3 Tips Psikologi Finansial Supaya Keuangan Lebih Terarah di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Kestabilan Emosi (sumber gambar: freepik)

Kestabilan Emosi (sumber gambar: freepik)


Kondisi melemahnya rupiah hingga mencapai angka mendekati 17.000 per US$ 1membuat Be-emers wajib mawas dalam beberapa hal tidak terkecuali keadaan emosi.

Mengapa psikologi finansial menjadi hal yang cukup penting?

Karena keputusan dalam membelanjakan uang di masa melemahnya ekonomi menjadi hal yang krusial, menghindari hal-hal yang bersifat impulsif, seperti panic buying, berutang berlebihan, menjual aset dengan tergesa-gesa.


3 Tips Psikologi Finansial Supaya Keuangan Lebih Terarah di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Dengan memahami psikologi finansial membuat suatu keputusan lebih terarah dan terukur, sesuai dengan kebutuhan yang ada dan tidak berdasarkan emosi sesaat.
 

1. Menghindari Punic Buying

Punic Buying adalah perilaku membelanjakan uang untuk barang secara berlebihan padahal dalam kondisi ekonomi tidak stabil.

Hal ini menyebabkan pemborosan berlebih, terutama untuk finansial pribadi.Selain itu, panic buying dapat menyebabkan kurang efisiensi keuangan.


Barang yang dibeli dalam jumlah besar belum tentu digunakan secara optimal, bahkan berisiko rusak atau kedaluwarsa. 

Dalam jangka panjang, kebiasaan panic buying juga dapat memicu ketergantungan pada utang, terutama jika pembelian dilakukan menggunakan kartu kredit atau paylater. Hal ini menambah beban finansial dan berpotensi mengganggu stabilitas keuangan pribadi.
 

2. Self-Awareness Finansial

Self Awareness merupakan unsur kesadaran pada seseorang yah be-emers, meliputi pola pikir tentang keuangan, kondisi dan kebiasaan.

Adanya self awareness finansial ini bermanfaat untuk kemudahan mengatur keuangan, mengurangi stress karena keuangan, keputusan keuangan lebih rasional dan kehidupan selaras dengan nilai pribadi.