Dolar Terbang Tinggi, Dompet Jangan Sampai Bunyi Sepi

Rupiah Melemah, Dolar Naik, Tips Keuangan Aman, Sumber Gambar: Editing Pribadi

Rupiah Melemah, Dolar Naik, Tips Keuangan Aman, Sumber Gambar: Editing Pribadi


Mungkin selama ini kamu merasa resah dan gelisah, apalagi sedang menunggu di sini. Mungkin sambil menjemput anak atau keponakan kamu di sudut sekolah hingga dilihati oleh semut merah.

Hal yang kamu risaukan itu mungkin juga dialami oleh banyak kepala keluarga atau orang yang bertanggung jawab terhadap keluarganya. 

Kondisi ekonomi sekarang memang sering membuat galau. Paling jelas contoh harga HP naik. Padahal HP bentuknya tidak ada perubahan, tetapi kok bisa naik, ya?

Begitu juga harga-harga yang lain. Nasi ayam geprek sudah naik seribu rupiah, sementara ayam-ayamnya tidak tahu kalau harga mereka sudah berubah. Apakah itu tanda tidak berperikeayaman? 

Pada akhirnya, yang melemah ini tidak cuma rupiah, tetapi sebenarnya juga semangat melihat harga-harga kebutuhan yang terkerek naik. Kalau bendera terkerak naik, kita hormat, tetapi kalau harga? Dompet kita yang bisa tamat. 


Ikut Pusing Ketika Dolar Naik, Kenapa Bisa?

Ada yang mengatakan bahwa kita tidak pakai dolar dalam kehidupan sehari-hari, jadi tidak perlu pusing. Jelas, kita tidak perlu pusing, karena yang pusing itu biasanya orang yang kena sakit kepala. 


Namun, rupanya kenyataan pahit harus kita telan mentah-mentah. Kondisi negara Indonesia yang kita cintai ini dari hari ke hari, ternyata masih banyak impor. 

Akibat dolar naik dan rupiah melemah, maka barang luar negeri jadi mahal. Ini baru dari luar negeri, belum yang dari luar angkasa, pasti lebih mahal lagi. 

Bahkan untuk kebutuhan sehari-hari pun, masih diimpor. Contohnya tepung terigu. Makanan seperti roti, gorengan, termasuk ayam geprek, masih menggunakan tepung tersebut. 

Termasuk kedelai, daging sapi, bahkan bawang putih yang biasa untuk mengusir drakula dan vampir itu. Jadi, kalau mereka sempat mengganggu ke rumah kita, apa yang harus kita lakukan? Masa kita bilang, "Maaf, tidak bisa dulu mengusir, bawang putih masih impor!"

Makanya, sungguh sangat salah jika kita tidak berkaitan langsung dengan dolar. Memang tidak pakai dolar, tetapi dolar yang makin kuat, membuat rupiah jadi makin gawat. Kalau dolar masih terus batuk, maka dompet masyarakat bisa makin tertusuk. 


Kesalahan yang Justru Tetap Mencuat Saat Ekonomi Sedang Berat

Meskipun kondisi ekonomi masih kembang kempis seperti sekarang, dan sebenarnya lebih banyak kempisnya, justru masih banyak orang yang melakukan kesalahan, merasa terbuai dalam kenikmatan surga dunia. 

Mereka masih tetap hidup dengan gengsi. Masih tetap FOMO. Gayanya masih dengan lifestyle yang tinggi. Ingin dianggap kaya, bahkan taipan, padahal rumah orang tuanya mungkin masih terbuat dari papan. 

Kondisi ekonomi sekarang benar-benar berubah. Serba tidak pasti dan rasa-rasanya belum ada peningkatan akhir-akhir ini dan dari awal-awal itu. 

Pengeluaran tidak direm, tetapi dibiarkan ngegas terus. Seolah-olah uang yang dipunya akan terus ada selamanya. Padahal, hidup ini seperti roda pedati. Kadang di atas, kadang di bawah, kadang pula menginjak kotoran hewan yang menarik pedati tersebut. 


Cara Menjaga Keuangan Agar Tetap Aman

Sekarang banyak orang yang masih dalam fase bertahan. Menjaga agar rumah tangganya tidak bangkrut maupun gulung tikar, meskipun cuma tinggal tikar yang dipunyai sekarang. Wah, mengerikan juga, ya? 

