Gelombang Layoff Perusahaan Teknologi, Tanda Ekonomi Buruk?

Perusahaan Teknologi. (Ilustrasi: Canva)

Perusahaan Teknologi. (Ilustrasi: Canva)


Banyak perusahaan teknologi terkenal yang melakukan layoff atau PHK. Dari kacamata ekonomi bagaimana fenomena pemecatan ini dilihat?

Perusahaan teknologi, terutama yang sudah terkenal dan memiliki karyawan mencapai ribuan tersebar di seluruh dunia, kerap dijadikan acuan dari suatu keadaan global.
 

Perusahaan Teknologi Umumkan Layoff dan Pembekuan


Dilaporkan The Mercury News, beberapa perusahaan teknologi terkenal merencanakan pengurangan karyawan dan ada juga yang melakukan hiring freeze. 
 

1. Amazon


Amazon melakukan hiring freeze atau menunda segala perekrutan karyawan baru. 

Senior Vice President of People Experience and Technology Amazon mengatakan dengan hiring freeze mereka akan fokus monitor dan melakukan penyesuaian finansial.
 

2. Apple



Apple juga dikabarkan melakukan hiring freeze di semua divisi kecuali riset dan pengembangan. 

Hal ini dikarenakan keadaan ekonomi global saat ini yang menurut mereka perlu ada penyesuaian.

Baca Juga: Cina Lockdown, Siap-Siap Distribusi iPhone 14 Terganggu
 

3. Meta


Meta diberitakan akan melakukan layoff pada Rabu (9/11). Pengurangan karyawan ini akan terjadi pada ribuan staff yang bekerja di perusahaan tersebut.

Layoff ini akan menjadi PHK pertama Meta selama 18 tahun berdiri dan menjadi perusahaan teknologi yang jumlah karyawan PHK terbanyak. 
 

4. Twitter


Setelah diakuisisi Elon Musk Twitter sudah melakukan layoff terhadap setengah dari karyawannya imbas dari kebijakan baru yang akan diterapkan. 

Namun beberapa dari karyawan yang diphk juga sempat diminta untuk kembali. 
 

Perekonomian Dunia


Seperti yang dilaporkan The Mercury News, layoff dan hiring freeze yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan ini bukanlah hal yang baik jika dilihat dari kacamata ekonomi. 

Namun, tidak perlu terlalu khawatir karena lowongan pekerjaan dan pendapatan kuartal ketiga perusahaan masih mencerminkan perekonomian yang kuat secara keseluruhan. 

Baca Juga: Menjelang Resesi, Ini Daftar Mata Uang Paling Lemah 2022

Di sisi lain rantai pasokan atau supply chain terancam dan ini juga akan menyebabkan dampak tertentu pada perekonomian.

Sekitar 30 persen dari pengiriman barang AS bergerak dengan kereta api. Harga barang-barang mulai dari bensin hingga makanan dan mobil bisa melonjak jika kereta api berhenti.

Selain itu, pabrik dapat terpaksa tutup sementara karena kekurangan suku cadang.

Terancamnya rantai pasokan ini diakibatkan oleh mogoknya serikat pekerja kereta api dan jika ada serikat pekerja yang mogok maka yang lainnya akan mengikuti.

Mau tulisanmu dimuat juga di Bisnis Muda? Kamu juga bisa tulis pengalamanmu terkait investasi, wirausaha, keuangan, hingga lifestyle di Bisnis Muda dengan klik “Mulai Menulis”.
 
Submit artikelnya, kumpulkan poinnya, dan dapatkan hadiahnya!
 
Gabung juga yuk di komunitas Telegram kami! Klik di sini untuk bergabung.