AS - Iran Gencatan Senjata, Kita Jangan Gencatan Belanja: Simak Tips Kelola Uang saat Krisis

Like

2. Dana Darurat sebagai Ban Serep Sebelum Adanya Perang Harga

Meskipun setiap hari kita ada pengeluaran, tetap butuh yang namanya dana darurat. Menurut teori yang ada, dana darurat ini jumlahnya 3 atau 5 kali dari pengeluaran biasa kita. 

Dana darurat berfungsi jika tiba-tiba biaya hidup naik drastis. Dapat pula dipakai misalnya untuk urusan kesehatan yang tiba-tiba muncul. Misalnya, ada serangan jantung yang harus tiba-tiba dibawa ke rumah sakit. Bisa juga penyakit berat lainnya. 

Kalau cuma penyakit panu yang mulai merebak, sepertinya tidak terlalu butuh dana darurat, deh, tetapi lebih cocok rasa malu yang makin darurat. 
 

3. Investasi: Usaha Mencari Celah di Tengah Gejolak

Jangan lupakan yang namanya investasi. Mulai dari yang paling mudah, misalnya: reksadana pasar uang. Mulai dari nominal terkecil dulu, misalnya: 100 ribu rupiah. Jelas, lebih ringan daripada 100 miliar bukan? Apalagi 'kan tidak punya uang sebanyak itu, kecuali di dalam mimpi. 

Pada dasarnya, investasi itu ibarat menanam pohon di tengah badai. Harus dipilih bibit yang kuat dan mencengkeram hebat di dalam tanah. Bukan bibit yang mudah roboh. lembek, dan rapuh. 
 

Sesuai Skala Prioritas

Dari tiga hal itu, manakah yang lebih didahulukan? Pertama, tentu saja adalah dana darurat. Seperti tadi yang saya tulis, minimal 3-6 bulan pengeluaran. 


Kedua adalah tabungan operasional yang berfungsi untuk jaga-jaga, jangan sampai ada kenaikan harga barang dan yang ketiga adalah investasi. Jika memang sudah melakukan investasi keuangan, investasi lain yang tidak boleh ditinggalkan adalah investasi leher ke atas. Ini termasuk pemahaman tentang keuangan itu sendiri. 

Banyak tempat belajar tentang keuangan. Kalau mau lebih bagus, memang berbayar. Toh, harganya tidak semahal secangkir kopi dengan kedainya bukan? 

Ilmu tentang keuangan itu misalnya begini, saat ada penawaran menarik, barang tersebut benar-benar memanjakan mata dan telinga kita, apakah langsung membelinya? Apakah langsung klik saja? Apakah langsung masukkan ke keranjang kuning? Bagaimana jika kita sukanya warna pink? 

Ternyata, ini yang perlu dipahami sebagai gencatan belanja. Nah, penting juga gencatan belanja ini. Kalau ada penawaran barang, coba gunakan aturan 24 jam. Tidak perlu 1x24 jam lapor RT, tetapi benar-benar tunggu 24 jam. 

Apakah barang tersebut benar-benar kebutuhan kita atau hanya sekadar nafsu sesaat? Apakah benar-benar nanti digunakan untuk kemaslahatan umat, bangsa, dan negara, wuih, jauh banget, ya, atau cuma karena barang tersebut terlihat lucu di keranjang kuning? 

Lebih baik prioritas kita adalah pada barang kebutuhan pokok. Kita lebih membeli dalam stok yang lebih banyak dan tahan lama, seperti: beras, minyak goreng, dan sabun. Ini bukan panic buying, melainkan untuk menjaga harga tiba-tiba meloncat, loncatnya pun tidak indah sama sekali lagi. 

Kita perlu mengecek juga "bocor halus" anggaran. Contohnya, terkait kantong plastik saat belanja di minimarket dekat rumah, bukan di dalam rumah. 

Meskipun berbayar dan terhitung murah, 200-300 perak, tetapi kalau dikumpulkan nominalnya 'kan jadi banyak? Padahal, di masa gencatan belanja ini, harus tutup semua kebocoran kecil. 

Bisa juga menutupnya dengan menutup langganan aplikasi yang tidak dipakai lagi, biaya admin bank yang berlebihan dan cenderung tidak wajar, atau bahkan jajan minuman manis yang sebenarnya bisa dibikin sendiri di rumah. 

 

Adem Ayem

Perang Amerika dan Israel melawan Iran memang masih memanas. Gencatan senjata ini entah sampai kapan, katanya cuma 2 minggu, tetapi apakah nanti akan jadi permanen atau tidak, kita tidak tahu. Yang jelas permanen itu adalah spidol. 

Meskipun begitu, kondisi di rumah harus tetap adem-ayem. Gejolak ekonomi di luar sana jangan sampai membuat gejolak keuangan di dalam keluarga kita. 

Siapkan tiga strategi, yaitu: tabungan, dana darurat, dan investasi. Hindari belanja yang tidak perlu, misalnya kita mau beli pesawat tempur sendiri, lalu mau diparkir di depan rumah. 

Kurangi bocor halus anggaran. Meskipun halus itu kata yang disukai oleh ibu-ibu, karena menyangkut kulit wajah dan tubuh. Gencatan belanja tetap perlu dilakukan demi masa depan ekonomi kita, nusa, bangsa, dan negara, serta yang di luar angkasa sana. Walah, kejauhan! 



---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Punya opini atau tulisan untuk dibagikan juga? Segera tulis opini dan pengalaman terkait investasi, wirausaha, keuangan, lifestyle, atau apapun yang mau kamu bagikan. Submit tulisan dengan klik "Mulai Menulis".
 
Submit artikelnya, kumpulkan poinnya, dan dapatkan hadiahnya!
 
Gabung juga yuk di komunitas Whatsapp Group kami! Klik di sini untuk bergabung