Waspada Child Grooming! Ini Tips Melindungi Anak yang Bisa Diterapkan Orang Tua!

Melindungi anak dari pengaruh dan tindakan negatif (Sumber: Freepik.com)


Hingga saat ini, mayoritas perempuan dan anak masih menjadi korban pelecehan yang tak kunjung usai.

Bukan dari tampilan berpakaian dan bukan juga dari bentuk badan, namun dari pemikiran yang belum teredukasi dengan benar. 
 

Apa itu Child Grooming?

Tindakan pelecehan memiliki berbagai macam bentuk, salah satunya adalah Child Grooming. Berdasarkan namanya, tindakan pelecehan ini cenderung dilakukan kepada anak-anak. Hal ini dikarenakan pemikiran anak kecil yang masih mudah untuk dimanipulasi sehingga eksploitasi ini masih terus terjadi.

Dengan tujuan memanipulasi pikiran, pelaku Child Grooming akan mulai memperlakukan korban dengan perlakuan istimewa, seperti memberikan hadiah, tempat curhat, hingga menyentuh secara fisik kepada korban. Korban yang masih berusia dini akan terlena terhadap perlakuan pelaku dan mulai menuju ke arah yang salah. 

Akibatnya, anak bisa menjauh dari keluarga, mengabaikan kewajibannya untuk pendidikan, dan mulai banyak menghabiskan waktu di luar rumah.

Namun, hal ini juga bisa mempengaruhi psikologis anak, seperti sulit konsentrasi, insomnia, hingga gangguan kecemasan dan depresi. Sebagai orang tua, tentunya kita akan melindungi anak-anak kita dari fisik hingga mental, agar ia tidak terjerumus pada hal-hal negatif. 


Maka dari itu, penulis akan memberikan cara untuk melindungi anak menjadi korban Child Grooming, karena kita harus melindungi masa depan anak kita agar mereka bisa mencapai mimpi-mimpi nya kelak.


Tips Melindungi Anak dari Child Grooming

Berikut adalah tips melindungi anak dari Child Grooming yang bisa orang tua terapkan:


1. Mengedukasi Anak tentang Batasan Diri

Sejak usia dini, anak perlu diajarkan bahwa tubuhnya adalah miliknya sendiri. Anak harus mengetahui bahwa tidak semua sentuhan dapat dibenarkan, meskipun dilakukan oleh orang yang dikenal.

Pemahaman tentang batasan diri akan membantu anak lebih peka terhadap situasi yang membuatnya merasa tidak aman dan berani untuk mencari pertolongan.
 

2. Menciptakan Ruang Komunikasi Nyaman dengan Anak

Anak yang merasa didengar dan dipercaya akan lebih terbuka dalam menyampaikan apa yang ia alami. Orang tua perlu menjadi pendengar yang baik tanpa menghakimi atau menyalahkan anak.

Dengan komunikasi yang sehat, anak tidak akan merasa sendirian dan lebih berani mengungkapkan hal-hal yang membuatnya tidak nyaman.

 

3. Mengenali Lingkungan Anak

Pengawasan terhadap aktivitas anak perlu dilakukan secara bijak. Orang tua sebaiknya mengetahui rutinitas, pergaulan, serta tempat yang sering dikunjungi anak, tanpa membuat anak merasa terkekang. Keseimbangan antara pengawasan dan kepercayaan dapat membantu orang tua mendeteksi potensi bahaya sejak dini.