Ilustrasi bisnis minuman teh (Foto Freepik.com)
Siapa yang suka ngeteh entah di waktu pagi atau sore hari? Kamu suka teh klasik atau teh kekinian nih? Buat kamu yang suka teh kekinian pasti udah tau brand Menantea milik youtuber Jerome Polin dan Jehian Sijabat kan?
Yes, brand yang identik dengan warna kuning, krem dan hijau ini kini tengah menghadapi kenyataan pahit, harus rela menutup pintu rumah yang konsisten mereka rawat selama lima tahun.
Kalo kata pepatah, ‘kegagalan adalah guru terbaik’! Jadi alih-alih menyalahkan sang empunya bisnis alias bang Jerome dan Jehian, mengapa kamu enggak mencoba berhenti sejenak.
Tarik napas sambil renungin pelajaran apa yang bisa kamu petik jikalau suatu saat kamu berencana terjun ke dalam dunia bisnis.
Here we go, ini dia!
Pelajaran dari Bisnis Menantea Jerome Polin yang Wajib Kamu Pertimbangkan Sebagai Pemilik Usaha
Berikut adalah pelajaran dari bisnis minuman Menantea Jerome Polin yang wajib kamu pertimbangkan:
1. Lakuin Deep Interview Sama Calon Mitra dan Investormu
Ingat cerita Jerome di salah satu podcast soal dirinya yang ketipu miliaran rupiah?Nah, sebelum menyesal di kemudian hari, mending selagi kamu open kemitraan dan nyari investor. Selain menilai keahlian teknis dan pengalaman proyek, telusuri benar-benar riwayatnya mulai dari value diri, karakter hingga stabilitas keuangan.
Kamu bisa coba beragam jenis tes kepribadian, pantau status kredit mereka dengan SLIK OJK, hingga testimoni dari para rekan kerjanya.
Pastiin benar-benar bersih, tanpa kasus dan berdedikasi tinggi ya, biar kamu enggak makin kewalahan.
2. Rutin Ngaudit Keuangan Bisnismu
Jokes khas kaum milenial dan gen z, ‘apapun kejadiannya, apapun bidangnya, itu mah ujung-ujungnya duit’ rasanya sangat tepat kalo lagi ngomongin bisnis.Apalagi masalah laporan keuangan yang ibaratnya jadi jantungnya perusahaan. Begitu bermasalah sedikit aja, alarm kuning berbunyi nyaring tuh.
Makanya, penting buat bangun sistem pelaporan keuangan yang baik, aman dan terstruktur. Misalnya dengan bikin akses khusus lembar kerja laporan keuangan hanya ke karyawan tertentu, penempatan brankas yang proper jadi tidak mudah terlihat, penyimpanan seluruh berkas bukti transaksi (fisik dan non-fisik kayak struk, kwitansi, foto saat kegiatan transaksi terjadi, dan lain-lain).
Secara lengkap, juga rutin diaudit baik oleh internal maupun pihak eksternal biar tau apakah ada kemungkinan terjadinya fraud atau tidak.
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.