Pengin Jadi Ghostwriter? Ini Cara Upgrade Jadi Penulis yang Pandai Ungkap Karakter

Webinar bersama Tendi Murti dan KMO Indonesia, sumber gambar: screenshot webinar dan editing pribadi


Sebagai orang yang berkecimpung di dunia kepenulisan, atau paling tidak suka membaca maupun hobi literasi, kamu mungkin tahu tentang istilah ghostwriter

Bila dilihat dari dua kata yang menyusunnya, ada kata ghost yang berarti hantu dan writer yang berarti penulis. Lho, Mas, apakah ini hantu yang menulis, menulis tentang hantu, ataukah hantu yang diajari membaca dan menulis?  

Yap, kalau dilihat saklek begitu, memang ada bisa dikaitkan dengan hantu yang sering menjadi konsumsi untuk film horor itu.

Misalnya: kuntilanak, genderuwo, tuyul, maupun hantu pocong. Kalau pocong yang disukai ibu-ibu rumah tangga pastilah pocongan harga. 


Ada Sesuatu yang Tidak Terlihat di Dunia Ini

Seorang ghostwriter dapat dipahami maknanya sebagai penulis yang tidak terlihat. Ini mungkin melawan suatu persepsi dalam dunia kepenulisan bahwa seorang penulis itu terlihat namanya. 

Lebih keren lagi jika terpampang namanya di halaman depan sebuah buku dan buku tersebut terpajang di toko buku besar, seperti Gramedia. 


Namun, saya menemukan persepsi lain yang selama ini saya tidak banyak tahu, bahwa dunia ghostwriter ini bisa sedemikian menarik, dan bisa menjadi peluang baru sekaligus besar bagi seorang penulis. 

Hal itu diungkapkan dalam sebuah webinar melalui media Zoom Meeting oleh seorang penulis profesional, terkenal, dan praktisi ghostwriter juga, yaitu: Tendi Murti. Saya bisa memanggilnya "Kang" maupun "Mas". Terasa lebih akrab saja. 

Webinar yang disponsori KMO Indonesia tersebut berlangsung kemarin, Rabu (8/4/2026), mulai pukul 19.30 WIB. Berarti, kalau di tempat saya jam 20.30 WITA. Saya memakai WiFi di dalam rumah, sehingga lebih lancar dan hemat. Mohon maaf, saya tidak bisa ungkapkan di sini passwordnya. Soalnya, jauh juga 'kan? 

Pertemuan webinar itu memang berbayar. Bukan gratis. Awalnya ada early bird dengan biaya yang lebih murah. Namun, karena di situ kata early bird, ada kata bird dan saya memang tidak memelihara burung di rumah, maka malah saya lewatkan.

Akhirnya, saya membayar sedikit lebih mahal, tetapi tidak apa-apalah. Selalu biaya yang seperti ini bisa dianggap investasi atau ongkos belajar. Bukankah ilmu yang berkualitas itu memang tidak gratis? 

Dalam awal penyampaiannya, mulai dikenalkan tentang ghostwriter ini. Seorang penulis yang tidak terlihat, tetapi menulis untuk orang lain. 

Kita pasti tahu bahwa tokoh-tokoh besar itu selalu sangat sibuk. Apakah sibuk ini untuk perempuan dan untuk laki-laki disebut sipak? Oh, ini tidak ada kaitannya. 

Tokoh-tokoh besar, terkenal, public figure, selalu ingin diingat orang. Makanya, mereka berusaha untuk menampilkan diri sesering mungkin agar namanya tidak hilang dalam peredaran. 

Mereka membuat media sosial khusus, bahkan sampai centang biru, membuat konten berupa video, ikut podcast, hadir di seminar menjadi narasumber, maupun gerakan sosial keagamaan, seperti donasi sedekah Jum'at atau sedekah buka puasa bersama di Ramadan yang lalu. 

Ketika mereka membuat suatu acara, kegiatan, even yang melibatkan banyak orang, harapannya bisa disebarluaskan dan semakin mengangkat nama tokoh-tokoh tersebut. 

Namun, jika seperti itu saja modelnya, bisa jadi masih sangat kurang. Maka, ada satu cara yang terlihat intelek, formal, dan kesannya itu bukan tokoh yang kaleng-kaleng. Entah, di rumahnya ada berapa kaleng biskuit yang isinya benar-benar biskuit, bukan rengginang apalagi peyek. 


Buku Sebagai "Kartu Nama" Intelektual

Sebuah buku dapat dikatakan sebagai kartu nama. Yap, persepsi kita tentang kartu nama ini adalah sebuah lembaran kertas kecil, agak tebal, seukuran KTP, berisi nama, alamat, nomor kontak, mungkin juga dipasang foto si tokoh. 

Okelah, kartu nama itu bisa menjadi identitas seorang tokoh, tetapi apakah itu cukup untuk mengungkapkan visi, misi, pemikiran, ide-ide cerdas, maupun sumbangsih berupa konsep dan teori untuk negara ini misalnya? 

Ternyata, tidak. Yap, jawabannya memang tidak. Kartu nama cuma sebatas kartu begitu. Namun, bandingkan jika kartu nama tersebut berbentuk buku. Sebuah buku cetak, tertulis nama si tokoh, fotonya, dan bisa dibaca lembar per lembar. 

Kalau seperti itu bentuknya, maka yang menerima buku tersebut bisa mengenal si tokoh lebih jauh. Dia bisa melihat sejarah si tokoh.

Perjuangannya dalam meniti kesuksesan, suka dukanya, dan mungkin sampai rencana-rencana ke depannya. Ya, tidak mungkin, lah, rencana-rencana ke belakangnya. 

Jadi, di situlah peran seorang ghostwriter. Perannya memang mulia, jika tokoh tersebut adalah public figure yang dikenal masyarakat sebagai tokoh agama, panutan, dan sudah sering memberikan ilmu yang baik.