'Sidang' yang Mulai Dikalahkan Zaman
Dinamika terus berkembang, agar lebih ekonomis dodol mulai diproduksi 'keroyokan' menggunakan mesin. Alasannya jelas, semakin banyak dodol jadi dalam satu waktu. Namun, kok rasanya beda. Seperti ada esensi yang hilang.Saya rindu suara kayu yang mengaduk wajan besar, senyum sepupu ibu ketika mengaduk gula aren yang mulai mengental. Penuh harap masih ada sisa balok kecil dodok di ujung sendok yang bisa kumakan langsung. Hm, nikmat sekali.
Baca Juga: Nganteuran di Garut, Tradisi Lebaran yang Mulai Langka Tapi Bermakna
Walau tradisi pembuatan dodol secara konvensional itu kian terkikis, saya bangga dodol jadi idola. Wisatawan merengkuhnya sebagai bukti telah berkunjung ke kampung halaman saya. Bisa dibilang, dodol membentuk urang Sunda hari ini.
Dodol adalah cerminan orang Sunda yang sabar, hangat, dan menjunjung tinggi kebersamaan. Dari penganan ini saya diingatkan akan keikhlasan, keteguhan, ketulusan yang tidak selalu diucapkan, tapi bisa dirasakan.
Proses pembuatan dodol menepuk pundak kita agar sejenak berhenti. Mengaduk aneka intrik dalam hidup dengan lebih sabar. Menjaga hubungan agar tetap erat. Menikmati setiap prosesnya.
Aroma gula aren itu mungkin akan selalu berubah seiring waktu. Akan ada gula buatan lima tahun lagi mungkin?
Tapi bagi saya, setiap kali mencium aromanya, ia akan selalu berarti satu hal: rumah dengan kenangan manis bersama kakek di dalamnya.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Punya opini atau tulisan untuk dibagikan juga? Segera tulis opini dan pengalaman terkait investasi, wirausaha, keuangan, lifestyle, atau apapun yang mau kamu bagikan. Submit tulisan dengan klik "Mulai Menulis".
Submit artikelnya, kumpulkan poinnya, dan dapatkan hadiahnya!
Gabung juga yuk di komunitas Whatsapp Group kami! Klik di sini untuk bergabung
Erinintyani Shabrina Ramadhini
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.