Peluang bisnis di tengah krisis [Freepik]
Mulai dari krisis finansial 1998, krisis keuangan global 2008 yang sempat membuat pasar kolaps, pandemi COVID-19, hingga perang AS - Israel versus Iran yang semakin memanas entah sampai kapan.
Konflik ini disertai ancaman Perang Dunia 3 yang membuat kalut. Belum lagi quarter life crisis karena tante bawel yang terus memberondong kekepoannya kenapa keponakannya belum menikah juga.
Kata krisis identik dengan situasi menakutkan. Daya beli menurun, ketidakpastian ekonomi meningkat, banyak bisnis terpaksa gulung tikar. Namun, kalau jeli sebenarnya banyak peluang yang justru mendatangkan cuan.
Peluang Bisnis di Tengah Krisis yang Patut Dilirik
1. Dagang Kebutuhan Pokok
Kamu bisa memulainya bahkan dari teras rumah. Jadikan teras kubikel kecil untuk menjajakan berbagai kebutuhan rumah tangga. Beras, telur, gula, mi instan, juga sandal jepit pasti laku dan tetap dicari.
2. Katering Rumahan
Jika harga kebutuhan pokok serba mahal, tak menutup kemungkinan orang akan berpikir untuk memesan katering saja. Harganya terjangkau, praktis utamanya untuk orang yang bekerja sehingga tak sempat memasak.
Kamu juga bisa menawarkan sistem langganan menu mingguan atau bulanan yang variatif. Hal ini akan membantu menjaga pemasukan tetap stabil.
3. Usaha Laundry Kiloan
4. Barang Preloved
Bisa baju, buku second, atau barang elektronik yang tentunya masih layak pakai. Untuk menambah kesan premium, menangkan produk second kamu dengan kemasan menarik.
5. Jasa Servis
- Servis alat elektronik (HP, laptop, TV)
- Bengkel kecil di garasi rumah
- Reparasi alat rumah tangga (mesin cuci, pipa, paralon bocor, dan sejenisnya)
6. Agen Gas LPG & Air Galon
Jasa agen lain yang dapat dipertimbangkan:
- Agen pulsa elektronik, kuota internet, paket data
- Voucher token listrik
- Tiket transportasi bekerja sama dengan mitra (tiket bus, pesawat, kendaraan travel, dan lainnya)
- Jualan frozen food aneka jenis (dimsum, pangsit, chicken nugget, dan sejenisnya)
- Kemitraan dengan agen pengiriman paket (drop point) karena peningkatan tren belanja online.
Erinintyani Shabrina Ramadhini
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.