Sensasi Menyesap Jamu Kekinian di Kota Tua

Sensasi minum jamu modern di Kota Tua (Dok. Pribadi)


Angin sejuk sekaligus terik menemani kami menyusuri museum di area Kota Tua, Jakarta. Terbersit dalam benak: enak juga ya panas begini minum yang segar dingin.

Hingga langkah kaki ini membawa ke sebuah sudut kota. Terpampang tulisan menarik mata: Acaraki. Berada di sudut, tempat ini seolah tak ingin terlalu mencolok perhatian.

Aku bersama rekan masuk, di dalamnya tidak terlalu luas. Aroma rempah menguar di udara. Rupanya ini dia kafe jamu nan populer itu. Ternyata di sini tho letaknya.
 

Acaraki: Nama yang Sarat Cerita

Salah satu spot favorit berfoto sambil bernostalgia (Dok. Pribadi)

Seorang pegawai menghampiri kami sambil membawa buku menu. Aku sengaja memilih spot duduk dekat rak buku cukup besar. Mendampingi rak itu, ada beberapa benda jadul seperti TV dan radio tua menyapa. Serasa bernostalgia.

"Di sini menu uniknya Bareskrim kak," kata mas pegawai memecah sunyi. Walah, satuan kepolisian dinamai menu jamu. Aku pun memesannya untuk menuntaskan penasaran.

Sembari menunggu, aku googling. Ternyata bukan asal tempat ini bisa bernama Acaraki. Melansir laman Radar Majapahit, acaraki adalah profesi yang sangat mentereng di era Majapahit; bahkan tertulis dalam Prasasti Madhawapura.
 
Berasal dari bahasa Jawa, acaraki berarti orang yang membuat atau mengolah jamu. Di masa lampau, masyarakat menghampiri Acaraki kalau merasa tak enak badan.

Aneka jamu bubuk siap saji, minum jamu kini semakin praktis! (Dok. Pribadi)



Nanti, sang acaraki akan meramu bahan dari alam menjadi obat berkhasiat. Mereka mengolah rempah-rempah dan tumbuhan mulai bagian daun, buah, hingga akar.
 
Jenis minuman jamu saat itu antara lain kunyit asam, beras kencur, cabe puyang, pahitan, kunci sirih, kudu laos, uyup-uyup atau gepyokan, dan sinom. Belum ada menu Bareskrim pastinya.

Semua ramuan berfungsi untuk menjaga kebugaran. Ada juga ramuan pupuk yang ditempel ke kening bayi supaya tetap hangat, juga pilis yang berguna meredakan pusing dan melancarkan peredaran darah.

Demi membuat ramuan ini, konon acaraki harus melakukan ritual khusus baru kemudian menghaluskan bahan dengan alat tradisional bernama pipisan yang terbuat dari batu andesit.
 

Jamu Kian Modern, Geser Mbah Jamu Gendong?

Bareskrim, perpaduan unik minum jamu (Dok. Pribadi) 

Tak butuh waktu lama, menu pesananku datang. Perpaduan beras kencur dan es krim vanila membuat minuman ini dinamakan Bareskrim. Owalah! Kusesap perlahan, rasa segar dan hangat menyambut kerongkongan. Nikmat banget, aseli kamu harus coba!

Bercengkerama dan menikmati celotehan pengunjung yang mulai ramai, skenario otakku mulai melayang. Jamu sudah sedemikian modern bahkan ada kafe segala, lantas bagaimana nasib jamu gendong 5 tahun ke depan?

Sekilas aku coba mengingat, mungkin waktu aku SD terakhir kali tukang jamu lewat di depam rumah. Pertama aku minum jamu gendong lagi adalah saat berkunjung ke Kebun Raya Bogor bersama komunitas lokal andalanku.

Adalah Bu Tuminah, perempuan tua yang sudah berdagang jamu sejak 1977 silam!! Senyum tulus beliau dapat kamu jumpai di sudut dekat Monumen Lady Olivia Raffles. Satu hari kamu sedang piknik ke sana, jangan lupa mampir ya!

Jamu Bu Tuminah Kebun Raya, salah satu jamu gendong yang masih eksis hingga hari ini (Dok. Pribadi)