Bagaimana kiat-kiatnya agar tetap bertahan di tengah kondisi rupiah yang melemah tak tertahankan? Pertama, kurangi pengeluaran impulsif. Pengeluaran yang tidak perlu, jangan dikeluarkan. Jangan dulu mau beli pesawat terbang, jika garasi kita tidak mencukupi. 

Jangan selalu tergiur dengan aneka macam penawaran. Biasanya penjual memang seperti itu, melakukan segala cara untuk menarik uang kita dari dompet. Namun, ingat, kita jangan sering terpancing, karena pada dasarnya kita ini bukanlah ikan! 

Kalau mau dipikirkan lebih lanjut, kadangkala yang membuat dompet kita cepat tipis itu malah bukan dolar, melainkan diskon tanggal kembar dan paket promo yang membuat kita jadi ingin beli dengan tidak sabar. 

Kedua, kalau rumah sakit punya unit gawat darurat, maka di rumah tangga kita juga mesti ada dana darurat. Kalau dilihat dari teorinya, dana darurat ini bisa 3 sampai 12 kali pengeluaran bulanan. Tentunya, disesuaikan juga dengan status pernikahan, jumlah tanggungan, dan kestabilan pekerjaan.

Kelima, nah jelas salah, yang betul adalah ketiga, mulai cari penghasilan tambahan. Hal ini dilakukan agar jangan bergantung pada satu pemasukan saja. Jangan menaruh seluruh telur pada satu keranjang, karena masih ada yang mata keranjang. Eh. 

Penghasilan tambahan tersebut dapat mulai didapatkan dengan cara belajar skill baru dan menjualnya. Ambil waktu atau gantikan waktu yang hanya habis untuk scroll medsos dan melihat kehidupan orang lain dari layar HP.

Selama proses belajar itu, jangan malu atau gengsi di depan orang lain. Toh, selama ini kita tidak makan gengsi, tetapi makan nasi bukan? 

Setelah ketiga, jelas keempat. Einstein saja tidak tahu ini, karena dia tidak bisa bahasa Indonesia. Pada poin keempat ini, menabung itu memang penting. 

Apalagi slogan jiwa yang dielu-elukan khalayak ramai, yaitu: baik hati dan tidak sombong, rajin menabung lagipula pintar. Namun, untuk menabung ini ternyata tidak selalu cukup, lho! 

Celengan ayam yang terbuat dari tanah liat itu tidak selalu bisa menampung uang kita, karena ujungnya celengan ayam tanah itu berubah juga jadi nasi ayam geprek, karena dipecah tabungannya. Sama-sama ayam, tetapi berbeda. Kalau ayam yang paling besar itu namanya ayam semesta. 

Meskipun kita sudah rajin menabung, tetapi pada dasarnya inflasi tetap jalan terus. Jadi, butuh tambahan uang lagi, dengan penghasilan sampingan. 

Tentunya, penghasilan sampingan ini belum tentu punya efek samping. Kalau dikelola dengan benar, penghasilan sampingan bisa jadi penghasilan depanan, artinya jadi penghasilan utama. Kan yang utama itu memang dari depan, ya toh? 

Apa yang bisa kita lakukan demi mendapatkan penghasilan sampingan ini? Oh, masih ada cara yang cukup banyak. Misalnya dengan freelance, lalu jualan online dan sekaligus affiliate marketing. 

Jika kamu punya skill menulis, masih sangat dibutuhkan, kok. Jangan takut dengan AI! Soalnya, kalau dicermati, tanpa harus ikut cerdas cermat dan dapat poin minus lima, tulisan AI itu sebenarnya kaku dan begitu-begitu saja. 

Apalagi AI tidak bisa membuat tulisan dengan sentuhan personal. Itu yang menjadi keunikan kamu. Tulisan yang berangkat dari hati akan sampai juga ke hati. 

Selain menulis, kamu juga bisa membuat konten. Ini didasari dari hobi kamu. Cari hobi yang dibutuhkan orang banyak, lalu asal skill melalui platform digital. 

Bila kamu punya sesuatu yang unik, maka itu yang menjadi nilai tambah kamu. Saya tidak tahu hobi kamu yang unik, sebab yang lebih saya pahami bukan unik, melainkan uhuy, yaitu: Spontan.