Membaca label gizi sebelum membeli [Freepik]
Tujuannya mulia: menekan prevalensi penyakit degeneratif akibat mengonsumsi garam, gula, dan lemak (GGL) berlebihan yang kian menambah beban BPJS. Contoh diabetes mellitus, hipertensi, dan lainnya.
Yang patut disoroti, implementasinya masih bersifat sukarela. Dengan kata lain, kalau ada brand yang memilih tidak mencantumkan ya tidak masalah.
Fenomena berikutnya yang menjadi pertanyaan: apakah orang Indonesia pasti membaca label gizi sebelum membeli?
Label Gizi di Kemasan: Benar Dibaca?
Seorang ibu menimbang dua botol minuman di supermarket. Satu berwarna cerah dengan tulisan sarat janji “rendah gula”. Botol satu lagi terlihat lebih “premium” dengan desain minimalis. Ia berpikir: mana yang lebih sehat?
Botol dibalik, terlihat tabel kecil penuh angka dengan tulisan imut pula. Ada juga persentase. Jangan lupakan ragam istilah yang dulu kita pelajari zaman SMA: lemak total, natrium, %AKG. Bikin puyeng. Apa pula itu AKG?
Endingnya, si ibu memilih minuman yang selama ini familier di kalangan keluarga. Alasannya praktis: rasanya enak. Produk dipilih bukan karena tabel supercanggih pemerintah, apalagi mikirin gizi. Mana yang enak, apalagi ada promo buy 1 get 1 itu yang dibawa ke kasir.
Sebagai lulusan IPA saat SMA, saya rajin membaca nutri level. Saya rela menghabiskan waktu lama di depan rak, membandingkan antar produk: yang mana yang gulanya lebih rendah, ada gizi apa saja, apakah kandungan pengawetnya berada di urutan atas.
Tapi, tidak semua orang sempat (atau mau) melakukan itu. Kala pergi ke supermarket, orang mau satset. Bahkan seringkali impulsif, membeli berdasarkan emosional belaka.
Padahal sejujurnya, label gizi pemerintah kita terbilang lengkap. Negara hadir melalui kemasan makanan dan minuman. Sayangnya, tabel mungil itu belum sepenuhnya mengarahkan pembeli untuk berpikir.
Kendati informatif, label buatan BPOM ini terlalu kaku dan 'medis' banget. Kalau pembelinya dokter tidak masalah, bayangkan kalau yang belanja orang awam yang tidak ingin ambil pusing menerjemahkan istilah gizi.
Saya pun iseng riset perbandingan kemasan produk negara lain yang menurut saya lebih engaging & customer friendly.
Prancis mengemas nutri levelnya bak rapor makanan. Terdapat skor A-E yang ditandai warna hijau menuju merah. Mirip sistem ranking di kelas. Cukup lihat warna, orang sudah tahu mana produk yang gizinya lebih ramah tubuh.
Beranjak ke tetangganya, Inggris yang label gizinya mirip lampu lalu lintas. Warna merah menandakan si produk tinggi gula/lemak, jika hijau berarti rendah kandungan gulanya. Begitu mengambil dari rak, pembeli tidak butuh waktu lama untuk memutuskan.
Australia dan New Zealand lebih oke lagi, nutri level tampil layaknya sahabat belanja. Ada rating kesehatan mulai 0,5 - 5. Semakin tinggi rating berarti makanan semakin sehat. Sederhana dan logis.
Erinintyani Shabrina Ramadhini
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.