Hari Kartini dan Kebaya

Salah satu peringatan Hari Kartini. Sumber: Bisnis Indonesia


Setiap 21 April kita memeringati Hari Kartini. Tapi kenapa perayaan pejuang emansipasi ini malah diwarnai dengan bumbu pakaian tradisional Indonesia?

Pada Senin (20/4/2026) malam, wali kelas anak saya mengingatkan para orang tua murid di grup whatsapp agar anak-anak mengenakan pakaian tradisional untuk memeringati Hari Kartini. Putra saya memutuskan untuk mengenakan pakaian tradisional Betawi.

Pada malam itu, menjelang tidur, saya mengajukan pertanyaan kepada anak saya. “Kenapa Hari Kartini diperingati dengan mengenakan pakaian tradisional? Kenapa para Perempuan mengenakan kebaya?

Dia terdiam lalu membuka kedua telapak tangannya dan menggerakan tangan setinggi dada, tanda tidak menemukan jawaban.

Perlahan saya memberikan gambaran umum perjuangan Kartini. Perempuan kelahiran Jepara, Jawa Tengah itu memperjuangkan emansipasi atau persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan.


“Dulu pada zaman Kartini, tidak semua perempuan bisa mengenyam pendidikan yang tinggi. Perempuan mana yang mengenyam pendidikan, tentunya dia berasal dari kalangan bangsawan atau berada,” papar saya.

Saya lalu menjelaskan bahwa ketika melihat ketimpangan itu, Kartini kemudian berpikir dia harus melakukan sesuatu. Sejarah kemudian mencatat, dia lalu membuka sekolah dengan harapan bisa memberikan bekal pengetahuan bagi kaum perempuan.

“Jadi aneh kan kalau Hari Kartini dirayakan dengan memakai pakaian tradisional? Apa kaitannya dengan perjuangan Kartini?,” tanya saya. Saya tidak berharap pertanyaan itu dijawab oleh anak saya. Biarlah pertanyaan itu menggantung di benak dia dan harapan saya, bisa mengasah daya kritisnya.


Orde Baru Membungkam

Sejatinya upaya mereduksi Hari Kartini dengan busana kebaya adalah kreasi Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto.

Menurut Tria Kuncoro, jurnalis yang saat ini menjadi Duta Besar Indonesia untuk Tahta Suci Vatikan, pada era itu, kebaya digunakan oleh politik Orde Baru sebagai tanda kelas menengah dan/atau keluarga pegawai.

Menurutnya sebagaimana dikutip dari Rmol, kebaya dengan warna tertentu biasanya digunakan sebagai dress code organisasi-organisasi perempuan yang menjadi mesin politik Orde Baru, seperti PKK dan Dharma Wanita.

Pada masa-masa itu perjuangan Kartini dalam emansipasi perempuan di Indonesia kemudian mengalami reduksi hingga ke titik nadir. Perjuangan luar biasa Kartini untuk patriarki dan sistem feodal yang mengekang kaum perempuan malah disederhanakan menjadi Kebaya Kartini semata.

Di masa Orde Baru pula perayaan Kartini dimeriahkan dengan berbagai lomba yang menonjolkan peran domestik perempuan, yang tidak jauh-jauh dari memasak di dapur, berdandan di depan cermin dan melayani suami di ranjang.

Karena itulah, kelompok-kelompok perempuan progresif atau dari kalangan feminis ketika itu menolak kebaya dengan seluruh tafsir pemerintah atau negara. Dengan sendirinya mereka menolak kebaya dan dianggap sebagai bentuk pembodohan perempuan dan penindasan, lantaran upaya reduksi Orde Baru tersebut.