Dapat Undangan Bukber? Ini 3 Cara Supaya Enggak Over Budget

Ilustrasi dana buka bersama (bukber) (Foto Pixabay.com)

Like

Sebenarnya, istilah bukber itu memang kepanjangannya kurang tepat, kok. Kalau bukber yang berarti buka bersama, ini yang mau dibuka apaan, ya? 

Istilah yang lebih tepat adalah buka puasa bersama (bukpuber). Wah, nanti malah dipahami jadi begini, "Buk, aku udah puber, nih!"


Bukber Sebagai Gaya Hidup

Buka puasa bersama memang menjadi salah satu gaya hidup ketika di bulan Ramadan ini. Buka puasa bersama merujuk pada buka puasa yang dilakukan secara bersama-sama. Ya, iyalah, anak TK yang sekarang sudah jadi mahasiswa juga tahu ini. 

Saya sendiri pernah mengikuti acara semacam itu. Bersama teman-teman sekelas alumnus sekolah saya. Waktu itu, kami memesan tempat khusus di sebuah restoran. 

Awalnya, sih, asyik-asyik saja. Soalnya, bisa berkumpul dengan teman-teman lama yang memang jarang ketemu. Cerita-cerita terbaru, bahkan mungkin gosip terbaru. Eh, bulan puasa kok menggosip? 

Namun, makin lama saya jadi merasa kurang nyaman. Pas azan Maghrib berkumandang, mereka masih sibuk makan dan minum. Begitu pula saya. 


Pada akhirnya, untuk salat Maghrib pun jadi terlambat karena makanan sudah terlanjur terhidang dengan sangat banyak. Begitu juga salat Isya dan tarawih, tidak bisa dilaksanakan di situ, karena belum habis makanan beratnya. 

Itulah yang saya tidak suka dari bukber. Mengganggu waktu salat, meskipun awalnya niat untuk kumpul-kumpul. Kan lebih bagus kumpul dengan jamaah masjid ketika salat berjamaah, ya 'kan? 

Baca Juga: Agar Tak Boncos, Ini 5 Cara Mengatur Budget Bukber saat Ramadan


Menjaga Uang Ketika Bukber

Biasanya, buka puasa bersama itu memang BSS atau Bayar Sendiri-sendiri. Kalau BSI, itu nama bank. Tidak ada hubungannya, sih

Ketika datang undangan yang ditujukan kepada kita untuk ikut bukber, apakah kita harus datang? Apalagi yang mengundang memang teman-teman yang jarang ketemu, atau malah belum pernah ketemu sebelumnya. Lho, siapa mereka ini? 

Jika menerima undangan untuk bukber, maka kita perlu lihat dengan kacamata yang lebih jauh, tanpa harus pesan ke optik yang mahal. Kita perlu memikirkan matang-matang, jangan setengah matang, soalnya itu terkait kondisi telur di warmindo. 

Bukber memang akan mengeluarkan uang, sementara kondisi kita mungkin tidak sedang banyak uang, apalagi sampai triliunan. Pasti belum sampai ke sana. 

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus diam saja dan mengembalikan undangan itu ke pemiliknya? 
 

3 Tips Mengatur Uang untuk Bukber Supaya Enggak Boncos

Coba, kita berpikir dulu dan kalau bisa, melakukan 3 tips berikut ini terkait mengatur uang kaitannya dengan bukber. 

1. Perencanaan yang Paripurna

Wuih, ini bukan menyangkut anggota DPR, tetapi memang perencanaan keuangan itu butuh dilakukan di awal secara utuh. Jangan uangnya sudah habis, baru direncanakan penggunaannya. Wuih, bagaimana itu? 

Lihat dulu kondisi dompet. Apakah masih cukup sampai besok? Kira-kira, bukber itu bisa menghabiskan uang sampai ke basement dompet atau tidak? 

Kalau sekiranya, masih cukup, bahkan uang yang ada di dompet bisa untuk ratusan tahun mendatang misalnya, maka datang saja. Toh, hitung-hitung juga mencari jaringan atau channel kerja, bahkan usaha baru, meskipun kita punya banyak channel TV kabel. 


2. Memilih Tempat dan Menu

Lihat lagi undangan yang baru saja datang itu. Tempatnya di mana? Apakah betul-betul restoran mewah atau warung mewah yang artinya mepet sawah? 

Jika tertera di situ adalah restoran yang cukup elit, tidak pakai politik, maka boleh saja kita datang. Atau, kalaupun restoran mewah, tetapi uang kita cukup, maka bisa juga datang. 

Intinya, ada di poin pertama, perencanaan. Yang sudah direncanakan saja bisa timbul masalah, apalagi yang tidak direncanakan bukan? Hah, bukan? 

Tentang menunya juga, jangan dipilih yang paling mahal. Misalnya, memesan menu nasi goreng ikan salmon. Selain memang tidak disediakan, juga ikan salmonnya tidak ada. 

Lebih bagus, pilih menu yang sederhana saja. Kita 'kan hadir di sana untuk kumpul bocah, maksudnya kumpul bersama teman atau kolega, makanan itu bisa urutan kedua.