Seorang Ghostwriter Bukan Sekadar Menulis dan Mengetik
Kang Tendi Murti mengungkapkan dalam webinar tadi malam itu, saat matahari sudah tidak terlihat lagi di langit, bahwa seorang ghostwriter itu jangan dipahami sekadar menulis, mengetik, maupun pekerjaan penulis pada umumnya.Seorang ghostwriter itu jauh daripada itu, lebih kompleks daripada sekadar mengetik lewat laptop yang ada layarnya tersebut. Ghostwriter harus mampu mencari masalah yang ada, memecahkan masalah tersebut, sekaligus menulis untuk kebutuhan klien.
Seorang tokoh publik dapat menjadi klien ghostwriter, tetapi tidak harus tokoh yang sangat terkenal. Bisa dimulai dari siapa saja, lho!
Misalnya: anggota DPRD tingkat lokal, pengusaha lokal, pembicara publik yang masih belum menasional, maupun yang lainnya, seperti: istri pejabat yang ingin lebih bermasyarakat.
Ketika sebuah buku lahir membahas sepak terjang mereka, sepak terjang ini tidak dimasukkan ke dalam cabang olahraga kecuali sepak bola, maka itu bisa meningkatkan otoritas sekaligus branding di hadapan masyarakat secara umum.
Makanya, seorang ghostwriter pastilah seorang penulis, tetapi seorang penulis belum tentu bisa jadi ghostwriter. Masih banyak penulis yang menulis hanya untuk keren-kerenan. Kalau terus seperti itu, ya, akan sulit untuk dibayar mahal. Beneran, lho!
Penulis biasa itu lebih ke arah kepuasan pribadi. Namun, seorang ghostwriter tidak bisa seperti itu. Dia punya tugas untuk menggali segala hal tentang klien, kemudian dituangkan menjadi tulisan, menjadi buku, menjadi produk fisik yang bisa dikonsumsi orang banyak, tanpa harus memakan kertas-kertasnya. Hadeh.
Makanya itu, ketika ghostwriter menawarkan jasanya kepada seorang klien dan sudah mulai penawaran harga, tidak dihargai seperti tukang terjemahan maupun tukang ketik skripsi di rental-rental komputer dekat kampus tersebut.
Bukan begitu cara ghostwriter, melainkan dibayar setelah melihat hasilnya. Apalagi jika klien tersebut mengatakan, "Wah, ini gue banget!"
Maka di situlah kepuasan seorang ghostwriter. Dia berhasil memasukkan ide, konsep, pemikiran, maupun jati diri klien ke dalam buku tersebut. Seakan-akan klien tersebut yang menulis sendiri bukunya.
Tertarik Juga Jadi Seorang Ghostwriter?
Ada yang bertanya, "Bagaimana sih hukum ghostwriter ini? Bukankah ini sama saja dengan kebohongan, seakan-akan si tokoh itu yang menulis sendiri bukunya, padahal bukan?"Nah, menghadapi pertanyaan yang entah berapa poin dan hadiahnya ini, maka harus ditarik sebuah pemahaman, bahwa ghostwriter itu tidak hanya sekadar menulis seperti yang saya ungkapkan sebelumnya.
Ghostwriter itu mengungkapkan isi pemikiran dari klien atau tokoh. Jadi, bahan bakar bukunya itu, ya, jelas dari klien atau tokoh tersebut.
Hal yang dilarang jika ada seorang ghostwriter yang mengarang buku, lalu mengatasnamakan seorang tokoh. Padahal, tokoh tersebut tidak pernah ditemui sama sekali, tidak pernah diwawancarai sama sekali, dan tidak pernah meminta untuk dituliskan sama sekali. Lengkap, deh, tiga "sama sekali".
Kalau yang seperti itu jelas suatu pembohongan publik. Penipuan yang tidak jujur. Ya, namanya juga penipuan, pastilah tidak jujur. Namun, lebih enak mana, jujur ayam atau jujur kacang ijo?
Menjadi seorang ghostwriter adalah cara upgrade skill menulis. Selain itu, ini adalah cara menghasilkan uang secara unik, kreatif, dan penuh tantangan.
Ghostwriter bisa menawarkan jasanya tidak hanya menulis, tetapi diproses sampai bukunya itu benar-benar terbit. Seperti yang diungkapkan Kang Tendi Murti, bisa membantu sampai buku klien benar-benar terbit layaknya buku pada umumnya.
Kalau kamu tertarik juga menjadi seorang ghostwriter, maka sering-seringlah membaca buku orang lain, terutama tokoh-tokoh besar. Sebab, di situlah bisa jadi dibaliknya memang ada hasil kerja keras seorang atau malah beberapa orang ghostwriter.
Saatnya upgrade diri menjadi penulis yang lebih menghasilkan cuan. Memang, sih, ada pengorbanan sedikit, nama kita sebagai ghostwriter tidak dipajang di buku klien atau tokoh tersebut.
Namun, lebih pilih mana, dapat cuan yang besar atau sekadar dapat nama saja, tetapi hasilnya pas-pasan? Bukankah selain dapat cuan, jika buku tersebut tersebar luas dan bermanfaat bagi orang banyak, kita sebagai seorang ghostwriter akan dapat juga amal jariyahnya? Ya apa ya? Ya, ya, ya!
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Punya opini atau tulisan untuk dibagikan juga? Segera tulis opini dan pengalaman terkait investasi, wirausaha, keuangan, lifestyle, atau apapun yang mau kamu bagikan. Submit tulisan dengan klik "Mulai Menulis".
Submit artikelnya, kumpulkan poinnya, dan dapatkan hadiahnya!
Gabung juga yuk di komunitas Whatsapp Group kami! Klik di sini untuk bergabung
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.