Buruh Fashion Bukan Sekadar Objek: Wujudkan Kesejahteraan di Hari Buruh

Ilustrasi memperingati hari buruh (Foto oleh Sydney Sang/Pexels.com)

Ilustrasi memperingati hari buruh (Foto oleh Sydney Sang/Pexels.com)


Menjadi pekerja di berbagai sektor tidaklah mudah. Ada kewajiban yang harus dijalankan dan seiring dengan itu seorang yang bekerja itu pun harus memiliki hak yang harus ditunaikan oleh orang/lembaga yang mempekerjakan.

Dengan terpenuhnya hak-hak itu, para pekerja atau buruh akan bekerja lebih baik.
 

Sejarah Hari Buruh dan Libur Nasional

Peringatan hari buruh, 1 Mei bukan hanya peringatan yang baru saja dimulai beberapa tahun ini. Dikutip dari laman Jogorejo.desa.id, Hari Buruh Sedunia (May Day) jatuh pada tanggal 1 Mei.

Gerakan buruh saat May Day berawal dari abad ke-19 di Amerika Serikat, di mana para buruh menuntut hak-hak pekerja, salah satunya menuntut jam kerja menjadi maksimal delapan jam per hari.
 
Tahun 1886 terjadi peristiwa Kerusuhan Haymarket di Chicago terjadi konflik antara buruh pengunjuk rasa dan polisi.

Sebelum momentum Haymarket Chicago, organisasi buruh terbesar di Amerika (Knights of Labour) mendukung gerakan para pekerja untuk mogok dan berdemonstrasi. Kemudian, barulah terjadi kerusuhan di Haymarket Chicago.
 
Saat kejadian, polisi mencoba meredam aksi massa, ada oknum yang melempar bom dan polisi langsung mengeluarkan tembakan acak.

Akibatnya, tujuh petugas polisi tewas dan 60 lainnya terluka, kemudian empat hingga delapan korban sipil diperkirakan tewas dan 30-40 orang terluka.
 
Konferensi Sosialis Internasional pada tahun 1889 menetapkan 1 Mei sebagai hari libur internasional buruh (Hari Buruh Internasional).


Pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sejak 1 Mei 2013 hari Buruh Internasional dijadikan hari libur nasional. Kegiatan May Day ini mencoba untuk melindungi kepentingan Buruh BPJS Ketenagakerjaan.