Ilustrasi orang sedang mudik lebaran (Sumber gambar: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Queuing_at_the_Merak_ferry_port.jpg)
Masih ingat lagu yang judulnya "Makhluk Tuhan yang Paling Seksi"?
Yap, lagu itu dibawakan dengan apik oleh Mulan Jamela. Suaranya yang khas, unik, dan sepertinya satu-satunya di Indonesia.
Menurut kamu, yang paling seksi itu siapa, sih? Kalau menurut saya, yang paling seksi itu tidak harus perempuan cantik, tetapi yang berada di kepanitiaan sebagai seksi konsumsi.
Itulah bagian kepanitiaan yang paling seksi, yaitu: seksi konsumsi. Bayangkan, ketika kita menjadi panitia, mengurus suatu acara atau kegiatan, tetapi tidak diberi makan dan minum, sanggup?
Keadaan ini biasanya berlaku di luar bulan puasa. Namun, sama juga dengan di bulan Ramadan. Capek-capek urus pengajian menjelang berbuka puasa, tetapi seksi konsumsi tidak memberikan kita takjil. Rasa-rasanya, kok kita jadi ingin menelan mikropon saja, ya?
Selain seksi konsumsi, seksi lain yang tidak kalah seksi, yaitu: seksi keamanan. Meskipun seksi yang ini biasanya di luar ruangan atau tempat acara, meskipun tidak sampai di luar bumi, mereka tetap penting.
Tugasnya memastikan kegiatan berjalan lancar. Misalnya, dalam suatu kegiatan musyawarah, tugas seksi keamanan untuk mengatur peserta agar masuk ke dalam ruangan.
Selain itu, menegur peserta yang masih berada di luar ruangan. Seksi keamanan juga bertugas mengatur parkir. Biasanya, yang ada di tempat parkir cuma sepeda motor dan mobil, sih, jarang ada peserta yang datang pakai pesawat pribadi dan ikut diparkir di situ juga.
Meskipun keamanan menjadi bagian penting, tetapi itu baru satu sisi. Masih ada sisi satunya lagi, yaitu: kenyamanan. Aman, tetapi tidak nyaman, apa kata dunia? Apa kata Naga Bonar?
Antara aman dan nyaman memang harus saling melengkapi. Harus saling mengasihi. Harus saling mencintai. Seperti saya dan kamu. Halah.
Termasuk dalam Urusan Mudik Lebaran
Biasanya, persepsi tentang mudik lebaran ini tempat tujuannya jauh. Kalau diukur pakai jengkal tangan manusia, aduh, aduh, tangan siapa mau dipakai itu? Oleh karena tujuannya jauh, maka biasanya juga memakan waktu yang cukup banyak. Ada yang satu hari baru sampai, ada pula yang dua atau tiga hari.
Agar dapat sampai sebelum lebaran tiba, maka berangkatnya pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Berarti, ada yang dikorbankan di sini, yaitu: ibadah iktikaf di masjid.
Pastilah iktikaf terlewat. Kalau pun singgah di masjid untuk salat, pastilah juga tidak lama dan tidak fokus iktikaf di situ.
Beranjak dari ibadah yang terkorbankan itu, ada juga keluarga yang baru mudik setelah lebaran. Setelah pelaksanaan salat Idul Fitri.
Seperti keluarga saya dahulu, dari Jogja ke Grobogan, tempat nenek saya, biasa berangkat setelah salat Idul Fitri di alun-alun utara di Jogja. Perjalanan sekitar 3 atau 4 jam, jadi masih sempat, lah, untuk berlebaran di rumah nenek.
Perjalanan yang jauh dan waktu yang lama, tentunya membutuhkan keamanan dan kenyamanan maksimal. Dua hal itu tentu sudah diulas beberapa penulis lain di website Bisnis Muda ini.
Sedangkan saya akan mengulas hal-hal yang memang belum diulas. Bahkan, anak TK pun belum pernah mengulas ini, apalagi menuliskannya di website Bisnis Muda.
