Lawan Budaya Pelecehan Seksual (Sumber: Freepik.com dan Canva)
Tidak henti-hentinya permasalahan pelecehan seksual masih menghantui lingkungan sosial kita, terutama bagi perempuan.
Dari ruang publik, tempat kerja, kampus, sampai transportasi umum, perempuan masih sering dihadapkan dengan rasa tidak aman yang seharusnya tidak perlu menjadi bagian dari keseharian mereka.
Banyak bentuk pelecehan seksual yang justru berawal dari sesuatu yang sering diremehkan, seperti komentar terhadap bagian tubuh tertentu, atau candaan yang menjadikan perempuan sebagai objek seksual.
Menjadi perempuan memang tidak selalu mudah. Banyak rintangan yang harus dihadapi oleh mereka, bahkan hal-hal kecil yang seharusnya normal untuk dilakukan menjadi sebuah perilaku negatif di mata lingkungan.
Misalnya, saat perempuan harus menggunakan pakaian tertutup agar tidak disangka menggoda lawan jenis hingga harus waspada saat pulang malam.
Beban ini sering kali datang bukan karena perempuan melakukan kesalahan, tetapi karena lingkungan sekitar menormalisasikan perilaku negatif tersebut kepada perempuan dan masih belum sadar akan pentingnya menghormati batasan.
Candaan Seksis Jadi Akar Pelecehan Seksual
Salah satu akar masalahnya adalah budaya yang masih menormalisasikan perilaku yang merendahkan perempuan.Candaan seksis, objektifikasi perempuan, hingga mengungkapkan “namanya juga anak laki-laki” menjadikan yang kelihatannya “cuma bercanda” membuat pelecehan dianggap wajar untuk dilakukan.
Sumber: 11thPrincipleconsent.org
Hal ini sering digambarkan dalam ilustrasi piramida Rape Culture, di mana tindakan semacam kekerasan seksual berawal dari normalisasi perilaku kecil hingga berkembang menjadi sesuatu yang berbahaya dan mematikan.
Karena itu, kita justru harus mengubah perilaku negatif tersebut karena candaan yang menjadikan tubuh perempuan sebagai bahan tertawaan bukan sesuatu boleh dilakukan.
Hal-hal seperti ini bisa semakin memperkuat cara pandang bahwa perempuan bisa dijadikan objek, bukan individu yang dihormati.
Be-emers, kalau perilaku ini semakin sering dinormalisasi, semakin besar ruang bagi perilaku yang lebih berbahaya untuk tumbuh di lingkungan kita.
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.