3 Dasar Menetapkan Budget untuk Mudik Lebaran

Sumber gambar: https://pixabay.com/id/photos/bangkok-thailand-kota-1990263/

Sumber gambar: https://pixabay.com/id/photos/bangkok-thailand-kota-1990263/


Lebaran memang semakin dekat. Dan, bulan suci Ramadan terasa semakin akan meninggalkan kita. 

Bagi orang-orang yang rajin beribadah di bulan ini, tentunya dilanda perasaan yang campur aduk. Merasa sudah beribadah, tetapi apakah ibadahnya itu diterima oleh Allah? 

Perasaan lainnya adalah apakah bisa bertemu dengan bulan suci Ramadan di tahun yang akan datang? Atau, apakah suasananya masih sama dengan yang sekarang? 

Pertanyaan itu memang terkait dengan masa depan. Sesuatu yang masih gaib, masih belum bisa diketahui oleh manusia. Cuma Allah yang mengetahuinya. 

Jadi, kalau ada dukun yang mengira bisa melihat masa depan, maka sungguh dia seorang pendusta. Dukun yang dapat dipercaya hanyalah dukun bayi. Selain itu, dukun juga termasuk nama buah. Halah, itu buah duku. 


Tradisi Budaya yang Terus Berulang Tiap Tahun

Ada budaya di masyarakat kita yang hampir selalu dilakukan tiap tahun. Yang dimaksud adalah mudik lebaran. Tradisi pulang kampung agar dapat merayakan lebaran bersama keluarga. 


Mudik lebaran ini juga kadang menjadi dilema tersendiri, terlebih bagi para perantau. Kalau masih di pulau Jawa dan keluarga juga masih di pulau tersebut, rasanya masih mudah untuk mudik. 

Namun, bagaimana dengan yang jauh tempatnya? Misalnya seperti saya yang berada di Pulau Sulawesi, sementara keluarga saya, orang tua di Jogja. 

Tentu, saya harus berpikir berkali-kali dan bersungai-sungai karena kali sama dengan sungai, bahwa untuk mudik dibutuhkan biaya yang sangat besar. 

Paling tidak, saya harus siapkan dana sampai 35 juta. Itupun bisa membengkak lagi, jika kulit saya digigit nyamuk. Eh, maksudnya membengkak di sini jika ada pengeluaran yang tidak terduga. 

Urusan mudik lebaran sebenarnya mau dilakukan oleh semua orang, tetapi biaya sering menjadi penghalang utama. Betapa tidak, hasil kerja keras selama satu tahun bisa habis dalam beberapa hari saja ketika mudik. 

Ditambah dengan biaya yang makin meningkat. Tiket pesawat sekarang hampir semuanya di atas dua juta rupiah. Punya anak kecil yang usianya 2 tahun lebih satu hari saja, secara teori tiket penerbangan sudah pakai tarif dewasa. 

Padahal, saat di pesawat nanti, dia pasti minta dipangku. Jadi, malah kosong kursi satu bukan? Lalu, apa tindakan selanjutnya? Apakah kursi itu diberikan untuk pramugari saja? Weits, maunya!

Dari fenomena atau kenyataan terkait mudik lebaran, ada tiga dasar dalam menetapkan budget atau biaya untuk tradiri mobilitas terbesar di negeri Indonesia tersebut. 

Baca Juga: Gagal Mudik? 9 Tips Komunikasi ke Pasangan Jika Enggak Bisa Pulang Kampung di Momen Lebaran


Tetapkan Budget Mudik Lebaran Berdasarkan 3 Hal Ini

Banyak yang perlu diperhatikan terkait mudik lebaran. Termasuk jangan sampai, habis-habisan uang ketika mudik lebaran, besoknya nelangsa lagi. 

Jangan sampai, merasa jadi raja sehari, lalu jadi rakyat jelalatan, maksudnya rakyat jelata selama setahun berikutnya. Makanya, kondisi keuangan atau finansial perlu dijaga dengan cukup ketat. 

