5 Perbedaan Menjadi Orang Produktif dengan Overwork yang Harus Kamu Waspadai

Ilustrasi orang sedang mengalami kelelahan bekerja (Sumber gambar: Pexels)


Be-emers, pasti kamu pernah lihat lowongan pekerjaan yang menuntut banyak skill, pengerjaan waktu yang lama tapi tidak sesuai dengan fee yang diberikan? 

Atau kamu pernah menjadi bagian dari orang sudah pernah merasa bekerja seharian penuh hingga larut malam, namun daftar tugasmu seolah tidak pernah berkurang?

Ternyata Be-emers, fenomena ini dialami oleh sekitar 37 juta orang Indonesia yang terjebak dalam kondisi overwork menurut data BPS per Desember 2025.

Banyak yang mengira bahwa menjadi peran penting dengan memegang posisi banyak sekaligus dan kerja lembur dianggap sebagai bukti produktivitas tinggi.

Padahal, produktif yang benar pasti menghasilkan output berkualitas dan overwork hanya menghabiskan energi tanpa tujuan yang jelas.


Bayangkan deh, Be-emers, jika tenaga profesionalmu hanya dihargai dengan biaya ganti kuota sebesar Rp75.000, sementara kebutuhan makan harian saja sudah mencapai Rp60.000 atau minimal Rp1,8 juta per bulan.

Baca Juga: Sebelum Switch Career, Ini yang Mesti Kamu Siapkan!

Tubuh harus dipaksa bekerja minimal 8 jam tanpa asupan nutrisi dan apresiasi finansial yang layak sebenarnya sesuai dengan waktu dan tenaga yang kamu keluarkan.

Jangan sampai kamu membanggakan kesibukan yang sebenarnya adalah bentuk eksploitasi terselubung di balik kedok mencari pengalaman.
 

5 Perbedaan Menjadi Orang Produktif dengan Overwork yang Harus Kamu Waspadai

Inilah beberapa poin-poin perbedaan utama antara produktif dengan overwork


1. Orientasi Hasil vs Durasi Jam Kerja

Orang yang produktif bekerja dengan target yang jelas akan berhenti saat output tercapai.

Sedangkan korban overwork sering terjebak dalam budaya semua bisa dihandle oleh dia sendiri dan pulang paling larut meski efektivitas kerja menurun drastis setelah jam ke-8.
 

2. Kesehatan Mental dan Keseimbangan Hidup

Produktivitas yang sehat pasti menyisakan ruang minimal 8 jam untuk istirahat guna mengisi ulang kreativitas.

Sementara overwork memicu kelelahan hingga stres berkepanjangan yang merusak fokus jangka panjang.
 

3. Kesesuaian Upah dan Beban Kerja

Kerja produktif dihargai dengan imbalan materi yang manusiawi dan sebanding dengan keahlian ataupun UMR.

Baca Juga: 5 Hal yang Mesti Kamu Pikirkan Sebelum Resign

Sedangkan overwork sering kali berjalan beriringan dengan upah rendah yang tidak cukup menutupi biaya hidup dasar seperti makan dan transportasi bahkan tenaga yang dikeluarkan.