Kiat Mengatur Budget Haji dan Umrah: Dompet dan Niat Harus Sama Kuat

Kiat Mengatur Budget Haji dan Umrah, Sumber Gambar: Editing Pribadi

Kiat Mengatur Budget Haji dan Umrah, Sumber Gambar: Editing Pribadi


Dalam pembuka tulisan ini, saya mau mengajukan ke kamu dua pertanyaan. Meskipun pertanyaan-pertanyaan ini tidak ada hadiahnya, tetapi setidaknya, bukan seiyanya. 

Pertama, apakah orang yang kaya raya itu selalu bisa berangkat naik haji? Lalu, apakah orang yang miskin itu selalu tertutup peluangnya untuk ke Tanah Suci? 

Rasanya, dua pertanyaan itu kadang bikin kita bingung. Kata guru SMA saya, kalau bingung, jongkok saja! Namun, yang bikin bingung lagi selanjutnya adalah mau jongkok di mana? 

Dua pertanyaan di atas tentang orang kaya dan miskin memang cocok dikaitkan dengan ibadah haji. Ada orang kaya yang sebenarnya sangat mampu untuk berangkat, tetapi sampai wafat, niat saja malah belum sempat. 

Sedangkan, ada yang dikira tidak punya harta sama sekali, tetapi tiba-tiba dapat kabar, dia berangkat ke Baitullah untuk beribadah haji. Awalnya terasa hil yang mustahal, ternyata akhirnya bisa menyingkirkan hal yang mustahil. 


Begitulah jika Allah sudah berkehendak. Tidak ada sesuatupun atau manusiapun yang bisa menghalangi. Dan, ketika Allah tidak berkehendak, mau seluruh manusia bergabung, tetap tidak bisa terlaksana sampai ujung.


Ibadah Haji dan Umrah Itu Memang Soal Niat dan Prioritas

Konsep "mampu" dalam Islam itu yang bagaimana, sih? Apakah semata-mata dan setelinga-telinga karena harta? Rupanya tidak juga. 

Ibadah haji dan umrah ini memang termasuk rukun Islam yang biayanya bisa merogok kocek sangat dalam. Makanya, perlu yang namanya menabung, perlu yang namanya menjadikan uang bisa ditampung. 

Banyak orang Islam sendiri yang pesimis bisa berangkat haji dan umrah. Padahal, hidup ini diajarkan untuk bisa optimis. Robot saja bisa optimis, kok. Itu buktinya ada yang namanya Optimis Prime, bisa mengalahkan musuh yang lebih banyak jumlahnya. 

Nah, jika niat untuk beribadah haji dan umrah itu tidak ada, ini yang memang berat. Menabung untuk menjadi tamu Allah belum muncul di dalam hati. Padahal, tiap hari, selalu ke luar duit untuk membeli mahal secangkir kopi. 

Nongkrong pun harus di kafe yang harganya bukan kaleng-kaleng, karena di kafe tersebut memang tidak menjual kaleng. Termasuk dalam hal ini adalah sering checkout untuk produk-produk yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. 

Hanya demi memuaskan syahwat yang cuma sesaat, akhirnya dompet pun diperas hingga nyawanya hampir tamat. Namun, masih juga merasa kurang.

Begitulah manusia, bila diberikan satu gunung emas, niscaya akan minta lagi dua gunung emas. Termasuk tentu saja yang punya toko emas dan mungkin orang yang masuk di sini adalah yang sering dipanggil "Mas". 


Ketika Niat Ibadah Haji dan Umrah Sudah Bersemi dalam Hati

Musim semi termasuk musim yang menyenangkan, karena berarti waktu untuk tumbuhnya aneka tumbuhan yang indah. Dalam kata lainnya, bersemi juga indah, apalagi yang bersemi adalah niat yang mulia. 

Ibadah haji dan umrah yang termasuk rukun Islam paling berat itu memang harus dimulai dari niat yang berpijar hangat. Setelah itu, mulai melakukan usaha untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah. 

Saya memang lebih fokus kepada kelas menengah dalam tulisan ini. Kalau orang kaya raya, sangat gampang untuk berangkat haji dan umrah. Namun, itu tadi. kalau tanpa niat, tidak mungkin bisa berangkat. 

Sementara banyak dari kita yang ekonominya menengah ke samping. Bukan orang kaya raya, bukan pula tergolong fakir miskin. Kalau fakir missedcall, mungkin pernah. Cuma missedcall karena memang sedang sangat sedikit pulsa. Sudah begitu, jangan jadi PHP alias Pemberi Harapan Pulsa. 

