Upaya mereduksi Hari Kartini sebagai urusan domestik ini juga terjadi pada peringatan Hari Ibu yang diperingati setiap 22 Desember. Sejatinya tanggal itu merupakan tonggak Sejarah karena para kaum perempuan (ibu) merupakan tanggal dimulainya Kongres Perempuan yang pertama pada 1928.
Dalam kongres itu, mereka membicarakan berbagai topik mulai dari pendidikan, perkawinan, dan perlindungan perempuan serta anak-anak.
Lalu, di masa Orde Baru dan juga hingga kini, Hari Ibu justru direduksi dan diperingati hanya sebagai hari sentimental antara anak dan ibu. Anak mengucapkan terima kasih atas pengorbanan dan perjuangan seorang ibu yang telah membesarkannya.
Kenapa Orde Baru ingin mereduksi Hari Kartini dan juga Hari Ibu sebagai urusan domestifikasi semata? Tentu saja tujuannya agar kaum perempuan kehilangan daya kritis dalam meneropong keadaan sekitar.
Bagi rezim otoriter, rakyat yang kritis adalah sebuah bahaya besar, karena bakal mempertanyakan kebijakan yang diambil oleh pemerintah.
Sampai di sini, menjadi jelas kenapa Hari Kartini diperingati dengan berkebaya atau berpakaian tradisional bukan?
Sebenarnya tidak masalah mengenakan kebaya atau pakaian tradisional. Tapi kita jangan lupa untuk selalu menanamkan nilai-nilai emansipasi di segala bidang kehidupan, tanpa memandang gender atau latar belakang lainnya, kepada generasi muda.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Punya opini atau tulisan untuk dibagikan juga? Segera tulis opini dan pengalaman terkait investasi, wirausaha, keuangan, lifestyle, atau apapun yang mau kamu bagikan. Submit tulisan dengan klik "Mulai Menulis".
Submit artikelnya, kumpulkan poinnya, dan dapatkan hadiahnya!
Gabung juga yuk di komunitas Whatsapp Group kami! Klik di sini untuk bergabung
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.