Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea, kelenteng tertua (Foto Pribadi)
"Selamat datang di Kelenteng Hok Tek Bio. Kalau diterjemahkan Hok artinya beruntung, Tek itu kebaikan, sementara Bio adalah kelenteng. Harapan agar masyarakat selalu berlimpah keberuntungan," jelas Mas Wisnu, pemandu lokal kami siang itu.
Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea yang Kaya Cerita
Di tengah tembok ruangan, Dewa Bumi selaku tuan rumah menyambut dengan kewibawaan penuh.

Dewa Bumi, dewa yang dihormati sebagai Dewa Kemakmuran (Dok. Pribadi)
Di mata umat Tionghoa, Hok Tek Ceng Sin alias Dewa Bumi dipercaya sebagai dewa kemakmuran. Hal ini tidak terlepas dari sejarah Tiongkok di masa lampau.
Adalah Zhang Fu De, seorang Menteri Keuangan berusia 36 tahun kala menjabat. Beliau dicintai rakyat karena selama menjalankan tugasnya amat bijaksana dan tidak ingin memberatkan rakyat miskin dengan pajak.
Kesedihan mendalam terasa ketika beliau wafat pada usia 102 tahun pada generasi kedua Kekaisaran Dinasti Zhou. Masyarakat harus menelan pil pahit ketika menteri selanjutnya yang memimpin, Wei Chao bagaikan langit dan bumi.
Wei Chao adalah seorang yang tamak dan rakus lagi kejam. Tanpa belas kasihan, ia memungut pajak bahkan dari rakyat miskin sekalipun sehingga rakyat menderita. Tak tahan, penduduk pergi dan memuja pusara Zhang Fu De untuk memohon perlindungan. Mereka rindu sosok pemimpin yang arif dan mengasihi tanpa pamrih.
Konon ketika wafat, wajah Zhang Fu De tidak banyak berubah. Hal ini yang kemudian membuat Dewa Bumi digambarkan sebagai seorang pria tua yang tersenyum ramah, berambut serta berjanggut panjang berwana putih, dan sering kali dalam posisi duduk.
"Setelah wafat, masyarakat mulai memuja makamnya dan mulai merasakan hidupnya dilimpahi keberuntungan," sambung Mas Wisnu.
Alasan ini membuat Patung Dewa Bumi dibuat di dalam kelenteng. Umumnya, kelenteng yang diperuntukkan bagi Dewa Bumi dibangun dekat pasar.
Pemujaan pada Dewa Bumi biasanya dilakukan setelah panen raya, momen para petani bersyukur atas rezeki yang diperoleh. Pada zaman Dinasti Shang (1783–1134 SM), seorang penasihat agung Kaisar yaitu Ie In (Ou Hing atau A Hang) memberikan makna pesta panen raya tersebut dengan istilah Fu De Zheng Shen.
Maknanya adalah memperoleh rezeki (Hok/ Fu) dalam kebajikan (Tek / De) dengan tetap menegakkan (Ceng/ Zheng) nilai-nilai rohani (Sin / Shen). Makna atau istilah inilah yang kemudian populer dan membuat Dewa Bumi tak pernah dilupakan.
Baca Juga: 5 Tips Memilih Walking Tour Berkualitas untuk Ciptakan Memori Berkesan
Sempat Jadi Gudang Senjata

Potret Thung Tian Mie yang diduga mendirikan Kelenteng Hok Tek Bio awal abad ke-19. Siapa pendiri kelenteng sesungguhnya memiliki banyak versi (Dok. Pribadi)
Dahulu, kolonialis Belanda bahkan pernah memanfaatkan kelenteng sebagai tempat penyimpanan senjata kala mereka bercokol di Indonesia.
Sejauh mata memandang, interior kelenteng sederhana. Tiang besar berwarna merah, juga hanya terdapat beberapa meja untuk umat beribadah.
Menurut beberapa catatan, rupanya kelenteng di Ciampea ini termasuk kelenteng tertua di Bogor. Sebelum Kelenteng di Cibinong, Sentul Babakan, Cileungsi maupun di Dhanagun ada, Kelenteng Hok Tek Bio di Ciampea sudah lebih dahulu berdiri.

Petilasan Eyang Suryakencana, trah keturunan Kerajaan Pajajaran yang dihormati. Wujud kerukunan umat beragama kental terasa.
Erinintyani Shabrina Ramadhini
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.