Makanan sehat (Sumber: Freepik)
Saat libur Iduladha kali ini, kulkas apartemen saya tiba-tiba terasa jauh lebih penuh dari biasanya.
Bukan karena sengaja belanja banyak, tapi karena satu per satu kiriman makanan mulai datang.
Ada tetangga yang mengirim semangkuk gulai hangat di sore hari. Ada teman kantor yang datang membawa sate lengkap dengan lontong.
Lalu malamnya, teman dekat mengirim olahan daging yang masih panas sambil berkata, “Cobain ya, baru masak tadi.”
Lucunya, setiap rumah selalu punya rasa dan cara memasak yang berbeda. Ada yang kuahnya ringan dan gurih. Ada yang bumbunya kuat dan pedas.
Ada juga yang sederhana tapi justru terasa paling nyaman dimakan.
Dari makanan-makanan itu, rasanya seperti bisa melihat karakter setiap keluarga lewat cara mereka mengolah dan membagikan makanan.
Dan mungkin itu salah satu hal yang paling terasa saat Iduladha: makanan bukan cuma soal makan. Tapi juga soal perhatian dan kebersamaan.
Di tengah hidup yang sekarang serba cepat dan individual, menerima kiriman makanan kecil seperti itu tiba-tiba terasa hangat sekali.
Ada rasa bahwa orang-orang masih saling mengingat satu sama lain lewat hal sederhana.
Menariknya, semakin bertambah usia, momen seperti ini justru terasa lebih berarti dibanding kemewahan lain.
Tapi sekarang, saya mulai mencoba menikmatinya perlahan dan lebih moderate.
Tetap makan daging, tapi porsinya dijaga. Biasanya diimbangi sayur, buah, dan air putih lebih banyak supaya tubuh tetap terasa nyaman.
Tulis Komentar
Anda harus Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.