Bisnis Travel Haji dan Umrah: Peluang Besar dan Tantangan yang Ikut Antre

Peluang Bisnis Travel Haji dan Umrah, Sumber Gambar: Editing Pribadi

Peluang Bisnis Travel Haji dan Umrah, Sumber Gambar: Editing Pribadi


Dalam sebagian masyarakat kita, panggilan "Pak Haji" maupun "Bu Haji" itu memang mendatangkan status sosial tersendiri. Ada semacam level yang lebih tinggi dan rasa bangga di hati yang lebih terpatri. 

Bagaimana tidak, ibadah haji meskipun termasuk dalam rukun Islam, tetapi tidak semua orang mampu untuk melaksanakannya. Hal ini biasanya terkendala masalah ekonomi. Jadi, Pak Eko maupun Bu Nomi juga belum tentu bisa berangkat haji. 

Makanya, orang yang pulang dari naik haji itu sudah mengeluarkan biaya yang sangat besar. Sudah bayar ONH, ditambah biaya printilan lainnya. Selain itu, mengantrenya itu, lho! Bisa sampai belasan hingga puluhan tahun. Kalau sampai abad, kayaknya tidak mungkin, deh. 

Meskipun naik haji cukup membutuhkan biaya yang amat besar, tetapi minat untuk beribadah di Tanah Suci tersebut tidak pernah padam, seperti lampu di daerah kamu. Eh, lebih sering padam atau matu lampi sih? 

Kalau naik haji itu membutuhkan waktu dan biaya lebih besar, maka ada cara ibadah yang lebih terjangkau sedikit. Namanya umrah. Orang sering mengistilahkan dengan haji kecil. Hanya bedanya, umrah tidak pakai wukuf di Arafah. 


Hukum Ekonomi: Ada Permintaan Pastinya Ada Juga Penawaran

Masih ingat dengan hukum ekonomi? Atau pas pelajaran Ekonomi, pas tidak masuk? Atau ketika pelajaran Ekonomi, guru Matematika tidak hadir? Eh, bagaimana sih ini? 


Salah satu hukum ekonomi yang masih diingat adalah tentang hukum permintaan dan penawaran. Ini berdasarkan asumsi ceteris paribus yang berarti faktor lain dianggap tetap. 

Kalau bunyi hukum permintaan adalah ketika harga suatu barang meningkat, maka jumlah barang yang diminta tadi akan turun. Dan, sebaliknya, tumpah, dong! Eh, bukan. Jika harga turun, maka jumlah barang yang diminta akan meningkat.

Sedangkan hukum penawaran dijabarkan bahwa ketika harga suatu barang meningkat, maka jumlah barang yang ditawarkan juga akan meningkat. Sementara itu, kalau harganya turun, maka jumlah penawaran barang akan ikut turun. 

Jadi, antara permintaan dan penawaran itu memang berbanding terbalik. Yah, mungkin antara kamu dengan si dia. Kamu berharap cinta yang terukir, sementara dia berharap sudahi kata-kata dan langsung blokir. 

Nah, berkaca dari pelaksanaan haji dan umrah, sekaligus sebagai bahan pembelajaran bagi saya dan kamu Be-emers, Bisnis Muda membuat "Youngpreneur Talk" yang mengambil judul: Peluang Berkah Usaha Jasa Travel Umrah dan Haji. 

Webinar lewat Zoom Meeting ini dilaksanakan Senin malam (25/5/2026), mulai pukul 18.30-19.30 WIB di pamflet. Kalau di tempat saya, WITA dan bukan WATI, dimulai sekitar jam 19.40. 

Pembicaranya adalah member Bisnis Muda juga yang sudah 11 tahun berkecimpung di bisnis travel haji dan umrah, yaitu: Kak Nanik Prasasti, S.Pd. 


Peluang Cuan Bisnis Travel Haji dan Umrah di Indonesia

Menurut Kak Nanik yang berkacamata ini, bisnis travel haji dan umrah memang masih sangat berpeluang untuk ditekuni di Indonesia. Katanya, Indonesia adalah jamaah haji terbesar di dunia. 

Adapun untuk jamaah umrah, negara ini menempati urutan kedua di dunia. Antara satu dan dua, jelas termasuk angka yang tertinggi. Kalau dihitung dari jumlah jamaah semuanya, tentunya sangat banyak. Termasuk nama-nama tetangganya, ya 'kan? 

Bisnis travel umrah dan haji memang terus tumbuh dari waktu ke waktu. Termasuk bisnis yang mulia juga karena menjalankan amanah melayani perjalanan spiritual jamaah umat atau para tamu Allah. Tamu negara saja kita hormati, apalagi ini tamu Allah. 

Marketnya, kata Kak Nanik, masih sangat luas. Dan, tidak hanya itu, repeat ordernya juga tinggi. Ada referral atau getok tular juga. Kalau getok magic tidak ada hubungannya di sini, lah yauw! 

Hal yang cukup membuat sabar di atas sabar alias sabar kuadrat adalah yang disebutkan narasumber, bahwa masa tunggu haji reguler itu minimal 7 tahun. Masa tunggu Indonesia ini disesuaikan dengan jatah haji dari pemerintah Arab Saudi. 