Awali dengan Niat yang Benar dan Iringi dengan Zikir
Kesehatan badan sudah dicek. Kesehatan kendaraan juga sudah beres. Arah perjalanan sudah ditentukan. Informasi kemacetan mungkin sudah juga didapatkan. Jalur dunia telah mantap, tinggal jalur langit yang belum. Awali perjalanan mudik lebaran ini dengan niat yang benar. Maksudnya, sebenarnya niat mau mudik lebaran ini apa toh? Apa sih?
Apakah benar-benar ingin bersilaturahmi dengan orang tua dan keluarga di kampung? Ataukah ada alasan lain, misalnya, hem, mau pamer kekayaan dan pekerjaan begitu?
Niat mudik lebaran memang perlu diluruskan dari awal. Sebab, perjalanan ini pastinya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kalau niatnya tidak benar, misalnya niat untuk menyombongkan diri, maka ini niat yang tercela.
Ada memang orang yang sukses di perantauan. Dia menjadi orang kaya, punya mobil mewah, rumah megah, tabungannya di rekening mungkin juga miliaran.
Lalu, dia pulang kampung demi menunjukkan hasil kekayaan itu. Datang dengan mobil mewahnya. Memakai pakaian yang mahal. Demi menunjukkan, ini lho saya! Ini lho saya sudah kaya raya!
Biasanya, orang-orang di kampung memang berada dalam taraf ekonomi menengah ke samping, wah, maksudnya menengah ke bawah.
Mungkin mereka sudah menerima program pengentasan kemiskinan. Dari yang tadinya berada di bawah kemiskinan, sekarang naik menjadi pas di garis kemiskinan.
Problem kemiskinan di kampung memang bisa akut jika tidak ditangani dengan baik oleh pemerintah, utamanya pemerintah daerah. Nah, kedatangan orang yang kaya dan sukses di perantauan, bisa memunculkan penyakit hati di kalangan mereka.
Niat yang salah dan kesombongan di tempat tujuan, meremehkan orang lain, ini yang membuat kondisi tidak aman, terutama akhirat kita. Bukankah orang yang sombong itu terancam api neraka, meskipun sombongnya sangat kecil?
Lebih baik, tampil sederhana saja di kampung. Okelah, kita kaya, kita sukses, kita berhasil, kita sudah jadi orang, lho, sebelumnya apa?
Namun, kekayaan dan kesuksesan itu lebih baik ditampilkan secara biasa-biasa saja. Ini juga menjadi tanda syukur kita kepada Allah. Kekayaan dan kesuksesan itu bisa saja dicabut Allah tiba-tiba. Siapa yang bisa mencegahnya, ya 'kan?
Kemudian, terkait kenyamanan dalam perjalanan, maka zikir perlu untuk terus dilakukan. ZIkir banyak sekali bentuknya, kok! Bisa dengan membaca tasbih, istiqfar, doa-doa khusus, maupun membaca Al-Qur'an, baik lewat mushaf maupun HP.
Risiko di perjalanan memang tidak bisa ditebak. Betapa banyak kasus kecelakaan lalu lintas. Apalagi momen lebaran begini, volume kendaraan sangatlah padat.
Semuanya berebut ingin segera sampai di tempat tujuan, tetapi malah jadi lupa atau lengah dalam menjaga keamanan dan kenyamanan sendiri.
Zikir yang terus terucap membuat kita tidak lupa dengan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Selain itu, membuat hati lebih tenang, kita serahkan urusan perjalanan ini kepada Allah.
Saat macet nanti, daripada ngedumel, ngomel sendiri, atau bahkan klakson berkali-kali, percuma kendaraan di depan tidak akan maju kalau yang di depan-depannya tidak juga maju.
Berada dalam keadaan macet memang membuat stres. Ketika hari kerja kena macet, sekarang hari liburan masih juga kena macet. Setia banget sih macet menghampiri kehidupan kita?
Kalau macet, perbanyak zikir, itu malah semakin menambah pahala. Apalagi ditambah dengan istiqfar, dosa-dosa kita jadi lebih diampuni Allah.
Hati jadi lebih adem, nyaman, dan pastinya tidak gampang terpancing emosi. Memangnya kita ikan apa, pakai terpancing segala?
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.