2 Tradisi Lebaran di Kecamatan Randudongkal, Pemalang yang Tinggal Kenangan

2 Tradisi Menjelang Lebaran di Kecamatan Randudongkal Kabupaten Pemalang, yang kini tinggal Kenangan. Sumber Gambar Adobe Express

Be-emers, lebaran atau Idulfitri itu.. ada satu atau dua atau tiga kegiatan yang sangat identik, sesuatu yang khas, yang sangat melekat kuat di otak kita, yang ‘vivid’ kalau istilah di fotografi itu. Bener enggak?
 
Seperti penulis misalnya, dua tradisi di bawah ini begitu ‘vivid’ dan melekat kuat di memori penulis. Hingga seperti baru kemarin kejadiannya..meskipun sebenarnya itu sudah terjadi hampir 20 tahun yang lalu (ha..?)
 

2 Tradisi Menjelang Lebaran di Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang yang Kini Tinggal Kenangan 

Berikut adalah 2 tradisi menjelang lebaran di Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang yang kini tinggal kenangan: 
 

1. Pregepegan

Penulis menyangka pregpegan ini hal biasa di semua tempat, meskipun mungkin namanya berbeda. Tetapi ternyata Be-emers, tidak semua orang dari Pemalang, termasuk salah satunya teman penulis sendiri yang juga dari Pemalang, tidak paham dengan pregpegan. 
 
Jadi penulis coba tulis tradisi ini. Apalagi tradisi ini juga pernah diangkat di artikel media massa lain.
 
Jadi pregpegan itu merupakan tradisi membeli kebutuhan Lebaran di pasar. Misalnya baju, celana, sarung, sepatu, sandal, cangkang ketupat, ayam, sayur mayur, bahkan emas perhiasan untuk dipamerkan di hari lebaran, dan hingga bunga untuk ziarah, yang biasanya dilakukan di H-3 hingga H-1 lebaran. 

Baca Juga: Mengenal Tradisi Lebaran Ketupat di Indonesia, Apaan tuh?
 
Karena hampir semua, terutama didominasi oleh ibu-ibu dan anaknya, bahkan neneknya, keluar di hari-hari tersebut, maka kondisi pasar ramai sekali. Berdempet-berdempetan. Hingga tidak bisa jalan. Prebegan sendiri memang berasal dari kata prebeg, yang berarti ramai. 
 
Waktu kelas satu, dua, tiga Sekolah Dasar (SD) dulu, penulis sangat menantikan momen ini. Walaupun cuma beli sepasang sandal, atau sepotong baju, meskipun kualitas murahan, yang baju itu penulis tahu benar-benar disisihkan dari keringat deras orang tua, Ibu dan bapak, maka penulis senang dan menikmati sekali sandal dan pakaian itu.

Ditimang-timang sebelum tidur, diajak tidur, dan saat bangun tidur di hari lebaran segera dipakainya.
 
Bahkan pernah, penulis sakit demam tiga hari, dan sembuh setelah diajak pregpegan beli sandal teplek warna merah di pasar (karena memang ingin banget).
 
Jika pasarnya dekat, biasanya penulis kuat puasanya, biasanya juga tidak kuat, hehe. Karena ibu sama adik jebol puasanya karena beli bakso.

Apalagi kalau pasarnya jauh, pasar di kota Pemalangnya misalnya, penulis ya..jebol puasanya. Tapi kan sehari ya Be-emers, diganti lagi, kan musafir.
 
Sekarang, penulis sudah dewasa. Bahkan sudah punya anak. Ibu yang dulu mengajak penulis pregpegan sekarang mungkin sudah kurang minat. Sedangkan penulis yang seharusnya gantian mengajak anak penulis, penulis malas..karena penulis sedang berhemat dan mengajak anak juga berhemat (ah, alasan!)