Hentikan Pelecehan Seksual! Inilah 5 Hal untuk Menciptakan Ruang Aman Bagi Perempuan

Menciptakan ruang aman bagi perempuan (Sumber gambar: Freepik.com)


Satu unggahan seorang teman di Instagram Story miliknya menyentil penulis atas kasus yang saat ini marak dibicarakan.

Ya, pelecehan seksual. Kurang lebih postingan carousel yang bersumber dari @ministry_of _non_issues  berisi tulisan sebagai berikut.

gradually realized why female ghost walk alone on the streets late at night, as that's something you can't do while you're alive.

Ironi. Perempuan seolah tidak memiliki ruang aman saat di luar rumah. Perempuan rawan menjadi korban kejahatan, terlebih di malam hari. Masyarakat pun mengamini hal tersebut sehingga mencegah para perempuan agar tidak keluar rumah.

Selain jam malam, perempuan juga dituntut untuk berpenampilan yang tidak mengundang syahwat lelaki. Namun, kenyataannya, pelaku pelecehan tidak memandang bagaimana pakaian perempuan tersebut.

Suatu pameran tahun 2018 di Brussels, Belgia, yang diinisiasi oleh organisasi CAW East Brabant menunjukkan fakta bahwa pakaian yang dikenakan korban pelecehan tergolong dalam batas wajar. Terlebih, dalam pameran itu terdapat baju bertuliskan My Little Pony yang tentunya bukan milik wanita dewasa.

Lalu apa yang harus perempuan lakukan? Bagaimana nasib pekerja perempuan yang dituntut bekerja di shift malamnya, bagaimana mencegah siulan yang mengiringi perempuan saat berjalan melewati sekumpulan pria, dan apa yang seharusnya perempuan kenakan jika pakaian yang 'menutup' tidak cukup untuk mencegahnya dari pelecehan?

 

5 Hal untuk Menciptakan Ruang Aman bagi Permpuan 

Pada artikel ini, penulis akan memberikan opini agar perempuan mendapatkan ruang yang aman di ruang publik, sehingga perempuan dapat lebih bebas dalam mengekspresikan diri.


Berikut beberapa poin yang penulis sarankan bagi berbagai kalangan, baik pria, pembuat kebijakan, maupun masyarakat pada umumnya.


1. Ubah Mindset

Perasaan malu dan takut menjadikan korban pelecehan sulit untuk bangkit dan melanjutkan hidup.

Maka, pemikiran di masyarakat yang berorientasi untuk menghakimi korban perlu diperbaiki. Seperti menyalahkan pakaian yang dikenakan, waktu dan tempat terjadinya pelecehan, serta hal-hal lain yang menyudutkan posisi korban.

Memandang korban pelecehan sebagai korban dan pelaku pelecehan sebagai pelaku kejahatan dapat membantu korban mengembalikan rasa percaya dirinya. 

Banyak orang yang berpegang pada dalil agama tentang kewajiban perempuan untuk menutup auratnya. Namun, melupakan dalil yang memerintahkan manusia untuk menundukkan pandangan. 

Menundukkan pandangan bukan secara harfiah menatap tanah. Namun, lebih pada kondisi saat manusia bisa menjaga diri dari memandang hal yang tidak diperbolehkan.

Jika kombinasi hal tersebut benar-benar diterapkan dalam kehidupan, maka bukan mustahil jika kasus pelecehan terhadap perempuan dapat berkurang.

 

2. Adanya Pengawasan 

Pembuat kebijakan perlu mempertegas penegakan hukum. Salah satunya melalui tindakan preventif seperti adanya pengawasan di ruang publik. 

Salah satu cara yang bisa diterapkan yaitu adanya petugas berwajib yang berpatroli di ruang publik, terlebih di daerah yang sepi dan rawan di malam hari.

Tindakan ini akan menciptakan rasa aman bagi perempuan yang harus keluar sendiri karena adanya petugas yang berjaga di ruang publik.

 

3. Platform Pengaduan

Selain pengawasan langsung, adanya layanan platform pengaduan yang mumpuni dapat membantu memperkuat rasa aman bagi perempuan.

Perempuan akan tahu ke mana harus mengadukan pelecehan yang mungkin terjadi padanya atau pada orang di sekitarnya. Platform ini dapat berupa call center yang juga dapat terhubung dengan pihak berwajib di daerah sekitar tempat kejadian.