Hari Bumi di tengah konflik geopolitik Iran-Israel dan cara hemat energi, sumber gambar: editing pribadi dan AI
Akhir-akhir ini, apakah Be-emers merasakan bahwa dunia ini makin panas? Bumi ini memang sedang menerima anugerah alias anunya gerah. Anu yang dimaksud di situ adalah cuacanya memang bikin gerah.
Hal ini mulai dirasakan sejak pagi. Bahkan waktu Subuh saja yang seharusnya sejuk, malah tetap panas yang mulai menusuk. Kalau tidak pakai kipas angin, rasanya ada setitik api neraka yang mampir ke rumah kita.
Mungkin, sebagian orang menyalakan AC dengan harapan suhu ruangan akan menjadi dingin. Namun, tahu tidak, bahwa AC itu malah menjadikan bumi ini makin sekarat. Efek rumah kaca makin parah, sehingga malah makin menambah gerah.
Selain suhu bumi yang makin panas karena matahari yang sedang semangat kerja tanpa meminta gaji, juga karena tensi atau ketegangan di Timur Tengah yang masih belum mengatakan "sudah". Konflik antara Iran-Israel membuat harga minyak dunia ikut "demam", membuat harga BBM jadi remuk redam, seakan menyakiti penuh rasa dendam.
Jika bumi makin panas, harga BBM bisa makin pedas. Padahal, kalau mau pedas, karetnya dua. Namun, ini sudah 10 karet, tetapi masih akan lebih pedas lagi.
Efek buruknya, jika begini terus, bumi yang panas, harga BBM makin ganas, yang mencair bukan cuma es di kutub, tetapi saldo di rekening kita yang ikut mencair. Membuat kita geleng-geleng lutut, eh, kepala dan tidak habis pikir.
Momen Memperingati Hari Bumi Tanggal 22 April
Bagi kamu yang pertama kali mendengar adanya Hari Bumi, bisa jadi merasa Herman, maksud saya merasa heran, ini maksudnya apa, ya? Apakah Hari Bumi tiap tanggal 22 April adalah tanggal diciptakannya bumi? Ataukah pada tanggal tersebut bumi ulang tahun? Wah, mau dirayakan di mana itu? Rupanya, ketika mengulik sejarah, pastinya kamu belum lahir waktu itu, apalagi anak dan cucumu, Hari Bumi atau yang disebut dengan Earth Day memang lahir dari suatu keresahan atau kegalauan.
Ini akibat kerusakan lingkungan yang waktu titu terjadi di Amerika Serikat. Pada tahun 1969, ada tumpahan minyak besar-besaran di Santa Barbara, California.
Senator Amerika yang bernama Gaylord Nelson dari Wisconsin ingin memasukkan isu lingkungan ke dalam agenda politik nasional. Tidak hanya itu, Nelson juga merekrut aktivis muda Denis Hayes. Fungsinya untuk mengorganisir pengajaran di kampus-kampus.
Pada tanggal 22 April 1970, ada sekitar 20 juta warga AS atau dengan jumlah 10% populasi pada saat itu turun ke jalan aiias berdemonstrasi. Aksi tersebut berhasil mendorong terbentuknya Badan Perlindungan Lingkungan AS (Environmental Protection Agency) yang tercipta pada akhir 1970.
Nah, muncullah regulasi baru. Muncul undang-undang krusial seperti: Clean Air Act dan Clean Water Act. Barulah pada tahun 1990, Hari Bumi mulai diperingati secara internasional. Bahkan sampai 200 juta orang di 141 negara.
Mengutip dari www.epa-gov, Ketika tahun 2000, teknologi mulai dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan Earth Day ini ke 180 negara.
Jadi, itulah sejarah Hari Bumi, sebuah hari yang memang khusus diperingati agar bumi ini makin lestari dan nyaman untuk ditinggali. Mengenai waktunya yang sehari setelah Hari Kartini, pastilah ada hubungannya karena Kartini juga pernah hidup di bumi. Ya 'kan?
