Label Nutrisi di Kemasan Makanan: Membantu atau Sekedar Tempelan?

Memilih minuman di supermarket (Sumber: Freepik)


Suatu malam sepulang kerja, saya berdiri cukup lama di depan rak minuman di supermarket dekat dengan kantor. 

Tangan saya memegang dua botol minuman rasa dingin. Yang satu tampil dengan warna cerah dan tulisan besar seperti “less sugar” dan “vitamin C tinggi”.

Yang satu lagi terlihat lebih sederhana, tapi ada label kecil di bagian depan kemasannya: Nutri-Level B.

Saya sempat diam beberapa detik.

“Ini sebenarnya lebih sehat, atau cuma strategi marketing baru ya?”


Akhirnya saya tetap membeli minuman yang biasa saya pilih. Bukan karena yakin itu lebih baik, tapi karena bingung membaca semua informasi di kemasan.

Dan ternyata, banyak orang ada di posisi yang sama.
 

Informasi Nutrisi Terasa Rumit

Selama ini informasi gizi sebenarnya sudah selalu ada di makanan dan minuman kemasan.

Tapi masalahnya, letaknya sering di belakang botol dengan tulisan kecil penuh angka energi total, gula, lemak, natrium, persen AKG, dan istilah teknis lainnya.

Padahal saat belanja, kebanyakan orang tidak punya waktu lama untuk membaca detail seperti itu.

Di supermarket, keputusan sering dibuat hanya dalam beberapa detik. Dalam kasus saya, saat sedang haus, buru-buru, atau sekadar ingin minuman dingin yang terlihat enak.

Akhirnya, saya hanya membeli berdasarkan warna kemasan, iklan tulisan “lebih sehat”, atau karena ikut-ikutan teman. 

Bukan berdasarkan kandungan gizinya.

Di situlah konsep Nutri-Level mulai terasa menarik.