Setelah jatah Indonesia, yaitu: Malaysia, Pakistan, India, dan negara-negara selanjutnya. Yang lebih membuat harus sabar lagi, apalagi bagi yang tinggal di Jawa Timur, masa tunggunya bisa mencapai 38 hingga 40 tahun. Waow! Semoga masih cukup umur untuk nanti benar-benar berhaji.  


Apa sih Menariknya Bisnis Travel Haji dan Umrah Ini? 

Yap, betul, bisnis travel haji dan umrah ini apa sih menariknya? Kenapa banyak sekali yang menekuni bisnis ini? Selain cuan yang besar tadi itu, yang lainnya apa? 

Menurut Kak Nanik, ada 5 hal yang membuat bisnis travel haji dan umrah jadi bisa dijadikan sarana mendapatkan pemasukan juga. Pertama, affiliate dan digital marketing. 

Era sekarang, siapa sih yang tidak pakai internet? Oh, tentunya masih ada, buktinya kucing saya tidak pakai internet. Kalau manusia, hampir semuanya pakai, deh. 

Bisnis ini bisa memunculkan affiliator juga lho, Be-emers. Lewat platform marketplace pun bisa. Kak Nanik menyebut di Tokopedia ada ditawarkan paket umrah. 

Sedangkan untuk digital marketing ini lebih ke arah iklan lewat internet, contohnya: Meta Ads. Mungkin juga bisa masuk TikTok Ads maupun ads-ads yang lain. 

Kedua, konten dan media muslim travel. Kak Nanik mengatakan ada yang namanya umrah momen. Ada fotografer dan videografer yang menjual jasanya di Arab Saudi sana. Jadi, jamaah bisa mengabadikan momen ibadahnya di Tanah Suci dengan dokumentasi digital. 

Ketiga, selain ibadahnya itu sendiri, perlengkapannya juga penting. Perlengkapan umrah seperti: koper, mukena, kain ihram, dan jilbab.

Tidak hanya itu, bahkan bisa lebih kreatif lagi. Dapat menyasar barang-barang seperti: kosmetik yang meliputi sunscreen, deodorant tanpa pewangi, sandal hotel, bantal leher, sampai dengan minyak angin. 

Oke, lanjut. Setelah ketiga, tentunya adalah keempat. Hal yang menarik dari usaha travel haji dan umrah ini adalah adanya teknologi dan aplikasi jamaah. Ada manasik virtual, bisa belajar secara digital ambil miqat dan doa-doa khusus haji dan umrah. 

Dan, yang kelima adalah komunitas dan even muslim. Masih selalu ada pameran haji dan umrah. Selama pameran masih ada, maka selama itulah peluang bisnis travel umrah dan haji. 


Jangan Lupa, Ada Juga 6 Tantangan Usaha Travel Haji dan Umrah

Meskipun tadi disebutkan peluang besar dari bisnis travel haji dan umrah ini, tetapi ada pula tantangannya. Apa saja itu? Mari kita simak? Kalau bukan simak, berarti si bapak. 

Pertama, kepercayaan adalah segalanya. Bisnis travel umrah dan haji memang termasuk bisnis jasa. Namanya jasa, sebenarnya tidak tampak jualan barang, tetapi bentuk pelayanan. 

Berikutnya, kedua, regulasi dan legalitas. Ujar Kak Nanik, ada regulasi seputar maskapai dan aturan hotel di Arab Saudi sana. Regulasi yang berubah misalnya terkait dengan harga yang tidak sama lagi. Ada kenaikan harga tiket pesawat karena kenaikan avtur.

Sedangkan tentang legalitas, juga harus diperbaharui. Untuk travel haji tiap lima tahun, untuk travel umrah tiap tiga tahun sekali. Kalau si dia, balas chatnya tiap berapa tahun sekali? 

Ketiga, hati-hati dengan cashflow karena bisa jadi jebakan. Harus ada strategi dalam mengatur arus kas. Mungkin saja dalam bulan tertentu mengalami rugi dalam satu grup jamaah. Namun, dalam bulan berikutnya, baru bisa untung. 

Persaingan digital yang makin keras menempati tantangan di urutan keempat. Ini lebih terkait dengan SDM alias Sumber Daya Manusia. 

Kelima, crisis management. Nanik memberikan contoh, ketika ada perang antara Iran dan Amerika Serikat, travel yang baru bisa lebih lambat dalam menyelesaikan pengaruh dari perang tersebut terhadap bisnis. Namun, bagi yang sudah lama, bisa lebih terlatih menyelesaikan masalah tersebut. 

Yang terakhir alias yang keenam adalah bisnis travel haji dan umrah selalu ada tanggung jawab moral. Apalagi disebutkan di awal tulisan bahwa bisnis ini melayani para tamu Allah. Otomatis, tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja. 


Sesi Diskusi dan Tanya Jawab

Setiap webinar lebih asyik memang dengan tanya jawab. Kalau webinar tanpa tanya jawab ibarat tanya jawab tanpa webinar. Eh, bolak-baliknya kok begini? 

Dalam sesi ini, saya ikut bertanya kepada narasumber. Tiba-tiba saja pertanyaan ini muncul. Sama sekali tidak pernah terpikirkan sebelumnya ketika saya baru lahir ke dunia ini. 

Sesi Diskusi

Sesi Diskusi