Ilustrasi bisnis kompetitor yang saling bekerja sama (Foto Freepik.com)
Bisnis yang baik adalah bisnis yang berkelanjutan. Sayangnya, menjalankan bisnis yang berkelanjutan bukanlah perkara yang mudah.
Ada banyak tantangan yang harus siap Be-emers hadapi. Secara umum, tantangan tersebut terdiri dari dua faktor utama. Dua faktor utama tersebut adalah faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal bisnis berkaitan dengan segala proses bisnis yang memberikan pengaruh pada kelanjutan bisnis dan masih dapat kita kontrol dengan baik.
Contohnya seperti kualitas produk, kualitas pelayanan yang diberikan, SOP yang diterapkan, dan lain sebagainya.
Sedangkan faktor eksternal bisnis berkaitan dengan segala proses yang memberikan pengaruh pada kelanjutan bisnis, tetapi tidak dapat kita kontrol dengan leluasa.
Be-emers, hanya mampu mengurangi dampak negatif dari faktor eksternal bisnis ini. Adapun contoh faktor eksternal bisnis tersebut seperti persaingan dengan kompetitor, kebijakan pemerintah, kondisi alam, dan lain sebagainya.
Sebagai pebisnis berpengalaman, Be-emers tentu harus memusatkan perhatian lebih pada faktor internal bisnis.
Baca Juga: 5 Pebisnis Kaya Raya yang Mengawali Kariernya Sebagai Programmer
Hal ini sesuai dengan apa yang dijabarkan Simon Sinek di dalam bukunya Leaders Eat Last, yang kurang lebih seperti ini "bisnis yang mampu mengatasi masalah dari dalam, cenderung dapat bertahan dari segala jenis tantangan yang berasal dari luar".
Meskipun demikian, bukan berarti faktor eksternal yang memengaruhi bisnis dapat dibiarkan begitu saja. Be-emers tetap harus melakukan sesuatu agar dampak negatif dari faktor eksternal bisnis bersifat minimal.
Ada banyak cara yang bisa Be-emers lakukan, salah satunya adalah menjalankan strategi Joint Venture dan Koopetisi. Apa itu joint venture dan koopetisi? Bagaimana contohnya?
Kedua pertanyaan ini akan admin jawab lengkap di dalam artikel. Jadi, silakan simak baik-baik ya!
Apa itu Joint Venture, Koopetisi, dan Manfaatnya?
Joint venture adalah kondisi di mana dua atau lebih pihak bisnis setuju menggabungkan sumber daya bisnisnya dalam satu entitas bisnis yang baru.
Keuntungan, kerugian, dan risiko ditanggung bersama dalam pengelolaan bisnis terbaru tersebut. Tujuan dari joint venture adalah untuk memperluas pangsa pasar satu entitas bisnis ke entitas bisnis lainnya. Lalu, bagaimana dengan koopetisi? Pada dasarnya koopetisi adalah payung besar dari joint venture.
Berbeda dengan joint venture, koopetisi tidak sampai mengharuskan dua atau lebih pihak bisnis membangun entitas bisnis baru bersama.
Baca Juga: 5 Persaingan Bisnis Legend yang Pernah Terjadi di Indonesia
Koopetisi murni ditujukan untuk mencari untung bersama dari kerja sama bisnis dengan kompetitor. Kompetitor A mendapatkan untung dari kompetitor B, kompetitor B mendapatkan untung dari kompetitor A. Secara garis besar, tujuan penerapan koopetisi dan joint venture berada dalam satu garis yang sama.
Contoh Joint Venture & Koopetisi Brand Indonesia dan Global
Di dalam artikel ini, penulis akan membahas tentang contoh joint venture dan koopetisi yang dilakukan oleh brand Indonesia atau global. Penasaran?
1. Gojek dan Bluebird
Gojek adalah perusahaan yang bergerak di bidang pelayanan transportasi umum online. Dari Gojek, Be-emers dapat memesan driver sepeda motor atau mobil untuk bepergian ke mana-mana.
Sama seperti Gojek, Bluebird Group juga demikian, hanya saja dengan layanan yang terfokus pada segmen taksi.
Dari niche bisnis yang dijalankan, kedua perusahaan ini jelas saling berkompetisi satu sama lain. Gojek bermain di ranah online, sedangkan Bluebird bermain di ranah konvensional.
Kerja sama bisnis di antara keduanya dimulai pada Mei 2016. Kerja sama ini memungkinkan driver Bluebird menerima order dari layanan Go-Car.
Januari 2017, pemesan mobil Go-Car dari layanan Gojek dapat dijemput dan diantar oleh driver bluebird. Kerja sama ini menguntungkan kedua belah pihak.
2. Chevron dan Pertamina
Contoh kedua datang dari brand Chevron dan Pertamina. Chevron adalah perusahaan energi dan minyak bumi terbesar di dunia berasal dari Amerika Serikat.
Chevron memiliki banyak sektor bisnis energi, dimulai dari eksplorasi, penyulingan, dan produksi. Sedangkan Pertamina, seperti yang kita tahu adalah Badan Usaha Milik Negara yang juga bergerak di bidang yang sama dengan Chevron.
Dari model bisnisnya, kita dapat mengatakan bahwa keduanya merupakan kompetitor. Meskipun demikian, kerja sama bisnis di antara keduanya sering terjadi.
Salah satunya terjadi pada tahun 2022 lalu, di mana anak perusahaan Chevron, Chevron New Ventures Pte. Ltd dan PT Pertamina bekerja sama merencanakan teknologi panas bumi, penyeimbangan karbon, dan lain-lain. Dari sisi Indonesia, kerja sama dilakukan untuk mendukung target net zero emission pemerintah di tahun 2060.
Andri Marza Akhda
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.