Hari Kartini 2026, Emansipasi dan Kesetaraan Gender, Bersama Produk Fashion Busana Muslimah dari Womenwear
Hari ini, tanggal 21 April diperingati sebagai hari apa hayo? Yap, tanggal 21 April diperingati sebagai hari Selasa! Tepat sekali jawabannya!
Mengacu kepada sejarah yang sering diungkit dalam pendidikan di negara ini, tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Mengapa ada Hari Kartini, tetapi tidak ada Hari Kartono? Yo, ndak tahu, kok tanya saya? Hem.
Kalau dikaitkan dengan Hari Kartini, maka selalu yang terbayang adalah emansipasi wanita. Kata "emansipasi" sering sekali diplesetkan menjadi "emansisapi". Pertanyaannya, apakah Kang Eman memang punya sapi?
Ketika bicara emansipasi wanita, maka ada kaitannya juga dengan kesetaraan gender. Perempuan harus setara dengan laki-laki, begitu 'kan maksudnya?
Apa itu Kesetaraan Gender?
Namun, apa sih sebenarnya kesetaraan itu? Apakah perempuan benar-benar menjadi laki-laki dan mengambil hidupnya laki-laki?Misalnya, perempuan itu mencangkul di sawah, membajak sawah dengan naik kerbau? Atau menjadi kuli bangunan. Padahal kuli ini biasanya dilakukan oleh mahasiswa. Itu contohnya, mahasiswa dan mahasiswi tiap hari kuliah. Kuli juga bukan? ,
Selain itu, apakah perempuan harus menjadi tukang batu dengan mengangkat semen langsung dua sak? Kalau dua sak, berarti sak-sak. Kalau tiga sak, berarti sak, sak, sak.
Apakah seperti itu logika kesetaraan gender? Jika bicara tentang kesetaraan absolut, maka profesi seberat apapun yang dilakukan oleh laki-laki, harus bisa dijalankan juga oleh perempuan.
Padahal, kesetaraan gender ini sebenarnya sudah terjadi sejak lama, tanpa mengganggu tugas dan fungsi masing-masing. Laki-laki selalu bekerja lebih berat karena fisiknya memang mendukung. Tenaga laki-laki lebih kuat.
Laki-laki yang berotot itu biasa. Laki-laki kekar juga biasa. Sixpack pun oke pada diri laki-laki, meskipun banyak sekali yang onepack alias buncit. Hem, terdengar seperti nama sejenis sayur, ya?
Bandingkan dengan perempuan. Ketika ada perempuan yang berotot dan kekar, kok rasanya jadi tidak biasa. Begitu juga 'kan yang ada di pikiranmu? Atau pikiranmu sekarang masih seputar utang? Walah.
Jika ada perempuan seperti itu, yang kekar, berotot, dan sixpack, mungkin akan kasihan suaminya. Dia tidak akan berani macam-macam kepada istrinya. Kalau sampai istrinya marah, tinggal sentil pakai kelingking, mungkin langsung berdarah muka suaminya. Wuih, kuatnya!
Menunjukkan Taring Sebagai Kartini Modern: Kesetaraan Versus Kodrat
Kesetaraan gender ketika perempuan mau betul-betul menjadi laki-laki, jelas tidak tepat. Perempuan punya kodrat, sedangkan Matematika punya materi tentang kuadrat. Dan, dunia gaib punya yang namanya kualat. Konsep kesetaraan gender perlu dikaitkan dengan Kartini di zaman sekarang. Dalam era ini, Kartini modern punya cara yang berbeda dalam mengungkapkan jati diri. Perempuan sekarang mesti menampilkan kecerdasan, prinsip, dan cara membawa diri.
Kesetaraan gender yang tepat bukan berarti menghapus jati diri atau kodrat sebagai seorang perempuan hingga akhirnya betul-betul menjadi laki-laki.
Perempuan yang setara itu pada dasarnya adalah yang punya kendali penuh atas dirinya, atas jiwanya, atas tubuhnya, secara mandiri, tanpa harus melibatkan nama bank lain.
Selain itu, perempuan Kartini modern juga punya kendali untuk tetap santun. Menjaga mulutnya secara lisan maupun tulisan. Termasuk dalam hal ini tidak sembarangan menggosip. Kalau mau menggosip, izin dulu ke orangnya yang mau digosipkan. Lebih sopan dan beradab bukan?
Tambah lagi, perempuan yang pandai dalam menutup dan menjaga auratnya, serta bisa menjaga kehormatan diri sesuai dengan syariat.
Apakah kesetaraan gender ini ada hubungannya dengan berpakaian juga? Sebelum membahas itu, pada kata "kesetaraan" memang mengungkapkan tentang kebebasan bagi perempuan untuk memilih jalan hidup.
Layaknya laki-laki yang biasanya juga bebas dalam menjalani hidupnya, perempuan dapat diberikan hak yang sama. Namun, berbekal kesetaraan gender tersebut, tidak semua perempuan pandai dalam memilih.
Tidak semua perempuan berada di jalur yang tepat. Banyak yang salah pilih. Salah memilah yang akhirnya jadi salah memilih. Pada akhirnya, perempuan bisa mengalami derita, meskipun namanya memang benar-benar Rita. Ini adalah nama kerabat bulek saya di Kendari. Sekadar info saja, sih, siapa tahu tidak penting, ya 'kan?
Ketika menerapkan kesetaraan gender, perempuan dapat memilih untuk memperbaiki penampilan. Apa artinya? Ini bukan berarti dandan berlebihan untuk orang lain.
Misalnya memakai bedak yang cukup tebal, ketika dilihat dari samping, rupanya ketebalan bedaknya mencapai 6 sentimeter! Atau memakai lipstik yang menyerap semua warna merah di muka bumi ini. Wah, wah, wah!
Memperbaiki penampilan yang dimaksud di sini adalah dengan memilih berpenampilan dan berpakaian Islami. Penampilan Islami itu justru memberikan sinyal kepada dunia bahwa perempuan tersebut punya standar yang tinggi.
Artinya yang menetapkan standar tersebut adalah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Adakah standar yang lebih tinggi lagi? Tentunya tidak ada. Ditambah dengan prinsip syariat yang tidak tergoyahkan.
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.