Sebelum fokus untuk mulai mengumpulkan uang atau mengatur budget haji dan umrah, perlu mengetahui standar biayanya, nih. Jika Be-emers memilih haji reguler, maka Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) yang dibebankan langsung adalah sekitar 54,1 juta rupiah.

Adapun untuk sisanya ditanggung oleh nilai manfaat BPKH. Untuk setoran awal agar bisa mendaftar dan mendapatkan nomor porsi adalah 25 juta rupiah. Jadi, perlu dipikir juga, nih. Mau orientasi menikah dulu, atau menabung haji dan umrah dulu? Lebih ngebet yang mana? 

Tadi sudah disebutkan tentang haji reguler. Kalau haji khusus atau haji plus bagaimana? Kalau yang ini, memang lebih mahal, tetapi tidak sampai seharga satu kapal selam. Yang murah dari kapal selam ini cuma dalam bentuk pempek.

Biaya haji plus berkisar mulai dari 150 juta rupiah ke atas. Oleh karena lebih mahal, masa tunggunya juga jauh lebih singkat. Namun, bukan berarti lunas sekarang, besok berangkat. 

Haji reguler sudah, haji plus juga sudah. Sekarang biaya umrah. Biaya perjalanan umrah memang lebih bervariasi. Bisa antara 25 juta rupiah hingga 35 juta rupiah. Biaya memang tergantung paket dan fasilitas hotel yang dipilih. 

Jelas yang dimaksud ini adalah hotel di Tanah Suci sana. Tidak mungkin dong, saking cintanya dengan Indonesia, mau bawa hotel sendiri dari sini ke sana, ya 'kan?


Langkah Selanjutnya dalam Mengatur Budget Haji dan Umrah Setelah Ada Niat

Oke, perlu tahapan berikutnya dalam urusan mengatur budget haji dan umrah ini. Sisihkan, jangan sisakan. Perlu mengalokasikan 10 persen hingga 20 persen dari penghasilan bulanan. Jadi, pas terima gaji, langsung sisihkan khusus untuk tabungan ibadah segera setelah menerima gaji.

Metode yang diterapkan adalah 60-10-30. Apakah itu terkait umur? Kalau umur 60 tahun punya cucu 10 tahun dari anak yang umur 30 tahun?

Ternyata bukan. Metode tersebut terkait dengan aturan keuangan. 60% untuk kebutuhan pokok. Lalu 10% untuk dana darurat/keinginan. Dan, yang 30% untuk tabungan dan investasi.

Oleh karena punya keinginan untuk naik haji dan ibadah umrah, maka perlu memotong pengeluaran tersier atau yang tidak perlu.

Jangan boros, meskipun boros itu biasa melekat di baju perempuan. Jangan terlalu sering nongkrong di kafe atau tempat kongkow yang mahal dan menghabiskan biaya lebih hanya untuk ngopi.

Lebih bagus nongkrongnya di masjid. Sambil berzikir, baca Al-Qur'an, maupun ikut kajian. Sudah murah, berpahala lagi. Hayo, bandingkan dengan nongkrong tidak jelas di kafe-kafe, yang notabene terlihat berkumpul, tetapi sibuk main HP sendiri. Halah.

Selain itu, tidak perlu langganan streaming yang nyatanya tidak banyak terpakai. Penawaran-penawaran menarik lewat affiliator juga perlu dipikirkan ulang. Coba diendapkan selama 24 jam, apakah barang tersebut betul-betul diperlukan atau cuma sekadar nafsu? Ingat, itu cukup 24 jam, tidak perlu diendapkan sampai 24 tahun!

Kalau sudah punya rekening khusus tabungan haji, maka selanjutnya bisa pakai auto debit. Rekening tersebut harus diisi secara konsisten dan jangan dicampur dengan uang harian, mau apapun harinya.

Bila ingin mendapatkan dana yang lebih banyak, boleh dengan investasi syariah. Bisa membeli instrumen seperti Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk Negara yang aman. Investasi tersebut akan memberikan bagi hasil yang lebih tinggi daripada tabungan biasa.

Terakhir, manfaatkan THR & Bonus. Bisa mengalokasikan minimal 50 persen dari THR atau bonus tahunan ke tabungan haji atau umrah. Ingat, ya, ini THR yang artinya Tunjangan Hari Raya, bukan berarti ada orang yang mencari saya, lalu THR juga yang kepanjangannya Tolong Hubungi Rizky!  

Ingat kenyataan sekarang, ada begitu banyak orang yang terjebak gengsi. Ingin terlihat kaya, tetapi diam-diam cicilannya penuh. Padahal, lebih baik hidup sederhana, tetapi tujuan utamanya adalah untuk mengumpulkan uang demi ibadah bukan?