5 Kue Lebaran Favorit Semasa Kecil Saat Lebaran di Pemalang 

5 Kue Lebaran Favorit Waktu Kecil dari Pemalang. Sumber Gambar Adobe Express

Be-emers, tahu nastarkan? Iya, betul, kue kering yang dibuat dari tepung terigu, protein sedang khususnya, biar pas, pati jagung, susu bubuk full cream biar enak juga, lemak (baik mentega atau pun margarin, optional), gula halus, dan kuning telur, yang diberi isian selai nanas kasar. 
 
Nah, kan jadi ngobrolin nastar?
 
Nah, Be-emers, penulis punya banyak waktu untuk bernostalgia dengan kue-kue lebaran favorit waktu penulis masih kecil nih.
 

5 Kue Lebaran Favorit Semasa Kecil Saat Lebaran di Pemalang 

5 kue lebaran favorit semasa kecil dari Pemalang, kira-kira mana yang udah kamu coba:
 

1. Nastar, Satu Kue Sejuta Cerita  

Jadi waktu penulis Sekolah Menengah Pertama (SMP) nih, kalau lebaran itu ada budaya saling mengunjungi dan stay di salah satu teman kelompok atau geng penulis. (Sama juga dengan Be-emers kan ya?) Dan salah satu tempat yang dipilih gengnya penulis adalah rumah teman penulis yang berada, yang di situ ada nastarnya. 
 
Sebenarnya semua teman penulis rata-rata berada, karena orang tua mereka para pedagang, beda dengan penulis yang waktu itu orang tua penulis jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di zaman itu. Tapi ya, tetap di tempat pilihan itulah kami berkumpul, dan ada budaya memakan kue nastar tersebut hingga hampir habis satu toples.
 
Padahal waktu itu, nastar jadi kue paling mahal di antara deretan kue lebaran yang lain. Tapi teman si empunya rumah, dan ibunya teman, sepertinya mengikhlaskan (dan mungkin senang), kalau nastarnya habis. Mungkin ya..
 

2. Jenang Tapai

Mungkin di tempat Be-emers juga ada jenang tapai. Sesuai namanya, jenang ini dibuat dari tapai, gula, dan selai nanas, dimasak hingga tanak atau kalis, dibungkus dengan kertas khusus bungkus jenang tapai, lalu dijemur selama 3-5 hari. Semakin lama semakin bagus, karena jenang tapai jadi awet.
 
Penulis kenal jenang tapai dari nenek penulis, yang ternyata ini juga dibuat oleh para orang tua seusia nenek di sekitar penulis. Dan ini seperti ikon kasih sayang nenek terhadap cucu-cucu dan anak-anaknya. 
 
Setiap kali anak dan cucu, bahkan keluarga dari luar Pemalang mudik ke Pemalang, mereka selalu mengutamakan berburu jenang tapai, mengambilnya minimal lima pieces, disimpannya, dan dimakan nanti kalau sudah habis jenang tapai yang ada di toples.

Tapi ya itu, dalam hitungan menit atau bahkan detik saja, ludes lah jenang tapai di toples tersebut. Rekor, mengalahkan roti-roti kaleng berwarna merah, yang hits waktu itu.