Ilustrasi merencanakan tabungan dan dana darurat (Sumber : Freepik)
Dana darurat jadi hal penting yang harus kamu siapkan. Apalagi di tengah situasi global yang belum pasti. Terbaru, negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat juga buntu. Hal ini menambah gejolak situasi global yang makin tak menentu.
Belum lagi jika kamu menghadapi beberapa hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. Contohnya adalah tiba-tiba ban bocor di tanggal tua. Atau handphone rusak tapi di tanggal tua.
Persoalan itu tentu di luar prediksi. Nah salah satu solusi andalannya adalah ketersediaan dana darurat. Kamu perlu menyiapkannya dari sekarang.
Dana darurat adalah uangmu yang sengaja kamu sisihkan untuk keperluan khusus dan tak terduga. Kalau dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) biasa disebut sebagai Anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT). Jadi dana darurat ini seperti sekoci keuangan. Tapi bukan duit yang disiapkan untuk beli barang-barang impian tertentu.
Kamu bisa memulainya dari sekarang. Kamu juga tak perlu khawatir dengan nominal. Yang penting berani memulainya meski dengan jumlah yang kecil.
Berapa sih Jumlah Ideal Dana Darurat?
Pertanyaan selanjutnya adalah berapa jumlah dana darurat yang perlu kamu siapkan. Besaran dana itu juga memperhatikan kondisi kamu. Mulai dari situasi saat masih single, sudah menikah hingga situasi saat sudah punya anak.Kebutuhan dana darurat saat single tentu beda dengan ketika sudah punya anak. Karena potensi kebutuhannya juga besar.
Kamu bisa membuat perkiraan seperti ini. Ketika single kamu bisa menyiapkannya sekitar 3 kali pengeluaran bulananmu. Lalu saat sudah menikah bisa di angka sekitar 6 kali pengeluaran bulanan.
Kemudian ketika sudah punya anak juga butuh dana darurat lebih besar. Bisa sekitar 9 kali pengeluaran bulananmu.
4 Tips Mengumpulkan Dana Darurat
Berikut adalah tips mengumpulkan dana darurta yang bisa kamu coba supaya enggak boncos dan terarah:
1. Catat Pengeluaran
Pertama kamu bisa memulai dari hal sederhana. Yakni dengan mencatat seluruh pengeluarannmu. Itu untuk memonitor kemana laju uangmu dalam sebulan.Misalnya ternyata banyak keluar untuk cek out barang-barang belum urgent. Atau kebanyakan untuk ke cafe.
Dari situ kamu bisa mengaudit dan menganalisa. Pos anggaran mana yang bisa dihemat atau dipangkas. Itu bisa dialokasikan untuk dana darurat.
2. Autodebet
Agar lebih praktis dan tidak lupa, kamu bisa membuat sistem autodebet. Hal ini secara tidak langsung memaksa kamu untuk menyisihkan dana darurat.Karena kalau tidak dipaksa bisa lupa. Atau terlanjur habis untuk belanja-belanja barang tertentu. Kamu bisa menentukannya sejak awal bulan. Misalnya berapa persen dari gaji yang dibuat autodebet.
3. Mudah Dicairkan
Setelah menghitung dan siap mengalokasikan, kamu juga perlu mempertimbangkan metode penyimpanan yang tepat. Dana darurat perlu keluar saat situasi darurat.Artinya cara pencairannya juga perlu dilakukan dengan cara yang tidak rumit alias mudah dicairkan. Jangan sampai saat situasi genting terjadi, tapi dana malah tidak bisa dikeluarkan.
Kamu bisa memilih beberapa alternatif penyimpanan. Misalnya dengan Reksadana Pasar Uang atau tabungan tanpa admin.
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.