“Berjualan” sebagai Alat Pencarian Jati Diri

Young Adulth (Sumber:depositphotos.com)

Young Adulth (Sumber:depositphotos.com)

Like

Jika bercermin dari tema suatu novel, permasalahan yang diangkat dari kehidupan “young adult” adalah tentang kehidupan nyata muda-mudi yang mulai berkonflik dengan jati diri dan kehidupan sosialnya. Biasanya, hal itu dikategorikan pada rentang usia 18-25 tahun.

Pembahasan masa muda tidak terlepas dari ucapan Dahlan Iskan, yaitu
“Setiap orang punya jatah gagal, habiskan jatah gagalmu ketika masih muda”.

Kutipan tersebut lekat artinya dengan awal hidup muda-mudi untuk menentukan pilihan hidupnya di masa depan. Ada keinginan untuk bersenang-senang sebelum masa tua menghampiri dengan setumpuk tanggung jawab dan beban.

Namun, disaat yang bersamaan darah mengucur keras juga diperlukan agar masa tua tidak menyesal. Keseimbangan ini mugkin akan sulit dijalani dengan timbangan yang sama. Pilihan untuk bersenang-senang dengan pengorbanan harus bisa dihadapi supaya masa muda dan tua tidak terbuang begitu saja.

Jati diri sulit ditemukan tanpa mencari, mencoba  dan mengaplikasikan. Namun, adanya banyak faktor yang memengaruhinya, sehingga kembali dihadapkan pada lembah atau bukit kehidupan.

Begitulah problematika pada proses pencarian ini. Lembah akan menunjukkan kemerosotan dan bukit akan mengakibatkan peningkatan. Faktor internal dan ekternal itu harus bisa kita kontrol untuk menunjukkan arah lembah atau bukit yang akan kita pilih.


Setelah sibuk dengan mencari, sang pemuda-pemudi akan mencoba beberapa hal dari hasil pencariannya. Berhasil dan gagal tidak selalu tentang uang dan kebahagiaan. Berapapun banyaknya, uang akan tetap habis karena ketidakpuasan dalam menikmati hidup. Sedangkan kebagiaan tidak akan permanen, sedih akan singgah dalam hidup sebagai oposisi dari ketidak permanenan kebahagiaan.

Salah satu contoh mencari jati dari adalah mencari dan mencoba berjualan. Berjualan melatih kita untuk diterima dan ditolak, untung dan rugi, serta bangkrut dan bangkit. Prosesnya akan memberikan pelajaran banyak hal.

Bertemu banyak orang, meriset banyak hal, mengerti kondisi sekitar, serta meramal masa depan. Bersenang-senang dengan pelajaran baru dan tantangan baru, namun juga mengucurkan darah untuk percobaan yang gagal dan terus bangkit, karena apapun yang kita lakukan sekarang akan berdampak pada 5 tahun kemudian.

Kuncinya  adalah selalu ada kesempatan untuk berjuang, jika kita memutuskan berhenti, saat itu lah takdir ditetapkan. Perasaan lelah sebaiknya dijadikan waktu untuk rehat, karena lelah bukan berarti berhenti, dan berhenti bukanlah selesai. Semua harus dimulai kembali.