Membangun Bisnis Keluarga ala Elnisha: 7 Kesalahan Fatal yang Sebaiknya Dihindari

Kesalahan fatal dalam bisnis keluarga [IG Elnisha]


Bisnis keluarga sering dianggap sebagai model usaha yang paling stabil. Alasannya sederhana: ada rasa saling percaya, loyalitas tinggi, serta tujuan jangka panjang yang biasanya selaras antaranggota keluarga.

Banyak perusahaan besar dunia lahir dari model bisnis keluarga, seperti Walmart milik keluarga Walton atau Samsung yang dikendalikan keluarga Lee.

Namun di balik kelebihannya, bisnis keluarga juga menyimpan tantangan besar. Banyak usaha keluarga gagal berkembang karena konflik internal, perbedaan visi, hingga karakter anggota keluarga yang tidak cocok bekerja bersama.

Fenomena ini juga menjadi tantangan yang berpotensi dihadapi brand fashion keluarga Indonesia seperti Elnisha Boutique, yang berangkat dari kedekatan keluarga dalam pengelolaan bisnisnya.


7 Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari dalam Bisnis Keluarga

Menurut riset dari Harvard Business School, sekitar 70% bisnis keluarga gagal bertahan hingga generasi kedua, dan hanya 12% yang mampu mencapai generasi ketiga.

Penyebab utamanya bukan faktor pasar, tetapi konflik internal keluarga. Melansir The Jakarta Consulting Group dan berbagai sumber, ini ulasannya.

Baca Juga: Tantangan Bisnis Fashion Keluarga: 5 Hal yang Harus Diperhatikan ala Elnisha Boutique



1. Menganggap Kedekatan Keluarga Sudah Cukup untuk Menjalankan Bisnis

Banyak bisnis keluarga berangkat dari asumsi bahwa hubungan darah otomatis menciptakan kerja sama yang solid. Padahal, kedekatan emosional tidak selalu berarti cocok perihal profesional.

Pasalnya, setiap manusia pasti memiliki karakter, gaya kerja, juga ambisi berbeda dalam hidupnya. Tanpa manajemen yang profesional, perbedaan ini bisa memicu konflik internal.


2. Tidak Memiliki Aturan Bisnis Tertulis

Merasa sudah tahu keluarga dan memilih mengabaikan aturan juga merupakan kesalahan. Beberapa hal yang sering tidak diatur secara jelas padahal sensitif antara lain:

  • pembagian keuntungan
  • kepemilikan saham
  • tanggung jawab kerja
  • mekanisme pengambilan keputusan
Selama bisnis masih kecil, masalah ini mungkin tidak terasa. Namun ketika usaha berkembang, ketidakjelasan aturan bisa memicu konflik serius. 


3. Memberikan Jabatan Karena Hubungan Darah

Tidak enak karena ikatan ipar misalnya, berujung keputusan memberikan posisi penting kepada anggota keluarga yang notabene belum cakap dalam keahlian tertentu. Hal ini ibarat memercayakan non lulusan ahli gizi menyusun menu untuk keluarga.

Dalam jangka panjang, hal ini bisa menghambat pertumbuhan perusahaan. Bisnis yang sehat harus tetap menempatkan kompetensi sebagai faktor utama dalam menentukan posisi.


4. Tidak Memisahkan Keuangan Pribadi dan Bisnis

Berikutnya yang juga sangat sensitif adalah soal keuangan. Sepiawai apapun seseorang dalam manajemen keuangan, harus ada jarak antara biaya operasional keluarga dan urusan bisnis.

Tujuannya jelas, agar arus kas keuangan bisnis sehat dan terarah. Menurut prinsip manajemen keuangan modern, pemisahan keuangan adalah syarat dasar agar bisnis dapat berkembang secara profesional.

Mengutip laman Ilmu Keuangan, harus ada pemisahan tegas antara keuangan pribadi dan usaha, transparansi, serta perencanaan jangka panjang. Susunlah pembuatan anggaran tertulis, membuat rekening bank terpisah, juga transparansi gaji bagi anggota keluarga yang bekerja dan tidak.