Hubungan Antara Hari Bumi dengan Realitas Dompet
Kalau ditanya, apa sih hubungan antara Hari Bumi dengan realitas dompet, ya, jawabannya hubungan mereka baik-baik saja. Namun, jika diulur lebih jauh, Hari Bumi yang harus lebih diperingati sekarang ini, dapat berefek mengenaskan bagi isi dompet. Memperingati Hari Bumi pada dasarnya bukan cuma soal tanam pohon. Ini lebih ke soal bertahan hidup secara finansial. Hari Bumi yang tidak dijalankan sebagaimana mestinya, dapat mengakibatkan pemborosan energi hingga pemborosan pengeluaran.
Misalnya begini, naik kendaraan bermotor. Hanya untuk beli mi instan di warung yang tidak terlalu jauh, pakainya sepeda motor. Padahal, bisa dengan naik sepeda, jalan kaki, merangkak, maupun ngesot. Yang terakhir jangan deh, suster ngesot saja pilih-pilih ngesotnya, kok, bukan di aspal jalanan.
Meskipun kita merasa bahwa naik sepeda motor meskipun cuma dekat itu ah, ini pengeluaran kecil, kok. Paling hanya berkurang bensin sedikit sekali. Eits, untuk masalah lingkungan, tidak pernah dihitung sedikit seperti itu.
Kalau cuma kamu yang melakukan itu di seluruh dunia, bahkan di seluruh alam semesta, maka itu tidak masalah. Namun, bagaimana jika tidak hanya kamu, Be-emers? Banyak sekali yang berbuat begitu.
Itu jelas pemborosan besar-besaran. Energi bisa terkuras cukup banyak, padahal hanya membeli mi instan satu saja di warung terdekat. Soalnya, bisanya cuma beli itu. Anak kost, ya? Belum ditransfer uang bulanan, ya? Ya, ya, ya.
Demikian juga pemborosan dalam energi listrik. Ini yang paling sekali terlihat. Bahkan, saya pernah datang ke sebuah kantor yayasan Islam, dispenser masih menyala terus, bahkan sampai malam hari.
Padahal tidak ada orang di situ. Apakah itu mau menyuguhkan untuk para jin yang memang sering ada di situ? Atau juga di masjid yang masih satu lokasi dengan yayasan tersebut. Beberapa kali melihat kipas angin masih menyala, lagi-lagi tidak ada orang.
Semestinya sebagai orang Islam, lebih peduli terhadap kondisi umat sekarang. Berusaha melakukan tindakan penghematan agar energi listrik dan energi-energi lainnya tidak terbuang percuma.
Ketika malam hari, sebenarnya bagi yang umat Islam sudah diajarkan penghematan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Beliau mengajarkan agar ketika tidur mematikan api atau dalam hal ini adalah lampu.
Dilihat dari segi kesehatan, tidur dengan mematikan lampu ternyata sangat baik. Alasannya dapat memaksimalkan produksi hormon melatonin.
Pada kondisi gelap memicu otak memproduksi melatonin. Selain itu dapat meningkatkan kualitas tidur, merelaksasi pikiran, dan mengurangi risiko obesitas, diabetes, dan kanker payudara.
Tubuh juga bisa istirahat optimal dan mencegah gangguan jam biologis. Walaupun pernah beberapa kali bolos pelajaran Biologi, tetapi menyangkut biologis, ini harus menjadi perhatian berlapis. Maksa memang pakai akhiran "is".
Jadi, jangan takut lagi tidur dalam keadaan lampu dimatikan. Jangan sampai ada yang berpandangan takut muncul penampakan ketika gelap atau diganggu oleh makhluk halus.
Sebenarnya, makhluk halus itu bukanlah jin, melainkan perempuan yang selalu pakai kosmetik, skincare, losion, maupun produk-produk penghalus kulit. Makanya, disebut dengan makhluk halus. Begitu ya 'kan?
Sebelum tidur, cek kembali kelistrikan kita. Cabut cas HP yang masih menancap dan tidak mengisi apapun. Meskipun cas HP yang masih menancap di colokan listrik risikonya rendah, tetapi dapat memicu bahaya kebakaran akibat korsleting.
Ditambah dapat memperpendek umur charger karena komponen panas. Dan, tidak kalah buruknya adalah membuang listrik (standby power) yang meningkatkan tagihan. Memang sanggup bayarnya?
Cas HP yang dicolok terus, tetapi sedang tidak mengisi HP, ibarat hubungan tanpa kepastian. Menempel terus, tetapi tidak ada aliran cinta, eh, aliran listrik yang berguna.
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.