Kebijakan WFH Diberlakukan, Ini 7 Strategi Komunikasi untuk Meminimalisir Komflik

Strategi komunikasi saat wfh [Freepik]


Eskalasi konflik di Timur Tengah yang kian memanas nampaknya perlahan terasa di Indonesia. Terbaru, Pemerintah Indonesia mewacanakan kebijakan Work From Home (WFH) satu hari dalam seminggu setiap hari Jumat bagi ASN.

Melansir berbagai sumber, Menaker mengimbau agar kebijakan ini turut diberlakukan untuk sektor swasta. CNA.id menyebut tujuan kebijakan ini ialah menghemat konsumsi BBM hingga 20% akibat lonjakan harga minyak global.

Di samping itu sebagai langkah menekan kemacetan bagi pekerja yang berkantor di Jakarta dan sekitarnya.

Kendati demikian, kebijakan ini masih digodok dengan matang oleh pemerintah daerah. Efektivitas kebijakan ini dipertanyakan: apa korelasi gaya kerja dengan isu hemat energi?

Selain itu juga, kontra bermunculan karena dikhawatirkan mengganggu produktivitas karyawan itu sendiri.


Strategi Komunikasi Minim Konflik Saat WFH

Kalau mau tarik mundur, sebenarnya kebijakan ini lumrah. Saat wabah COVID-19 menggebrak Indonesia, saya merasakan bekerja dari rumah sampai 2 tahun lamanya.


Karena kala itu saya bekerja di perusahaan multinasional, strategi komunikasi menjadi hal yang dikedepankan. Literally, saya sempat merasakan kolega asing banyak yang trust issue dengan produktivitas orang Indonesia.

Saya masih ingat betul diberlakukan absensi tatap muka melalui zoom selama beberapa bulan, screenshot dikirimkan pada bagian Regional. Lucunya, rules ini hanya dikenakan pada tim di Indonesia :)

Belajar dari 'ketimpangan' macam ini, diperlukan strategi agar komunikasi berjalan lancar. Hal ini juga saya terapkan saat 'wfh abadi' pandemi dulu.


1. Buat Kesepakatan dengan Atasan dan Tim

Pastikan kamu dan atasan punya pemahaman yang sama tentang target kerja & deadline, juga intensitas laporan (apakah secara mingguan atau harian).

Tetapkan juga jam yang diharapkan seluruh anggota tim harus merespon segera. Hal ini supaya sama-sama enak dan meminimalisir kesan pimpinan harus bertindak micromanagement.


2. Komunikasi To the Point

Hindari chat yang terlalu panjang atau malah terlalu minim konteks. Terapkan penjelasan singkat, padat, langsung ke poinnya. Gunakan formula: 

  • Konteks: Apa yang sedang dikerjakan
  • Update: Progress saat ini
  • Next step: Langkah berikutnya
  • Blocker: Kendala (kalau ada)
Contoh:
Update project A: desain sudah 80%, revisi dari tim sudah masuk. Next: finalisasi besok. Kendala: menunggu approval budget.”


3. Tentukan Channel Komunikasi

Sinkronisasi komunikasi diperlukan, tidak mungkin semuanya numplek melalui whatsapp. Tentukan platform komunikasi untuk tujuan yang sesuai.
  • Zoom/GmeetMendiskusikan topik kompleks, weekly meeting
  • Chat: diskusi pendek atau refreshing sejenak
  • Email: dokumentasi formal yang membutuhkan bukti Attachment
  • Excel: slide dipecah untuk breakdown update task, report angka, dan lainnya
  • Google Docs; SOP, terms & conditions tugas + deadline, catatan penting
Sekarang bahkan sudah ada Notion untuk recap laporan lebih ringkas. Jangan lupa atur open access sehingga semua bisa menjangkau dokumen.


4. Berkomunikasi Secukupnya

Komunikasi memang esensial, tetapi seperlunya saja ya. Update progres secara berkala, beritahu jika ada perubahan atau delay.

Tunjukkan ownership kamu di sini, selalu libatkan diri dan proaktif. Hindari kebiasaan menunggu ditanya dulu.