Harus dihindari masalah finansial karena salah kelola sehingga finansial tidak menjadi benar-benar sial. Lalu, bagaimana caranya? Apakah ada sesuatu yang bisa dimakan waktu berbuka puasa nanti? Lho, kok malah bahas makanan?


1. Perhitungkan Faktor Jarak 

Pertama, ketika mudik lebaran pastilah ada tujuannya. Tidak mungkin dong orang mudik lebaran, terserah tempatnya saja, deh. Yang penting mudik lebaran. 

Itu mungkin termasuk orang yang punya kampung halaman, tetapi lupa halaman berapa? 

Mungkin, bagi yang sudah menikah, bisa punya beberapa keluarga. Ada keluarga suami, keluarga istri. Tahun ini, mau mudik lebaran ke mana? Apakah ke keluarga suami atau istri?

Bisa jadi, tahun lalu, sudah ke keluarga istri yang harus menyeberang pulau. Nah, sekarang ganti ke keluarga suami yang masih satu pulau. 

Faktor jarak ini sangat penting karena menentukan budget. Jadi, yang dipikirkan adalah lokasi tempat mudik lebaran nanti. Perkirakan secara kasar saja, tidak perlu diukur jaraknya, apalagi pakai mistar plastik 30 sentimeter anak SD. Kelamaan. 


2. Perhitungkan Moda Transportasi

Diulak-ulik di marketplace manapun, tidak ada yang jual pintu ajaib Doraemon. Pintu yang ke luar dari kantong Doraemon dan bisa mengantarkan ke mana saja itu tidak dijual secara offline maupun online. 

Oleh karena memang tidak ada yang jual, maka untuk bisa melakukan perjalanan harus memakai moda transportasi. Berbeda jenis moda, berbeda pula biayanya. 

Pesawat terbang memang alat transportasi yang paling aman dan cepat sampai, tetapi juga sekaligus paling mahal. Kereta api, cukup lama sampai dan biayanya lebih murah. 

Demikian pula kapal laut. Harganya masih terhitung murah, tetapi bisa lama di laut. Tidak ada sinyal internet, bahkan mungkin kurang hiburannya. Tidak ada putri duyung yang muncul dari laut, apalagi Sponge Bob dan Patrick

Apakah mau naik mobil pribadi saja? Lebih puas karena mengendarai sendiri, tetapi biasanya lebih capek. Menyetir mobil rawan mengantuk, terlebih jika anggota keluarga yang diajak tertidur semua. Tidak ada yang mengajak sopir bicara. 

Atau mau naik sepeda motor? Itu, lho, kendaraan yang rodanya dua. Ini juga lebih murah lagi, tetapi problemnya adalah punggung mudah capek. Tidak ada tempat bersandar selama di motor itu, apalagi bagi seorang jomblo, dia mau bersandar ke siapa, ke pundak siapa? Halah. 

Nah, semua moda transportasi itu ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pikirkan matang-matang sebelum benar-benar memulai perjalanan mudik lebaran. 

Salah dalam memilih moda transportasi, dapat menyebabkan salah pula dalam pengeluaran atau budget nanti. 


3. Perhitungkan yang Mau Ikut

Idealnya memang ketika mudik lebaran kepala dan anggota keluarga semuanya ikut. Namun, tidak selalu seperti itu. Ketika budget masih terbatas, harus ada pilihan yang kadang pahit untuk diambil. 

Contoh, tahun ini cuma mengajak si kakak. Tahun lalu sudah mengajak dua adiknya. Atau pergi tanpa istri, bukan untuk menikah lagi di sana, sih, tetapi karena budget memang tidak cukup untuk pergi berdua. 

Pilihan semacam itu memang wajar saja diambil. Apalagi orang tua atau keluarga di tempat tujuan sudah tahu dan memaklumi. Mudik lebaran ini mampu mengeluarkan budget besar, termasuk membongkar tabungan.