil, hari ini sales lumayan, tetapi besok yang terjual hanya 1-2 porsi saja.

Kondisi pandemi seperti ini membuat kami tidak bisa memprediksi sales. Sehingga bahan masakan yang dipersiapkan dan didisplay pun rusak.

Karena tabungan kami makin lama makin menipis, kami mulai berpikir bagaimana caranya agar umur produk menjadi lebih tahan lama, barang rusak akibat display berkurang dan dapat dikirim keluar kota. Beberapa pelanggan pun menanyakan apakah menu kami dapat dikirim ke daerah mereka (beberapa pelanggan kami pulang kampung karena kantor dan kampus tutup karena pandemi).

Sebelumnya, produk kami di warung sudah menerapkan konsep makanan beku siap saji untuk penyajian lauknya saja di tiap cabang. Karena penerapan konsep tersebut sangat mudah untuk karyawan dan juga agar SOP tetap terjaga, akhirnya kami terpikirkan untuk mengembangkan produk lauk beku siap saji kami.

Dengan pengemasan yang lebih baik dan dapat menjawab kebutuhan dari pelanggan, yaitu memiliki daya tahan lama, kami dapat dikirim ke luar kota serta penyajiannya yang praktis dan mudah.

Penciptaan produk makanan beku atau siap saji ini hasil dari observasi ke berbagai sumber informasi, salah satunya dari bisnismuda.id. Produk makanan beku ini juga tidak langsung sempurna, banyak perbaikan dari mulai packaging yang aman digunakan di freezer, hingga cara penyajian yang tidak merusak cita rasa dari masakan dan menambah varian baru agar konsumen dapat lebih banyak pilihan.

Karena produk makanan beku siap saji kami sangat diterima oleh pasar sedangkan sales warung terus menerus menurun, maka pada akhirnya kami menutup semua warung dan fokus di produk makanan beku siap saji.

Namun, cobaan tidak berhenti disana, pada pertengahan 2020 ketika kami terpilih menjadi 100 besar Foodstartup Indonesia 2020, kami mendapatkan arahan bahwa untuk menjual produk makanan beku olahan harus memiliki izin edar yaitu BPOM, jika tidak maka akan mendapatkan sanksi.

Pada saat itu kami bingung, karena sama sekali belum tau seluk beluk dalam bisnis makanan beku ini. Namun banyak rekan Foodstartup Indonesia 2020 yang sudah berpengalaman dibidang makanan beku, kami jadi mendapatkan ilmu dan bantuan informasi mengenai proses perijinan BPOM.

Tetapi, proses perijinan tersebut membutuhkan dana yang tidak sedikit, karena salah satu persyaratan untuk mendapatkan izin BPOM adalah rumah tinggal dan lokasi produksi terpisah, denah ruangan harus mengikuti peraturan BPOM agar tidak terjadi kontaminasi, harus uji laboratorium dimana biaya parameter uji juga terbilang mahal. Karena selama ini kami memproduksi makanan beku di dapur rumah kami, maka kami harus mengeluarkan biaya sangat besar untuk menyewa tempat dan merenovasinya sesuai aturan BPOM.

Singkat cerita, ujian-ujian pandemi ini berdampak positif bagi kami, karena kami seperti diarahkan ke jalan yang lebih baik dan lebih suistabable. Saat ini kami telah memiliki tempat produksi (pabrik kecil) dari makanan beku siap saji dan telah mendapatkan izin edar dari BPOM dan sedang proses ke sertifikasi halal MUI.

Produk makanan beku kami mengalami peningkatan yang sangat baik. Memang pandemi Covid-19 ini memberikan dampak yang cukup besar bagi kita semua, tetapi bagaimana kita merespon dari dampak tersebut, bisa kita respon secara negatif atau positif, semua tergantung kita.

Memang saat awal pandemi bisa dikatakan masa terberat kami, karena harus beradaptasi dengan kondisi yang tidak pernah kami sangka sebelumnya. Tetapi karena kami memiliki lingkungan yang positif dengan mengikuti komunitas-komunitas bisnis, kami mendapatkan ilmu baru dan pencerahan yang dapat kami gunakan untuk melalui cobaan pandemi ini.

Walaupun kondisi usaha kami saat ini masih tetap berjuang, tetapi kami bersyukur bahwa bisnis kami mengarah ke lebih baik, pendapatan jadi lebih meningkat dan dapat melestarikan serta memperkenalkan kuliner warisan keluarga dan nusantara ke semua orang dengan pengemasan yang lebih modern.

Salah satu komunitas yang kami rekomendasikan untuk bergabung yaitu komunitas UMKM Bisnis Indonesia, selain website mereka juga memiliki group di Aplikasi telegram dengan alamat tautan di Telegram UMKM Bisnis Indonesia

Target kedepannya adalah kami ingin meningkatkan penetrasi ke pasar nasional baik online maupun offline dengan cara bekerjasama dengan berbagai marketplace dan toko - toko tradisional maupun modern. Dan semoga semakin banyak pembisnis muda yang bangga dan dapat melestarikan kuliner Indonesia hingga ke ujung dunia.

#CeritaUMKM #Bisniscom #BisnisMuda #BisnisIndonesia